Herbsttrip: Riga (1)

Sebelum ngomongin Helsinki, kita longkap aja ke Riga ya, sebelum buyaaarr semua ingatan gue di sana. Selain itu, gue ke Helsinki memang ga ada niatan khusus selain ketemu Rika. Dan kayanya dua tahun lalu gue sudah menceritakannya di blog ini. Update: ternyata gue belum pernah menuliskan cerita tentang Helsinki. ya Salaaammmm.

Seperti gue ceritakan sebelumnya, gue ke Riga menggunakan bis dengan biaya tiga yuro saja. Mahahaha. Waktu masih di Tallinn dan lagi makan popmie di meja makan barengan orang lain di hostel, salah satu dari mereka cerita kalau dia dapat tiket ke Riga dengan harga lima euro. Semua orang takjub, sampai gue bilang “I got it for three euros”, sambil nyruput kuah pop mie yang ajib itu.

Bis gue ke Riga berangkat jam 10 pagi. Karena gue ga tau terminalnya dan gue orangnya überpunktlich alias terlalu tepat waktu, jadinya gue berangkat sekitar jam setengah sembilan. Padahal ya cyin, baik naik kendaraan umum atau pun jalan kaki, ke terminal hanya perlu waktu maksimal 30 menit. Emang dasar si gueh. Jadi aja gue menunggu lama di terminal yang ternyata dari jalan besar aja sudah keliatan. Ga akan acara nyasar nyari terminal begitu turun dari bis di halte.

Terminal bisnya lumayan besar. Mengingatkan gue pada terminal bis di Florence, Praha. Kalau mau dibandingkan dengan terminal bis di Hamburg dan apa lagi Bremen, jangan deh, karena mereka kalah. Hahahaha. Di Hamburg ruang tunggu tidak terlalu besar dan hanya buka sampai pukul 20 sepertinya, tempat parkirnya muat 10-15 bis kayanya deh. Bremen lebih parah, terletak di pinggir jalan besar, calon penumpang menunggu di trotoar dan tempat parkir bis hanya untuk 2-3 bis saja.

Layaknya terminal bis, di dalamnya ada ruang tunggu, restoran, tempat jual tiket, mini market, toko bunga dan toilet. Sayangnya, gue perhatiin, di Tallinn engga ramah untuk pengguna stroller dan kursi roda. Tidak hanya untuk menggunakan kendaraan umum seperti tram (tram di Helsinki juga memiliki masalah yang sama), tetapi juga di tempat umum, salah satunya adalah di terminal bis ini. Untuk ke toilet, ada tangga yang tentunya tidak bisa dilalui oleh stroller dan kursi roda. Sayang banget.

Saat gue di depan toilet, gue sempet males masuk, karena ternyata bayar. Gue ingat saat di Praha, di kota yang gue kira murah, ternyata untuk toilet tetap saja biayanya satu yuro. Namun, begitu gue baca plang harga di depan toilet di terminal sini, cuman bayar 30 sen saja. OMG ini MURAHnya kebangetan.  Dengan koin seyuro gue bisa tiga kali masuk toilet dan masih punya kembalian. Edan! Resmilah dari situ, memang Tallinn kotanya murah.

Oh iya, btw, orang-orang Helsinki itu demen banget ke Tallinn naik kapal demi belanja doang. Pergi pagi, pulang sore atau malam. Belanja kebutuhan rumah tangga atau lainnya, terus pulang lagi ke Helsinki. Karena kapalnya besar banget seperti kapal pesiar, banyak juga yang ke sana bawa mobil. Belanjaan tinggal dimasukin ke mobil. Beres.

Kalau dilihat dari harga masuk toiletnya ini, jelas aja yes dibilang Tallinn murah. eh tapi, gue masih siyok soal harga prangko seyuro lima puluh sen untuk ke endonesia. Mahal amir!

 

 

Tulisan terkait:

Herbsttrip 2016

Herbsttrip: Tallinn (1)

Herbstrip: Tallinn (2)

Herbstrip: Riga (1)

Herbsttrip: Riga (2)

Herbsttrip: Riga (3)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s