Mengingat Lewat Tulisan

Seharusnya gue belajar, karena minggu depan gue akan ujian lisan. Tadi siang seharian melawan ngantuk sambil belajar, karena gue sudah bangun dari jam lima di tempat kerja. Begitu kantuk hilang, gue malah iseng buka blog. Iseng mau nulis tentang kata-kata kunci dari Google yang masuk ke blog gue. Lalu iseng baca lagi tulisan-tulisan sejak sampai di Jerman. Sampai akhirnya gue terbawa suasana dan menghabiskan waktu tiga jam terakhir membaca semua itu.

Gue tau gue puitis dan romantis. Halah. Gue baca lagi beberapa tulisan yang bisa menjadi argumen gue untuk pendapatan gue tentang diri sendiri itu. Pernah di suatu masa, gue selalu mengirimkan tulisan super pendek ke orang yang bersama gue saat itu, sore ini gue teringat jawaban dia: “du bist meine kleine Poetin”. Kamu penulis puisi.

Baca tulisan-tulisan lama ternyata bisa membuat gue galau sendiri. Aneh ya, gue yang nulis tapi gue yang tersihir sendiri sampai galau. Selain itu gue juga galau, karena banyak hal indah di masa lalu yang tidak bisa gue kembalikan di masa sekarang dan/atau masa depan. Gue sering menulis tentang Papah di tahun 2014. Ada sebuah dan beberapa tulisan tentang Beliau yang tidak berani gue baca ulang sampai sekarang, karena  gue tau, begitu gue “berani” membacanya, gue akan remuk redam sendirian. Dari beberapa tulisan yang saya tulis tentang Beliau, gue hanya membaca beberapa, salah satunya adalah tentang bubur yang selalu Beliau beli untuk anak-anaknya kalau salah satu kami ada yang sakit. Tulisan dari tahun pertama gue di Jerman itu mampu membuat hati gue sesak dan mata gue panas. Ich vermisse Dich, soooo sehr, Pah!

Ada tulisan yang membuat gue mau ketawa kencang, tapi tidak mungkin, karena gue sedang di perpustakaan. Tulisan tentang percakapan random dengan di mantan pacar. Kok dulu seru banget ya sama dia. Dan gue menghayati banget, sampai selain tulisan tentang percakapan random itu, juga banyak tulisan berbau-bau cinta yang katanya manis. Atau tulisan tentang gue saat putus dari dia saat itu. Gilanya, gue masih menulis tentang dia sampai tiga tahun lalu. Betah amat, Jeng.

Selain dia, gue bisa mengidentifikasikan orang-orang lain yang gue tulis puitis di sana. Gue suka sekali dengan metafora dan itu gue tampilkan sebanyak-banyaknya di setiap tulisan gue. Kadang gue sendiri bingung dengan yang gue tulis. Memang ada tiga tipe metafora, salah satunya adalah metafora pribadi, contohnya ya yang gue gunakan di setiap tulisan gue. Kalau gue mengerti metafora-metafora tersebut, biasanya gue akan ingat kembali apa yang gue rasakan dan pikirkan saat gue membuatnya. Kok bisa ya gue menyambungkan semuanya.

Saat membaca ulang, gue terkadang takjub sendiri. Kok bisa ya gue menulis bagus kaya gitu. Bukan sombong, bukaaaaannn, tapi lebih ke heran. Apa lagi melihat gue sekarang yang sudah maaaalaaass sekali untuk menulis. Okay, bukan malas sih, tapi ga ada waktu dan ga ada ide. Dan gue merasa tulisan gue engga sebagus dahulu lagi. Garing banget sekarang, itu lagi itu lagi kata yang gue gunakan. Metafora juga tidak sebanyak dan sebadai dahulu. Mungkin ini terjadi karena gue sedang tidak jatuh cinta dan tidak sedang patah hati? Karena biasanya mereka itu menjadi alasan terbesar gue nulis puitis. Berarti gue ga ada bakat untuk jadi penulis, ya?

Gue bikin blog untuk menyimpan kenangan untuk diri sendiri. Dan hari ini gue membuktikannya. Gue seperti berada di mesin waktu dan mundur kembali ke masa gue pernah ada. Saat gue menulis tentang bubur malam dan Papah, gue sedang sakit di tempat keluarga AuPair gue. Gue jadi teringat kembali bagaimana kamar gue di sana. Bagaimana bunga tulip merah muda di atas meja di dalam vas bunga putih. Tulisan tentang percakapan random, membuat gue kembali ingat bagaimana dapur apartemen dia, saat percakapan itu terjadi. Seru, ya?

Hal itu menjadi pengingat kembali untuk terus menulis di sini. Jangan diabaikan blog yang umurnya udah entah berapa tahun. Karena dari sini gue akan terus “hidup”, walau gue nanti sudah entah berada di mana. Dan mereka akan menjadi mesin waktu untuk mengingat hal yang dalam kehidupan sehari-hari sudah mulai luntur dari ingatan gue. Selain bisa jadi pengingat bagaimana gaya menulis gue berubah. Bagaimana penggunaan bahasa gue berubah dari waktu ke waktu. Mungkin gue juga bisa mengenal diri sendiri lebih baik lagi lewat tulisan-tulisan gue sendiri.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengingat masa lalu. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyimpan masa ini. Salah satunya lewat tulisan di blog ini.

Selamat menulis.

 

AAI Uni Hamburg, 8 Maret 2017.

Advertisements

6 thoughts on “Mengingat Lewat Tulisan

  1. 'Ne (Fitriane Lestari) says:

    sama, kadang saya juga suka baca-baca tulisan lama. kadang mikir juga ih lucu banget ya dulu, atau kok bisa ya dulu bikin tulisan kayak gitu hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s