Herbsttrip: Tallinn (1)

While in Tallinn

Selama liburan, untuk lihat jalur transportasi umum, gue selalu menggunakan google maps. Biasanya gue sengaja download aplikasi sesuai nama perusaahan transportasi negara/kota tujuan, tapi kali ini gue males ribet, jadi biarlah. Ternyata si Google ini kadang bodoh juga *anggap gue ngomong dengan dialek Batak. Dari Hamburg gue sudah cari cara bagaimana dari airport ke hostel Tabinoya di Tallinn, dan selalu disebut gue harus ke halte bis Lindakivi, lalu naik bis nomer ratusan. Ternyata di airport hanya ada bis nomer dua dan halte bis Lindakivi terletak satu halte setelahnya. Okay ga susah.

Begitu gue turun di Lindakivi, di halte tersebut cuman menyebutkan bis yang lewat nomer 2 dan 65. Okay, gue menyeberang, selain karena feeling, juga karena sebelumnya lihat bis yang nomornya gue cari lewat situ. Gue lihat di papan informasi, bis yang gue tuju memang lewat situ. Tapi gue ga menemukan halte bis yang gue tuju. Gue engga curiga. Kebodohan pertama.

Sampai suatu saat, Google Maps bilang bis yang gue tunggu akan datang jam 20.01, eh loh tapi kok lewatnya di halte seberang. Gue mulai panik at the disco. Gue tanya orang sampaing gue, „ini bener arah ke Balti Jaam bukan?“ dia dengernya „Balti apa lah itu“ dan gue pikir, it is how they pronounce Balti Jaam, walau gue yakin yang gue ucapin benar. Mengingat gue pernah belajar bahasa Finlandia setahun dan kedua bahasa ini adik kakak.

Ada Mbak lain yang nyamperin gue, dia bilang ada bis kecil yang ke Balti blabla itu dan dia bisa nanyain ke supir apa gue bisa ikut, dia juga akan naik itu. Gue curiga, kalau gue salah. Pas bis kecil itu datang, gue tunjukin hape gue ke dia, di mana tertera tulisan „Balti Jaam“, dan benar saja. „Itu arah kota! Kamu harus nyeberang!“. Jreeeeeeng!! Gue manyun dan nyeberang.

Sudah tau salah, gue masih coba-coba dengan jalan ke arah sebaliknya dari halte bis. Gue pikir, mungkin ada halte lain tempat bis yang gue cari akan berhenti. Tapi nihil. Akhirnya gue balik ke halte di mana GUE SEBELUMNYA TURUN dan nunggu di sana sampai 30 menit setelahnya. Dengan keadaan kedinginan parah. Ujungnya, gue naik bis nomor 2 juga ke kota dan ganti angkutan di halte apalah itu. Gue masukin nama-nama halte tempat bis tersebut ke Google Maps dan lihat bagaimana dia bisa membawa gue ke hostel. Heran gue, kenapa si Google ga dari awal aja nyuruh gue naik bis nomer 2 dan ganti bis entah di mana. Total gue menghabiskan waktu nunggu bis dengan percuma itu 1,5 jam. In the middle of nowhere dan badan hampir beku.

Malam itu, jujur saja, gue bertekad tidak pakai Google. Gue udah catat semuanya di buku dan gue mau survive tanpa Google Maps, karena bis yang kunjung datang, gue aktifin deh. Dan karena gue udah capai dan kedinginan dan ilfil, jadinya turun dari tram terakhir gue aktifin Google Maps dan biarin dia nunjukin jalan ke penginapan. Kalau ini masih bisa dipercaya.

Begitu sampai di penginapan, gue langsung ke dapur makan popmie yang gue bawa dari Hamburg. Lega rasanya makan yang hangat begitu. Hilang semua keheul di dada. Sebelumnya, gue mengeluarkan semua pakaian yang gue butuhkan untuk keesokan paginya, karena gue akan keluar rumah paling engga jam 6 dan gue engga mau menggangu dua roommates gue. Gue tinggal di kamar khusus perempuan untuk empat orang. Kasur di atas gue tapi tetap kosong sampai gue check out. Selain gue, malam itu hanya ada dua perempuan lain. Gue rasa salah satu perempuannya tapi check out pagi itu juga bareng gue, dan ga sengaja bareng gue ke Helsinki juga satu kapal. Gue sempat papasan dengan dia di dapur dan gue melihat di di kapal saat akan turun.

Hostel gue di Tallinn itu namanya Tabinoya, kamar mandi di dalam loh kamar itu. Jadi memudahkan banget buat gue. Kamar mandinya kecil dan karena ga ada jendela, jadinya rada bau lembab. Gue ga suka, tapi ya gimana lagi ya cyin, sudah dipesan untuk tiga malam.

Kamarnya pun pas banget di dapur dan ruang bersama. Tempat tidur gue apalagi, pas banget di dinding ke ruangan tersebut pula, jadi malam itu gue bisa mendengar dengan jelas obrolan orang-orang di sana. Selain itu, sebelah kasur gue juga pintu kamar mandi, jadi gue bisa denger juga kalau orang ke sana. Di luar juga toilet yang persis sebelahan dengan kasur gue, jadi gue bisa dengar juga saat orang ke toilet. Begitu sampai di Helsinki, gue langsung beli penutup kuping. Lumayan membantu malam-malam berikutnya, walau yang gue beli murahan, jadi ga terlalu menolong.

Hostel gue tempatnya strategis banget, pas di tengah old town, dan dekat ke halte bis atau tram, juga dekat ke pelabuhan. Jadi sebenarnya ga perlu banget beli tiket. Gue sih tetap beli, ga nanggung, gue beli tiket lima hari. Murah kok, hanya enam euro. Ditambah dengan harga kartunya dua euro, jadi biayanya delapan euro. Sebenarnya gue bisa mengembalikan tiket tersebut dan dapat dua euro gue kembali, tapi tidak gue lakukan karena di hari ke empat gue perlu tiket tersebut untuk ke terminal bis. Tiket sekali jalan juga murah, hanya 1,10 Euro kalau ga salah. Walaupun, seperti gue bilang sebelumnya, di Tallinn ke mana-mana deket, bisa jalan kaki. Bisa saja gue kembalian tiket lalu jalan kaki ke terminal, cuman 20 menit kok.

Dari penginapan gue di old town ke pelabuhan juga cuman 20 menit jalan kaki, jadi pagi itu gue jalan kaki ke sana. Ditemenin GPS, tentu saja. Jam enam lebih dikit gue ke luar hostel, di jalanan sepiiii sekali, cuman ada petugas bebersih jalanan berseliweran. Di jalanan besar ada beberapa mobil lalu lalang, begitu juga di pelabuhan yang sama-sama mengejar kapal pukul 07.30 waktu setempat seperti gue. Udaranya dingin tapi segar, gue suka. Makanya saat itu gue memutuskan untuk jalan kaki, selain ingin lihat-lihat kotanya, juga karena dengan kendaraan umum hampir memakan waktu yang sama, karena dari hostel ke halte bis dan dari halte bis ke dalam pelabuhan juga harus jalan kaki.

Tallinn terletak di tepi laut Baltik, karena itu pelabuhan menjadi bagian terpenting kota ini. Dari pelabuhan ini setiap hari ada kapal menuju negara-negara tetangga, seperti Finlandia, Swedia dan Rusia. Biasanya orang-orang Finlandia pergi berbelanja ke Tallinn, karena harga di sini lebih murah. Gue engga ke supermarket sih, sayangnya, gue lupa beli cokelat dari sana, karena mengira di Riga harga-harganya lebih murah. Lebih lanjut tentang Riga akan gue ceritain di kesempatan lain.

Anyw, di Tallinn harganya cukup murah kok. Gue menemukan magnet kulkas dengan harga satu euro dan kartu pos hanya 70 sen saja. Selama ini gue ga pernah menemukan tempelan kulkas semurah itu di mana pun (bahkan di Riga sekali pun). Yang bikin nyesek sih prangko ke Indonesia, lebih mahal 60 sen dibandingkan dengan Jerman. Kayanya di negara lain juga ga semahal itu deh.

Tallinn dan Riga kesamaannya punya old town yang jadi daya tarik pengunjung. Di sana tempatnya gedung-gedung antik bersejarah. Di Tallinn bahkan ada satu daerah cukup tinggi yang dari sana bisa melihat Tallinn dari atas, tempatnya di Toompea Hills. Cantik banget lihat Tallinn dari sana. Sampai pelabuhan dan laut Baltik pun bisa kelihatan. Juga TV tower yang jauh juga.

Sayangnya, yang terlewat saat gue di sana adalah Kassikohvik Nurri atau cat cafe Nurri. Gue baru lihat cafe itu saat di jalan ke terminal bis mau ke Riga, rasanyaaaa nyeeess banget. Tau ada cafe begituan, gue ke sana sebelumnya. Memang mungkin sebaiknya gue balik lagi ke sana.

bersambung yaa.. ke Herbsttrip: Tallinn (2)

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

Advertisements

2 thoughts on “Herbsttrip: Tallinn (1)

  1. zilko says:

    Aku pernah nemu magnet kulias €1 di Barcelona, ahahah 😆.

    Haha, drama liburan ya. Tapi memang gitu sih, naik bus memang lebih ruwet daripada transportasi umum lainnya. Lebih unreliable.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s