Perubahan

Satu setegah tahun lalu, saat pulang terakhir kali ke rumah, rumah saya berbeda dengan sekarang ini. Waktu itu kucing kami dibiarkan berkeliaran di taman belakang. Buang kotoran di sudut taman yang memang disediakat untuk itu. Mereka tidak punya kandang, jadi terserah mau tidur di mana saja boleh, asalkan tidak masuk rumah.

Kucing-kucing yang ada saat itu kini sudah tidak ada. Ada yang jalan-jalan sendiri lalu ga pulang, ada yang mati, ada yang kabur dari rumah karena ngambek. Umurnya mungkin sudah tua, Ibu Emong namanya. Karena warnanya cemong dan mukanya dua warna, memiliki garis pemisah tepat di tengah. Dia ngambek, lalu pergi dari rumah dan tersesat, karena diomelin setelah dia buang air besar seenaknya. Selama hidupnya, dia tidak pernah sekali pun keluar rumah, kecuali mungkin halaman depan, karena itu dia mungkin tersesat di pasar belakang rumah kami.

Karena itu, Adik saya membawa pulang seekor kucing lain bernama Ogel, yang hobinya jalan-jalan dan bisa pulang sendiri. Dia terkenal di lingkungan rumah kami, karena Mamah dan Adik dulu sering mencari dia sambil teriak-teriak di sepanjang jalan. Si Ogel ini bulunya bagus dan lucu mukanya, karena itu banyak majikan yang jatuh hati dan ingin kucing-kucingnya dikawinkan dengan dia.

Singkat cerita, kucing kami pun bertambah banyak. Saat ini ada enam. Mereka semua tinggal di halaman belakang, kalau malam mereka masuk ke kandang besar yang Mamah bangun di pojok halaman tempat di mana kucing-kucing generasi Ibu Emong buang air. Tiga kandang besar yang bisa dimasuki dengan leluasa oleh orang dewasa. Sebuah kandang lain bahkan besar dan muat untuk berpuluh-puluh kucing, kalau mereka mau berdesak-desakan.

Kandang kucing dan kucing-kucing tersebut adalah suatu perubahan besar di rumah kami, setelah satu setangah tahun saya tidak pulang. Selain itu, mereka juga baiknya minta ampun alias manja, maunya dikelonin. Mereka tahu di mana harus makan dan di mana toilet mereka. Halaman belakang jadi lebih enak, tidak bau dan enak ditempati. Garasi pun dipugar, dibagusin, dan Mamah membuat tiga papan besar yang digunakan untuk menutup tiga kandang besar kalau garasi sedang dipergunaan untuk acara, misalnya nikahan kakak saya kemarin.

Perubahan di halaman belakang bukan satu-satunya. Kamar di rumah sekarang nambah. Bahkan lebih besar dari kamar-kamar yang ada. Kamar tersebut adalah gabungan kamar kecil yang waktu saya kecil digunakan untuk asisten rumah tangga dan ruangan besar yanng dulu digunakan untuk mencuci dan di salah satu pojoknya ada sumur tua. Tempat di mana sumur itu berada kini berganti denga pompa air yang akan berdenyit kencang kalau ada keran air terbuka, oleh karena itu, pompa air akan dimatikan kalau ada yang tidur di sana. Sumur tersebut ada sewaktu saya masih kecil, mungkin sampai awal SD, sampai akhirnya direnovasi oleh Papah dan dijadikan gudang dan tempat cuci yang lebih layak. Sekarang berubah fungsi lagi dan menjadi kamar.

Tempat cuci dipindahkan di koridor depan kamar mandi di dekat situ. Salah satu dari dua kamar mandi belakang itu pun berubah. Awalnya dia memiliki sebuah bak mandi dan toilet jongkok, kali ini berubah. Toilet berubah jadi toilet duduk dan bak mandi hilang, karena memang sudah sejak lama tidak pernah ada yang mandi di sana dan bak selalu kosong. Sampai saat ini dia hanya beralih fungsi menjadi toilet pengganti, kalau kamar mandi di depan penuh. Kamar mandi di sebelahnya, yang memang tidak punya toilet, tidak berubah.

Papah pernah merenovasi rumah kami saat saya masih SD. Renovasi besar-besaran. Waktu itu, kalau tidak salah, salah satu pemicunya adalah jalanan samping rumah yang harus hilang karena masjid disebelah mau diperlebar, oleh karena itu, mobil kami tidak bisa masuk halaman. Gerbang depan rumah yang tadinya imut dan hanya untuk orang, diubah diperlebar agar mobil bisa masuk. Garasi mobil yang sebelumnya digunakan untuk garasi dan gudang pun dibongkar sekarang menjadi garasi yang tadi saya ceritakan di atas. Halaman di sampingnya yang dulu smepat diberikan tanaan merambat yang ternaya bikin gatal, kini lebih enak dan tidak bertanah, karena ditutupi konblon. Padahal, saat saya kecil, sebelum tanaman merambat itu ada, dia adalah taman yang indah penuh rumput dan tempat saya melakukan hobi mencari belalang. Hobi anak aneh.

Renovasi pertama tersebut dilakukan setelah Emak Uyut, nenek Papah meninggal. Kamarnya menjadi kamar saya sekarang. Tadinya hanya memiki dua pintu, sekarang tiga pintu. Papah juga menambahkan sebuah kamar mandi di ruang tengah, karena anak-anaknya takut ke kamar mandi belakang sendirian. Karena kamar tidur terbatas, Papah membuat kamar tidur kakak lebih besar. Yang tadinya hanya untuk satu orang, kini memilki dua tempat tidur.

Dapur sayangnya saat itu tidak berubah banyak, kecuali dinding besar di sisi menghadap ke meja makan dibongkar di tengah, agar yang masak bisa sambil nonton TV. HAHAHA. GA deh, agar makanannya bisa langsung ditransfer ke meja makan tanpa harus muter dan masak yang ringanjuga tidak harus masuk dapur. Dulu dia memiliki lantai ubin berwarna gelap. Hampir ke hitam, dengan motif timbul yang aneh. Jujur, saya geli dengan hal tersebut. Saya tidak akan masuk ke dapur tanpa sendal, karena tidak juga dengan sensasi motif timbul tersebut di kaki, dan warna hitam membuatnya terlihat selalu kotor.

Sekarang berubah. Lantai keramik warna kuning cerah dan tembok di sisi menghadap meja makan itu dihancurkan menjadi sebuah jalan masuk, sehingga dapur memiliki dua pintu dan lebih terbuka, lebih bercahaya dan terlihat lebih bersih dibandingkan sebelumnya. Sayangnya, dengan dibuatnya sebuah jalan baru berarti Arbeitsflaeche berkurang. Tadinya luas dan bisa kerja di mana saja, sekarang hanya ada dua sisi. Yang harus diubah sekarang menurut saya adalah tempat cuci piring, terlallu rendah dan membuat saya sakit pinggang kalau mencuci piring.

Perubahan pertama yang Papah lakukan membuat rumah tidak lagi terlihat seperti di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Lebih modern dan lebih gersang, karena banyak tanaman yang dikorbankan untuk membuat pelebaran jalan masuk mobil. Pohon mangga besar juga hilang, walau anaknya masih ada sampai sekarang dan masih berbuah. Pohon rambutan yang kala itu tidak berbuah, kini berbuah lebat setelah sebelumnya digantungkan sebuah ayunan, yang sisi lainnya digantungkan ke pohon mangga besar tesebut dan tidak pernah absen kami mainkan. Entah ada hubungannya ada tidak, sejak itu, pohon rambutan kami tidak pernah tidak berbuah lebat di musimnya.

Saya lahir dan besar di sana dan sampai saat ini saya melihat banyak perubahan signifikan di sana. Lebih nyaman dan lebih bersih. Seandainya Mamah tidak memaksakan diri untuk mengubahnya, pasti rumah kami hanya akan semakin tua dan rapuh. Semakin kotor dan semakin tidak layak huni. Mamah kemarin bilang, Mamah cuman mau agar anak Mamah nanti tidak malu saat mengajak orang lain (terutama keluarga pasangan) datang ke rumah. Dan Beliau melakukannya dengan baik.

Saya masih ingat dengan baik bagaimana rumah kami berubah selama tiga puluh tahun terakhir, terutama sejak tujuh tahun terakhir saya tidak di rumah. Setiap saya pulang, ada saja perubahan yang terjadi dan membuat saya harus mengeksplorasi setiap kalinya. Saya tidak tahu nih, perubahan apa lagi yang sedang direncanakan Mamah untuk menjadikan rumah kami lebih nyaman lagi.

Oh iya, baru ingat nih. Di rumah kami pernah ada kandang kelinci besar juga. Di halaman, panjangnya dari bekas pohon mangga besar ke pohon rambutan. Di dekat situ masih disisakan tanah yang diberi pembatas dan digunakan untuk kandang kelinci. Kandang tersebut setengah berada di halaman depan, dan setengah lagi di garasi, dan ada sebuah rumah mungil untuk mereka. Sayangnya kelinci-kelinci tersebut terkhir terkena penyakit kulit, karena tanah yang becek dan kotor tersebut.

Sekarang sebenarnya tidak perlu kuatir jika kucing-kucing di rumah tidak sehat atau butuh mandi, karena ada dokter hewan yang ada 24 jam dan bisa mengangkut mereka ke klinik Laras Satwa Tangerang miliknya. Bahkan, di salah satu sudut halaman belakang ada kontainer yang di atasnya tergeletak suntikan dan obat juga paspor hewan untuk mereka. Yup, dokter hewan tersebut adalah kakak saya sendiri. Buat kalian yang hewanna butuh bantuan, bisa menghubungi kliniknya. Mahahah jadi iklan.

Perubahan tidak hanya terjadi di rumah kami saja. Saya saat menuliskan ini sedang ada di kampung halaman ibu saya di Sumedang. Dulu di rumah sepupu saya ini ada dua balong besar yang sering digunakan keponakan-keponakanan saya si anak kota untuk main air. Sekarang sudah berubah. Salah satu balong berganti enam kolam besar yang tadinya mau digunakan untuk ternak bibit ikan. Sekarang hanya satu kolam yang terisi, sisanya keringm seperti juga balong sebelahnya.

Di sisi lainnya juga ada bekas kolam renang yang sudah kering. Dulu di sana sempat diubah menjadi kolam renang komersil, yang sayangnya tidak terlalu laku. Di atasnya kini dibangun rumah Uwa saya, karena rumah Beliau terkena gusur untuk kepentingan waduk Jatigede. Kunjungan ini adalah kunjungan pertama saya setelah empat tahun lalu di tahun 2013. Waktu itu untuk pertama kalinya saya pulang dari Jerman setelah dua setengah tahun. Dan karena kangen, kami sekeluarga ke sana. Saya masih ingat betul, keponakan-keponakan saya masih kecil waktu itu. Papah saya masih ada dan masih ikut masuk balong nemenin cucunya, yang suka mogok karena gengsi

Waktu perjalanan dari Tangerang ke Sumedang pun saya melihat banyak perubahan. Di Tangerang sendiri sekarang ada bangunan baru sebelum masuk tol Tangerang. Entah bangunan apa, saya tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tapi Jakarta tidak terlalu banyak berubah. Kantor Papah saya masih terlihat seperti dahulu, saya masih mendongak untuk melihat gedung tinggi itu dari dekat. Dahulu saya sering mencoba menghitung lantainya di mana tempat Papah kerja. Tapi di depannya itu memang sejak 10 tahun sudah berubah, ada sebuah gedung baru yang saat saya masih kecil tidak ada. Lewat sana membuat saya ingat masa lalu. Gedung-gedung di mana anak-anak teman Papah menikah dan kami makan enak.

Tadi malam saya baru tahu, ada sebuah jalan tol baru telah dibangun. Jalan tol Cirebon-Palimanan atau apalah namanya. Membuat perjalanan ke Sumedang lebih singkat, padahal dulu rasanya sering emosi kalau ke sana karena macet dan waktu tempuh yang panjang. Dari Depok kami berangkat jam 22 dan jam 3 pagi sudah sampai Sumedang. Iya lima jam memang lama, tapi dulu itu lebih lama. Seandainya Papah masih ada, Beliau pasti akan senang sekali.

Tinggal jauh dari rumah membuat saya lebih merasakan perubahan-perubahan yang terjadi selama saya pergi dan membuat saya lebih menghargainya. Dan memang, kehidupan itu dinamis, perubahan itu akan selalu ada, baik kita sadar atau tidak.

Perubahan apa yang baru-baru ini kalian rasakan di sekitar kalian?

Advertisements

2 thoughts on “Perubahan

  1. zilko says:

    Sama, aku juga merasa pembangunan di Yogyakarta berlangsung cepat. Setiap kali liburan kesana, rasanya ada aja bangunan/apa lah yang baru, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s