Mengingat Lewat Tulisan

Seharusnya gue belajar, karena minggu depan gue akan ujian lisan. Tadi siang seharian melawan ngantuk sambil belajar, karena gue sudah bangun dari jam lima di tempat kerja. Begitu kantuk hilang, gue malah iseng buka blog. Iseng mau nulis tentang kata-kata kunci dari Google yang masuk ke blog gue. Lalu iseng baca lagi tulisan-tulisan sejak sampai di Jerman. Sampai akhirnya gue terbawa suasana dan menghabiskan waktu tiga jam terakhir membaca semua itu.

Gue tau gue puitis dan romantis. Halah. Gue baca lagi beberapa tulisan yang bisa menjadi argumen gue untuk pendapatan gue tentang diri sendiri itu. Pernah di suatu masa, gue selalu mengirimkan tulisan super pendek ke orang yang bersama gue saat itu, sore ini gue teringat jawaban dia: “du bist meine kleine Poetin”. Kamu penulis puisi.

Baca tulisan-tulisan lama ternyata bisa membuat gue galau sendiri. Aneh ya, gue yang nulis tapi gue yang tersihir sendiri sampai galau. Selain itu gue juga galau, karena banyak hal indah di masa lalu yang tidak bisa gue kembalikan di masa sekarang dan/atau masa depan. Gue sering menulis tentang Papah di tahun 2014. Ada sebuah dan beberapa tulisan tentang Beliau yang tidak berani gue baca ulang sampai sekarang, karena  gue tau, begitu gue “berani” membacanya, gue akan remuk redam sendirian. Dari beberapa tulisan yang saya tulis tentang Beliau, gue hanya membaca beberapa, salah satunya adalah tentang bubur yang selalu Beliau beli untuk anak-anaknya kalau salah satu kami ada yang sakit. Tulisan dari tahun pertama gue di Jerman itu mampu membuat hati gue sesak dan mata gue panas. Ich vermisse Dich, soooo sehr, Pah!

Ada tulisan yang membuat gue mau ketawa kencang, tapi tidak mungkin, karena gue sedang di perpustakaan. Tulisan tentang percakapan random dengan di mantan pacar. Kok dulu seru banget ya sama dia. Dan gue menghayati banget, sampai selain tulisan tentang percakapan random itu, juga banyak tulisan berbau-bau cinta yang katanya manis. Atau tulisan tentang gue saat putus dari dia saat itu. Gilanya, gue masih menulis tentang dia sampai tiga tahun lalu. Betah amat, Jeng.

Selain dia, gue bisa mengidentifikasikan orang-orang lain yang gue tulis puitis di sana. Gue suka sekali dengan metafora dan itu gue tampilkan sebanyak-banyaknya di setiap tulisan gue. Kadang gue sendiri bingung dengan yang gue tulis. Memang ada tiga tipe metafora, salah satunya adalah metafora pribadi, contohnya ya yang gue gunakan di setiap tulisan gue. Kalau gue mengerti metafora-metafora tersebut, biasanya gue akan ingat kembali apa yang gue rasakan dan pikirkan saat gue membuatnya. Kok bisa ya gue menyambungkan semuanya.

Saat membaca ulang, gue terkadang takjub sendiri. Kok bisa ya gue menulis bagus kaya gitu. Bukan sombong, bukaaaaannn, tapi lebih ke heran. Apa lagi melihat gue sekarang yang sudah maaaalaaass sekali untuk menulis. Okay, bukan malas sih, tapi ga ada waktu dan ga ada ide. Dan gue merasa tulisan gue engga sebagus dahulu lagi. Garing banget sekarang, itu lagi itu lagi kata yang gue gunakan. Metafora juga tidak sebanyak dan sebadai dahulu. Mungkin ini terjadi karena gue sedang tidak jatuh cinta dan tidak sedang patah hati? Karena biasanya mereka itu menjadi alasan terbesar gue nulis puitis. Berarti gue ga ada bakat untuk jadi penulis, ya?

Gue bikin blog untuk menyimpan kenangan untuk diri sendiri. Dan hari ini gue membuktikannya. Gue seperti berada di mesin waktu dan mundur kembali ke masa gue pernah ada. Saat gue menulis tentang bubur malam dan Papah, gue sedang sakit di tempat keluarga AuPair gue. Gue jadi teringat kembali bagaimana kamar gue di sana. Bagaimana bunga tulip merah muda di atas meja di dalam vas bunga putih. Tulisan tentang percakapan random, membuat gue kembali ingat bagaimana dapur apartemen dia, saat percakapan itu terjadi. Seru, ya?

Hal itu menjadi pengingat kembali untuk terus menulis di sini. Jangan diabaikan blog yang umurnya udah entah berapa tahun. Karena dari sini gue akan terus “hidup”, walau gue nanti sudah entah berada di mana. Dan mereka akan menjadi mesin waktu untuk mengingat hal yang dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai luntur dari ingatan gue. Selain bisa jadi pengingat bagaimana gaya menulis gue berubah. Bagaimana penggunaan bahasa gue berubah dari waktu ke waktu. Mungkin gue juga bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi lewat tulisan-tulisan gue sendiri.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengingat masa lalu. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyimpan masa ini. Salah satunya lewat tulisan di blog ini.

Selamat menulis.

 

AAI Uni Hamburg, 8 Maret 2017.

Advertisements

Tulisan di Awal Tahun 2017

Hallo Zusammen! Habt ihr ins neue Jahr gut gerutscht?

Selamat taon baru semua! Kemarin ngapain waktu tahun baru?

Biar mainstream, blog gue dibuka pakai Floskel begituan dan: “ini tulisan pertama gue di tahun baru”. Biar tingkat kepentingan tulisan ini naik lima kali lipat. Yiuk.

Anyway, janji palsu ya gue, sampai saat ini belum masukin foto ke tulisan tentang liburan musi gugur kemarin. belum sempet Cyin. Lagi panas-panasnya nih gue dengan si tesis, sampai yang dipikirin selama 24 jam dia doang. Iyes doang 24 jam, sampai kebawa mimpi.

Kalau dulu gue ngegombalin lelaki dengan bilang, “Du bist mein erster Gedanke, wenn ich am morgen aufwache. Und mein letzter Gedanke, bevor ins Bett gehe,” sekarang semua itu pudaaaarr, berganti dengan tesis, tesis dan tesis.

Yaudin dah gitu doang, cuman mau ngisi absend doang. Ga penting yes. Doain ya pemirsah!

 

Siapa yang tadi pagi mencakar?

Tadi di tempat fitnes, untuk membuka percakapan dengan peserta, trainer kami bertanya, “Wer hat heute morgen gekratzt?” dan beberapa dari peserta yang memiliki mobil pribadi mengangguk sambil mengeluh.

Secara literaris pertanyaan dia diterjemahkan menjadi: “siapa yang tadi pagi menggaruk/mencakar?” Selanjutnya saya akan menggunakan istilah “mencakar” saja. Pertanyaan ini memang terdengar aneh, apa lagi jawaban dari pertanyaan tersebut adalah anggukan dari peserta yang memiliki mobil pribadi sebagai sarana transportasi, misalnya dari rumah ke tempat fitnes. Oleh karena itu, untuk mengerti pertanyaan tersebut harus diketahui konteks pertanyaan dan juga pengetahuan dasar yang bisa melatarbelakangi pengajuan pertanyaan tersebut.

Seminggu terakhir ini cuaca di Hamburg semakin dingin, begitu juga tadi pagi, semua beku terselimuti es, seperti dedaunan (baik yang masih di ranting pohon atau yang sudah berjatuhan di tanah), jalanan, selain itu juga kaca mobil. Terutama bagian depan. Sebelum menggunakan mobil, biasanya pengendara mobil akan menghilangkan es tersebut dengan sebuah alat semacam sekop tapi bentuknya kecil, pas sekali ukurannya untuk tangan, seperti foto di bawah ini.

Alat Eiskratzer (pencakar es) ini ditekan dengan kemiringan 45 derajat dari kaca, lalu di dorong sampai es yang menempel di kaca ikut terbawa pergi dari kaca mobil. Prinsipnya sama seperti menghilangkan es di jalanan dengan penggunakan sekop.

eiskratzer-muessen-grossen-druck-aushalten-und-gut-in-der-hand-liegen

Eiskratzer – pencakar es

Alat tersebut dinamakan Eiskratzer atau “pencakar es” dan kegiatan menghilangkan es dari kaca mobil adalah Eis kratzen atau “pencakar es”. Jika kita mengetahui situasi yang melatar belakangi pertanyaan”siapa yang tadi pagi mencakar?”, tentu saja kita bisa langsung mengerti makna sebenarnya dari “mencakar” pada pertanyaan di atas.

Konteks yang mempengaruhi sebuah ungkapan seperti di atas adalah situasi ungkapan yang relevan dan berguna untuk pemahanan manusia. Termasuk ke dalamnya adalah pembicara dan lawan bicara, waktu, dan tempat (Meibauer 2001: 1-10). Maka dari itu, tidak heran jika peserta fitnes langsung mengerti apa yang dibicarakan trainer kami, karena syarat-syarat konteks situasinya relevan.

Kita, sebagai orang Indonesia, tentu akan kesulitan untuk memahami ungkapan tersebut, karena negara kita tidak bersalju dan kita belum pernah mempunyai pengalaman membersihkan es dari kaca mobil. Saya sendiri memerlukan waktu beberapa detik, sebelum mengerti pertanyaan tersebut, karena terakhir kali saya membersihkan kaca mobil dari es adalah tahun 2011 dan sejak itu tidak pernah lagi berurusan dengan mobil dan es.

Dalam linguistik, ilmu yang digunakan untuk memahami sebuah ungkapan berdasarkan situasi konteks ungkapannya adalah ilmu pragmatik. Jangan tertukar dengan semantik, yang hanya membedah sebuah ungkapan berdasarkan makna literarisnya, ya. Salah satu contohnya sudah saya jabarkan di atas. Jika dilihat dari makna semantik, tentu saja pertanyaan di atas tidak relevan dengan situasi di tempat fitnes, juga terdengar aneh: untuk apa trainer ingin mengetahui siapa yang tadi pagi mencakar? Dan objek yang dicakar tadi pagi juga tidak jelas dalam pertanyaan tersebut.

Kata kunci dari pragmatik adalah ungkapan dan konteks situasi, selain juga kognitif, sosial, kebudayaan, makna non-literaris, Halliday, non-gramatik dan fungsi. Kata kunci yang terakhir ini sangat penting, tanpa pragmatik, sebuah ungkapan tidak dapat dimengerti. Jika ungkapan tersebut tidak dimengerti, fungsi bahasa tidak berjalan. Hanya sebagai susunan kalimat. Tanpa fungsi bahasa, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi.

Jika pertanyaan “siapa yang tadi pagi mencakar?” ditujukan kepada sekumpulan orang Indonesia yang baru seminggu datang dari Indonesia, tentu saja tidak akan terjadi komunikasi yang sebenarnya diharapkan pembicara. Yang ada semua akan senyum malu-malu dan mengangguk-angguk saja, walau tidak mengerti.

Oleh karena itu, ketika mendengar sebuah ungkapan,maknailah dengan melihatnya juga dari situasi yang melatar belakanginya.

 

Adakah Mejik itu?

Okay. Gue pusing. Pusing banget sama Korpusdata ini. Bisa engga sih, gue diem aja terus korpusdata rapih sendiri dan tesis beres sendiri?

Ada yang bisa mejik-mejikan kah di sini?

 

Anyway, yang masih punya email ke atasan di kantor dan berbahasa Indonesia, mau dong tolong kirimin ke saya di mariska.susilo@gmail.com. Masih kurang data email nih. Tadinya sih udah beres yaaaa, tapiii ketika dibaca lagi dengan teliti.. OMG banyak yang akhirnya gue hapus-hapusin. Hasilnya adalaah e-mail data gue berkurang banyak.

Sooo, yang punya email dari bawahan ke atasan di kantor dan berbahasa Indonesia, tolong sekali kirim ke email gue di atas.

Tararengkyu dararangke sadayana 🙂

Herbsttrip: Riga (3)

Gue bangun pagi-pagi dan langsung menuju old town, gue lihat di internet kalau ada dua tempat yang belum gue kunjungi. Bergegaslah gue ke sana. Tempat pertama itu Riga Dome, berbeda dengan Riga Dom. Pas gue berada di depannya, gue sadar: ini mah tempat yang kemarin gue lihat dan ga gubris.

Itu gedung aneh banget letaknya. Gedungnya memanjang. Depannya lahan kosong, tapi cuman sampai 3/4 gedung, karena sisanya ada gedung lain di depannya. Di gedung tersebut tempat gue beli oleh-oleh kemarin. Jadi, jangan harap bisa memotret keseluruhan Rigas Dome dari depan, karena engga akan bisa. Gue ga suka tata kota old town ini.

Gedung selanjutnya yang jadi tujuan gue adalah three brothers. Begitu gue sampai di sana. Lah, ini mah yang gue lihat kemarin. Cafe depan situ yang kata orang-orang di tripadvisor cozy dan kuenya paling enak sekota, ternyata cafe yang pintunya gue foto-fotoin kemarin. Ini mah, ngapain gue bangun pagi demi liat dan moto mereka, lah kemarin pan udah.

Gue juga ga suka tata bangunan si tiga sodara lelaki itu. Ada gedung yang letaknya beberapa meter di belakang gedung yang lain. Dan tentu saja memotret dari depan tidak memungkinkan, karena jalanan di depannya kecil dan sudah ada bangunan lain. Dari situ, gue merasa gue ga suka tata kota ini dan gue ga suka kota ini.

Mungkin kalau gue datang saat summer akan berbeda ya. Gue ga suka di sana selain itu karena dingin dan sangat berangin. Kotanya cantik, tapi hanya di old town, di tengah kota mah sama saja kaya metropol lainnya. Gedung tingkat dan mall. Lebih jauh lain, tempatnya spooky, seperti yang ga sengaja gue pijak semalam. Bangunannya banyak yang terlihat hancur.

Balik ke hostel tadinya gue mau naik tram lagi, tapi gue melihat bangunan lain yang terlihat seperti gereja megah, jadi gue samperin dengan jalan kaki. Ternyata memang gereja. Besar dan megah. Warnanya emas. Gue sempat masuk sebentar, namun keluar lagi, karena mereka sedang ada ibadah dan gue ga suka bau semacam dupa di dalamnya.

Kalau ga salah, waktu itu internet di hp gue nyala. Jadi gue ikutin aja untuk jalan kaki lewat mana. Eh di jalan gue malah ketemu Lido. Langsung aja masuk untuk sarapan. Pas di sanaaa, ternyata menu makan siang sudah ada. Jadilah pagi itu gue dilihat aneh oleh pekerjanya karena gue makan sate ayam dan kentang pagi-pagi. Baeh ah, gue itu penasaran Ceuceu. Soalnya (lagi-lagi) Rika bilang sate ayamnya enak dan di dua Lido yang sebelumnya gue makan di sana, menu itu engga ada.

Dengan perut kenyang dan hati puas, gue pun melanjutakan perjalanan. Di tengah jalan, gue memutuskan ke mini market, mau beli cokelat. Lupa beli oleh-oleh eyke cyin. Mini market yang gue masukin ternyata semacam drug store dan isinya produk Rossmann semua. Eh lah, berasa balik ke Jerman. Supermarket yang seharusnya ada di dekat hostel tidak gue temukan, jadi gue masuk ke mall yang letaknya di seberang hostel.

Gue ga lama di sana, langsung ke Supermarket ke bagian cokelat. Cokelat merek Laina enak sekali sodara-sodara, kalau ke sana, harus beli cokelat ini. Cobain yang rasa strawberry joghurt deh, ada yang popping di mulut begitu cokelat lumer di mulut kita.

Lagi-lagi, sebagai orang überpünktlich, gue datang kecepetan loh di airport. HAHAHAHA. Terus saat itu gue males banget untuk ke shelter untuk cek dokumen. Gue masuk tanpa cek dokumen terlebih dahulu. Padahal di dalam itu sama saja gue harus menunggu lagi. Selama menunggu di dalam, gue gunakan untuk menelepon Emak di rumah.

Saat antri mau masuk pesawat, koper gue dikasih baggage tag gratis. Katanya di dalam pesawat penuh, jadinya koper gue dimasukin bagasi aja tanpa bayar. Gue sih asik-asik aja, lah enak dong engga berat dan ga ribet. Tapi pas boarding pass gue dicek, si Mbaknya bilang, “Lain kali cek dokumen dulu, Ceu” dengan muka cemberut. Muhun, Teh.

Pengalaman kocak adalah ketika masuk ke dalam pesawat. Jadi, saat terbang dari Bremen ke Tallinn, ada salah satu pramugara yang bilang “terima kasih” dengan bahasa Indoensia, begitu gue kasih lihat boarding pass gue. Nah, saat gue masuk pesawat di Riga ini, ada dia lagi. Jreng!

Kami berdua sudah kaya dua orang kenal sudah lama yang senang bertemu kembali dan kami berdua engga menyangka bisa bertemu pulang pergi begini, “Wow, it’s you again!” Setelah basa basi sedikit, masuk lah gue ke dalam pesawat.

Sebenarnya di sana gue rada khawatir dan menyesal menitipkan koper di bagasi. Gue cuman punya waktu satu jam dari pesawat landing sampai bis gue berangkat ke Hamburg. Dan tram dari airport ke kota kira-kira 20 menit. Kalau bisnya kelewat.. boom! Mesti keluar uang lagi buat cari kereta atau bis selanjutnya.

Telat memang menjadi ketakutan terbesar gue, karena kalau lo telat di satu titik, di titik lainnya lo akan telat juga, makanya I end up being an über-on-time person. Alhamdulillah ternyata koper gue keluar di bagian pertama, jadi gue bisa langsung cabut ke halte tram. Di sana hampir juga gue kecele, karena ternyata beli tiket di automat tidak bisa pakai kartu atm, harus uang tunai. Alhamdulillah saat itu gue masih punya koin tiga euro untuk beli tiket.

Jadi deh, gue kembali überpünktlich di terminal bis. Btw gue itu sering banget ketemu orang yang gue kenal kalau lagi di luar, kalau engga yang gue kenal, biasanya kalau pergi gue papasan dengan orang A, pulangnya gue akan ketemu dia lagi, mirip dengan kejadian pramugara tadi itu deh kira-kira. Nah di terminal itu, gue ketemu teman kosan. Jauh-jauh ke Bremen, ketemunya teman kosan. Ga berkembang. Kenapa engga ketemunya si Permet Karet bersama istri dan anaknya aja sekalian, biar gue bisa nangis-nangis sehabis liburan? *eh malah curhat :p

Foto-foto menyusul yaa, semoga gue ga males. Banyak banget soalnya fotonya. Mahahaha. Gue ga kira-kira deh kalau ambil foto. Tapiiii, cuman foto isi muka gue doang yang ga ada. Gue ga suka bikin selfie di tempat umum, jadinya gue sama sekali ga puyna foto sendiri selama gue trip kemarin.

Silahkan lihat Instagram gue kalau mau lihat foto-foto Tallinn dan Riga.

Selamat tidur Jermani dan selamat pagi Indonesia.

Hamburg, 7 November 2016

01.38 CET

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

 

Herbsttrip: Riga (2)

While in Riga

Setelah perjalanan empat jam, bis gue tepat waktu sampai jam 14 di terminal bis Riga. Matahari bersinar sangat terik. Masya Allah. Pas banget ini, disambut hangatnya matahari. Tidak perlu kedinginan seperti di Taliin kemarin. Pikiran yang polos sekali, Ajeng. Polos sekali. Karena, sinar matahari bukan pertanda hangat, bahkan Riga lebih dingin dari Tallinn dan Helsinki. Mungkin karena letaknya tepat di pinggir sungai (apa lautu eta teh?) jadi anginnya lebih membahana. Merasuk sampai ke tulang.

Terminal bis Riga letaknya dekat pasar tradisional. Gue sampat nyasar ke sana, karena (lagi-lagi) gue malas pakai Google Maps, tapi begitu gue sadar ada yang ga beres, gue akhirnya mengaktifkannya. Dan ditunjukanlah gue jalan yang benar menuju Hostel Riga, tempat gue akan menginap satu malam.

Sebenarnya hostel bisa ditempuh dengan bis, tapi dengan jalan kaki juga hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Okay deh cyin, segitu mah gue sanggup, apa lagi bisa sekalian liat kota. Mari jalan kaki. Optimis gue tapi berkurang begitu gue lihat, untuk menyeberang, semua orang harus lewat tunnel. Artinya turun tangga. Tanpa eskalator atau lift.

Memang koper gue ga berat, tapi kalau tiap nyeberang harus naik turun begini kesel juga gueh. Ribet amat sik. Ada lift khusus orang kebutuhan khusus. Itu juga ga tau deh pegimana, ke atasnya lama banget dan kecil banget. Akhirnya gue tinggalkan.

Di jalanan biasa pun jalannya rusak, sedang ada perbaikan. Benar-benar ga nyaman. Dan gue mulai bete. Hostel gue terletak di tengah kota. Di lantai empat dan ada lift. Horeee. Di lantai paling dasar ada McDonalds. Di seberang ada mall besaaaaarrr. Belakangnya ada Stockmann, mall baru dari Helsinki. Kota tua ga jauh dari sana, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Lagi-lagi gue memilih kamar khusus untuk perempuan. Selain gue, ada dua ibu-ibu yang sudah menempati kasur-kasur di bawah. Beklah cyin, gue ambil kasur atas. Yang bikin gue siyok sebenarnya adalah kamar yang bau pengap, karena jendela ga dibuka. Gue buru-buru keluar setelah naro semua barang. Enakyna hostel di Tallinn dan Riga, tamu ga perlu pasar seprei sendirian. Sudah dipasangin sama pihak hostel, coba deeehh pada ke Jerman, di front office dikasih sarung bantal dan seprei. Nyahahaha.

Begitu keluar dari hostel, gue langsung menuju halte bis samping McD. Niatnya mau ke kota tua, ternyata gue turun di jembatan dan malah menyusuri jembatan dan menyeberang ke belahan Riga yang lain. Sampai ujung jembatan gue putar balik, menyeberang dan jalan kaki lagi menuju kota tua.

Namanya jembatan yaaaa, dinginnya ga ketulungan. Tidak lupa kukenakan sarung tangan, kalau engga, yuk dadah babai aja ga bisa poto-poto. Saat itu gue jatuh hati sekali dengan Riga. Laut biru dan cahaya matahari memang perpaduan yang pas.

Sebelum masuk ke old town, gue belanja oleh-oleh dulu. Sayangnya ga menemukan semurah harga di Tallinn. Oh iya, tiket harian di Riga 5 Euro, dibandingkan dengan di Tallinn tentu saja mahal, karena tiket tiga hari di Tallinn hanya enam yuro. Yang bilang Riga murah, berarti belum pernah ke Tallinn.

Kota tua Riga sepi. Lebih sepi dibandingkan Tallinn. Gue ga liat turis-turis Asia yang membanjiri Tallinn. Ga lihat orang-orang bawa selfie stick atau peta. Semua tampak normal, seperti orang biasa mondar-mandir di jalanan. Walau gue kadang mendengar bahasa Jerman.

Selama di sana gue ga aktifin internet di hp. Entah mengapa, engga bisa digunakan. Gue ga punya peta juga, jadi zonk banget deh. Dan gue rasa Riga kurang jelas tempat yang harus dilihatnya. Gue baru bisa buka internet kalau ada wifi, misalnya seperti di restauran Lido. Baru deh di sana gue liat apa saja yang sudah gue kunjungi dan yang belum.

Sebenarnya sih waktu gue masuk ke Lido belum lapar, gue awalnya cuman mau cari kopi karena gue kedinginan parah. Tapi begitu nemu Lido, gue malah masuk ke sana dan makan. Semua ini gara-gara Rika yang menyarankan makan di sana waktu gue di Tallinn, ternyata enaaaakk dan murah. Jadi ga bisa lepas. Sayangnya restauran ini engga ada di Jerman. Makasih ya, Rik, sarannya. Gue suka banget! Dan sudah makan di tiga restoran Lido yang berbeda. Mahahahah.

Karena engga kuat dingin, gue akhirnya memilih untuk meneruskan jalan-jalan di riga dengan menumpang tram. Sampai matahari terbenam gue masih bertahan, setelahnya dinginnya ga kuaaatt. Dari pinggiran old town, depan universitas Latvia, gue asal naik tram ke arah stasiun. Tramnya sudah tua dan dalamnya dingin. Penghangat ruangnnya ga berasa.

Tram berjalan ke arah stasiun bis, terus menjauh dan menjauh. Sampai gue sendiri bingung gue berada di mana, karena semua gelap dan di luar sepi. Padahl itu palingan baru jam 18an. Akhirnya gue memutuskan untuk turun, begitu melihat halte tram ke arah sebaliknya tepat berada di seberang halte gue akan turun.

Itu benar-benar seperti in the middle of nowhere. Jalanan sepi ga ada mobil lewat. Bangunan tua dan rusak. Orang-orang yang gue lihat cuman mereka yang lagi nunggu tram di halte. Gue jadi bayangin yang engga-engga, “apakah ini tram isinya manusia beneran?”.

Benar-benar gue ga pernah merasakan sedingin itu. Dingin dari luar dan dari dalam hati sendiri. Karena gue sendirian. Gue jadi merasa, lain kali gue ingin jalan-jalan dengan orang lain. Gue kemarin itu memang pergi sendiri dan memang selalu pergi sendiri tiap trip.

Gue baru lega begitu liat stasiun bis dan kota. Tempat yang gue kenal. Sampai ujung lainnya, gue biarin balik ke kota lalu ganti lagi dengan tram yang lain. Waktu dinginnya ga nahan banget, akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Naik tram juga, karena selain udara, kaki gue juga sudah ga tertahankan capeknya. Gue sangat k.o di hari itu. Dan sejujurnya, gue engga enjoy di sana. Gue ga suka.

Gue sampai di hostel kayanya pukul 20. Di depan lift gue kaya orang bego nunggu lift yang tak kunjung datang. Orang yang di dekat sana juga ga bisa bahasa Inggris, dia merancu dalam bahasa Latvia yang ga gue mengerti dan gue kira engga ngobrol dengan gue. Setelah beberapa lama, dia merancu lagi dengan suara lebih kencang dan saat itu gue sadar, kalau dia bilang, “Neng, liftnya rusak, Neng”. Baiklah, Mang.

Karena capek yang tidak tertolong, gue langsung pergi mandi begitu sampai hostel. Ada beberapa kamar mandi dan toilet di hostel, tapi ga semuanya bersih. Maklum lah, isinya banyak dan anak muda semua. Kamar mandi yang paling pewe ada orangnya saat gue akan mandi, jadi gue pindah ke yang tidak pewe, karena cuman tempat mandi saja tanpa toilet.

Karena sudah makan, gue langsung naik ke kasur. Gue memilih di samping jendela, ngarep banget ada udara masuk dari sana. Gue yang biasa tidur dengan jendela terbuka, tentu merasa tidak nyaman tidur dengan jendela tertutup, heater on dan bersama-sama orang lain. Kasur di bawah gue ada seorang ibu umur awal 60 lah kira-kira. Di kasur tingkat yang satunya masih kosong, karena si ibu satunya lagi pergi dansa. Doi jauh-jauh datang dari St. Petersburg naik bis cuman buat dansa selama akhir pekan.

Saat gue check in di hostel itu, resepsionis nawarin gue ear plug, walau gue udah punya tiga pasang, gue tetap ambil saja dari wadah dan gue pasangkan di telinga malam itu, selain penutup mata untuk tidur. Gue kalau tidur ribet, harus sunyi dan gelap. Dahsyat banget, suara orang lalu lalang di luar langsung ga kedengeran. Suara ibu mendengkur dari bawah gue pun hanya kedengeran sedikit. Berkat si ear plug gue jadi bisa tidur dengan nyenyak, ga kebayang deh kalau gue harus tidur dengan suara dengkuran yang kenceng banget dari bawah kasur gue sendiri. Gue kebangun hanya jika ear plugs gue copot dan terdengarlah suara dengkuran si ibu.

Tulisan selanjutnya: Herbsttrip: Riga (3)

 

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

 

Herbsttrip: Riga (1)

Sebelum ngomongin Helsinki, kita longkap aja ke Riga ya, sebelum buyaaarr semua ingatan gue di sana. Selain itu, gue ke Helsinki memang ga ada niatan khusus selain ketemu Rika. Dan kayanya dua tahun lalu gue sudah menceritakannya di blog ini. Update: ternyata gue belum pernah menuliskan cerita tentang Helsinki. ya Salaaammmm.

Seperti gue ceritakan sebelumnya, gue ke Riga menggunakan bis dengan biaya tiga yuro saja. Mahahaha. Waktu masih di Tallinn dan lagi makan popmie di meja makan barengan orang lain di hostel, salah satu dari mereka cerita kalau dia dapat tiket ke Riga dengan harga lima euro. Semua orang takjub, sampai gue bilang “I got it for three euros”, sambil nyruput kuah pop mie yang ajib itu.

Bis gue ke Riga berangkat jam 10 pagi. Karena gue ga tau terminalnya dan gue orangnya überpunktlich alias terlalu tepat waktu, jadinya gue berangkat sekitar jam setengah sembilan. Padahal ya cyin, baik naik kendaraan umum atau pun jalan kaki, ke terminal hanya perlu waktu maksimal 30 menit. Emang dasar si gueh. Jadi aja gue menunggu lama di terminal yang ternyata dari jalan besar aja sudah keliatan. Ga akan acara nyasar nyari terminal begitu turun dari bis di halte.

Terminal bisnya lumayan besar. Mengingatkan gue pada terminal bis di Florence, Praha. Kalau mau dibandingkan dengan terminal bis di Hamburg dan apa lagi Bremen, jangan deh, karena mereka kalah. Hahahaha. Di Hamburg ruang tunggu tidak terlalu besar dan hanya buka sampai pukul 20 sepertinya, tempat parkirnya muat 10-15 bis kayanya deh. Bremen lebih parah, terletak di pinggir jalan besar, calon penumpang menunggu di trotoar dan tempat parkir bis hanya untuk 2-3 bis saja.

Layaknya terminal bis, di dalamnya ada ruang tunggu, restoran, tempat jual tiket, mini market, toko bunga dan toilet. Sayangnya, gue perhatiin, di Tallinn engga ramah untuk pengguna stroller dan kursi roda. Tidak hanya untuk menggunakan kendaraan umum seperti tram (tram di Helsinki juga memiliki masalah yang sama), tetapi juga di tempat umum, salah satunya adalah di terminal bis ini. Untuk ke toilet, ada tangga yang tentunya tidak bisa dilalui oleh stroller dan kursi roda. Sayang banget.

Saat gue di depan toilet, gue sempet males masuk, karena ternyata bayar. Gue ingat saat di Praha, di kota yang gue kira murah, ternyata untuk toilet tetap saja biayanya satu yuro. Namun, begitu gue baca plang harga di depan toilet di terminal sini, cuman bayar 30 sen saja. OMG ini MURAHnya kebangetan.  Dengan koin seyuro gue bisa tiga kali masuk toilet dan masih punya kembalian. Edan! Resmilah dari situ, memang Tallinn kotanya murah.

Oh iya, btw, orang-orang Helsinki itu demen banget ke Tallinn naik kapal demi belanja doang. Pergi pagi, pulang sore atau malam. Belanja kebutuhan rumah tangga atau lainnya, terus pulang lagi ke Helsinki. Karena kapalnya besar banget seperti kapal pesiar, banyak juga yang ke sana bawa mobil. Belanjaan tinggal dimasukin ke mobil. Beres.

Kalau dilihat dari harga masuk toiletnya ini, jelas aja yes dibilang Tallinn murah. eh tapi, gue masih siyok soal harga prangko seyuro lima puluh sen untuk ke endonesia. Mahal amir!

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)