Herbsttrip: Riga (2)

While in Riga

Setelah perjalanan empat jam, bis gue tepat waktu sampai jam 14 di terminal bis Riga. Matahari bersinar sangat terik. Masya Allah. Pas banget ini, disambut hangatnya matahari. Tidak perlu kedinginan seperti di Taliin kemarin. Pikiran yang polos sekali, Ajeng. Polos sekali. Karena, sinar matahari bukan pertanda hangat, bahkan Riga lebih dingin dari Tallinn dan Helsinki. Mungkin karena letaknya tepat di pinggir sungai (apa lautu eta teh?) jadi anginnya lebih membahana. Merasuk sampai ke tulang.

Terminal bis Riga letaknya dekat pasar tradisional. Gue sampat nyasar ke sana, karena (lagi-lagi) gue malas pakai Google Maps, tapi begitu gue sadar ada yang ga beres, gue akhirnya mengaktifkannya. Dan ditunjukanlah gue jalan yang benar menuju Hostel Riga, tempat gue akan menginap satu malam.

Sebenarnya hostel bisa ditempuh dengan bis, tapi dengan jalan kaki juga hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Okay deh cyin, segitu mah gue sanggup, apa lagi bisa sekalian liat kota. Mari jalan kaki. Optimis gue tapi berkurang begitu gue lihat, untuk menyeberang, semua orang harus lewat tunnel. Artinya turun tangga. Tanpa eskalator atau lift.

Memang koper gue ga berat, tapi kalau tiap nyeberang harus naik turun begini kesel juga gueh. Ribet amat sik. Ada lift khusus orang kebutuhan khusus. Itu juga ga tau deh pegimana, ke atasnya lama banget dan kecil banget. Akhirnya gue tinggalkan.

Di jalanan biasa pun jalannya rusak, sedang ada perbaikan. Benar-benar ga nyaman. Dan gue mulai bete. Hostel gue terletak di tengah kota. Di lantai empat dan ada lift. Horeee. Di lantai paling dasar ada McDonalds. Di seberang ada mall besaaaaarrr. Belakangnya ada Stockmann, mall baru dari Helsinki. Kota tua ga jauh dari sana, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Lagi-lagi gue memilih kamar khusus untuk perempuan. Selain gue, ada dua ibu-ibu yang sudah menempati kasur-kasur di bawah. Beklah cyin, gue ambil kasur atas. Yang bikin gue siyok sebenarnya adalah kamar yang bau pengap, karena jendela ga dibuka. Gue buru-buru keluar setelah naro semua barang. Enakyna hostel di Tallinn dan Riga, tamu ga perlu pasar seprei sendirian. Sudah dipasangin sama pihak hostel, coba deeehh pada ke Jerman, di front office dikasih sarung bantal dan seprei. Nyahahaha.

Begitu keluar dari hostel, gue langsung menuju halte bis samping McD. Niatnya mau ke kota tua, ternyata gue turun di jembatan dan malah menyusuri jembatan dan menyeberang ke belahan Riga yang lain. Sampai ujung jembatan gue putar balik, menyeberang dan jalan kaki lagi menuju kota tua.

Namanya jembatan yaaaa, dinginnya ga ketulungan. Tidak lupa kukenakan sarung tangan, kalau engga, yuk dadah babai aja ga bisa poto-poto. Saat itu gue jatuh hati sekali dengan Riga. Laut biru dan cahaya matahari memang perpaduan yang pas.

Sebelum masuk ke old town, gue belanja oleh-oleh dulu. Sayangnya ga menemukan semurah harga di Tallinn. Oh iya, tiket harian di Riga 5 Euro, dibandingkan dengan di Tallinn tentu saja mahal, karena tiket tiga hari di Tallinn hanya enam yuro. Yang bilang Riga murah, berarti belum pernah ke Tallinn.

Kota tua Riga sepi. Lebih sepi dibandingkan Tallinn. Gue ga liat turis-turis Asia yang membanjiri Tallinn. Ga lihat orang-orang bawa selfie stick atau peta. Semua tampak normal, seperti orang biasa mondar-mandir di jalanan. Walau gue kadang mendengar bahasa Jerman.

Selama di sana gue ga aktifin internet di hp. Entah mengapa, engga bisa digunakan. Gue ga punya peta juga, jadi zonk banget deh. Dan gue rasa Riga kurang jelas tempat yang harus dilihatnya. Gue baru bisa buka internet kalau ada wifi, misalnya seperti di restauran Lido. Baru deh di sana gue liat apa saja yang sudah gue kunjungi dan yang belum.

Sebenarnya sih waktu gue masuk ke Lido belum lapar, gue awalnya cuman mau cari kopi karena gue kedinginan parah. Tapi begitu nemu Lido, gue malah masuk ke sana dan makan. Semua ini gara-gara Rika yang menyarankan makan di sana waktu gue di Tallinn, ternyata enaaaakk dan murah. Jadi ga bisa lepas. Sayangnya restauran ini engga ada di Jerman. Makasih ya, Rik, sarannya. Gue suka banget! Dan sudah makan di tiga restoran Lido yang berbeda. Mahahahah.

Karena engga kuat dingin, gue akhirnya memilih untuk meneruskan jalan-jalan di riga dengan menumpang tram. Sampai matahari terbenam gue masih bertahan, setelahnya dinginnya ga kuaaatt. Dari pinggiran old town, depan universitas Latvia, gue asal naik tram ke arah stasiun. Tramnya sudah tua dan dalamnya dingin. Penghangat ruangnnya ga berasa.

Tram berjalan ke arah stasiun bis, terus menjauh dan menjauh. Sampai gue sendiri bingung gue berada di mana, karena semua gelap dan di luar sepi. Padahl itu palingan baru jam 18an. Akhirnya gue memutuskan untuk turun, begitu melihat halte tram ke arah sebaliknya tepat berada di seberang halte gue akan turun.

Itu benar-benar seperti in the middle of nowhere. Jalanan sepi ga ada mobil lewat. Bangunan tua dan rusak. Orang-orang yang gue lihat cuman mereka yang lagi nunggu tram di halte. Gue jadi bayangin yang engga-engga, “apakah ini tram isinya manusia beneran?”.

Benar-benar gue ga pernah merasakan sedingin itu. Dingin dari luar dan dari dalam hati sendiri. Karena gue sendirian. Gue jadi merasa, lain kali gue ingin jalan-jalan dengan orang lain. Gue kemarin itu memang pergi sendiri dan memang selalu pergi sendiri tiap trip.

Gue baru lega begitu liat stasiun bis dan kota. Tempat yang gue kenal. Sampai ujung lainnya, gue biarin balik ke kota lalu ganti lagi dengan tram yang lain. Waktu dinginnya ga nahan banget, akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Naik tram juga, karena selain udara, kaki gue juga sudah ga tertahankan capeknya. Gue sangat k.o di hari itu. Dan sejujurnya, gue engga enjoy di sana. Gue ga suka.

Gue sampai di hostel kayanya pukul 20. Di depan lift gue kaya orang bego nunggu lift yang tak kunjung datang. Orang yang di dekat sana juga ga bisa bahasa Inggris, dia merancu dalam bahasa Latvia yang ga gue mengerti dan gue kira engga ngobrol dengan gue. Setelah beberapa lama, dia merancu lagi dengan suara lebih kencang dan saat itu gue sadar, kalau dia bilang, “Neng, liftnya rusak, Neng”. Baiklah, Mang.

Karena capek yang tidak tertolong, gue langsung pergi mandi begitu sampai hostel. Ada beberapa kamar mandi dan toilet di hostel, tapi ga semuanya bersih. Maklum lah, isinya banyak dan anak muda semua. Kamar mandi yang paling pewe ada orangnya saat gue akan mandi, jadi gue pindah ke yang tidak pewe, karena cuman tempat mandi saja tanpa toilet.

Karena sudah makan, gue langsung naik ke kasur. Gue memilih di samping jendela, ngarep banget ada udara masuk dari sana. Gue yang biasa tidur dengan jendela terbuka, tentu merasa tidak nyaman tidur dengan jendela tertutup, heater on dan bersama-sama orang lain. Kasur di bawah gue ada seorang ibu umur awal 60 lah kira-kira. Di kasur tingkat yang satunya masih kosong, karena si ibu satunya lagi pergi dansa. Doi jauh-jauh datang dari St. Petersburg naik bis cuman buat dansa selama akhir pekan.

Saat gue check in di hostel itu, resepsionis nawarin gue ear plug, walau gue udah punya tiga pasang, gue tetap ambil saja dari wadah dan gue pasangkan di telinga malam itu, selain penutup mata untuk tidur. Gue kalau tidur ribet, harus sunyi dan gelap. Dahsyat banget, suara orang lalu lalang di luar langsung ga kedengeran. Suara ibu mendengkur dari bawah gue pun hanya kedengeran sedikit. Berkat si ear plug gue jadi bisa tidur dengan nyenyak, ga kebayang deh kalau gue harus tidur dengan suara dengkuran yang kenceng banget dari bawah kasur gue sendiri. Gue kebangun hanya jika ear plugs gue copot dan terdengarlah suara dengkuran si ibu.

Tulisan selanjutnya: Herbsttrip: Riga (3)

 

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s