Cemburu

Panti tempat saya bekerja kembali memiliki penghuni baru. Ia adalah perempuan dan tinggal di kamar nomer tujuh yang penghuni lamanya pindah ke luar kota. Cerita saya tentang penghuni kamar sepertinya terhenti di kamar nomer lima. Saya memang sengaja tidak lagi menceritakan dengan detail profil setiap penghuni, karena saya tidak mau kena masalah hukum, kalau-kalau ada orang di kantor atau orangtua dan sodara pihak terkait sadar itu cerita tentang mereka. Kemungkinan besar memang tidak akan tau, karena saya menggunakan bahasa yang tidak mereka pahami, tetapi tetap saja saya enggan meneruskan.

Penghuni ke tujuh ini berteman baik dengan penghuni kedelapan yang sama-sama perempuan. Dia orangnya periang, kalau lagi good mood, jadi gampang akrab dengan penghuni baru, termasuk penghuni kamar kelima yang ditaksir oleh penghuni kamar kedelapan. Kebayang ga sih lo jadinya kaya gimana di panti?

Tiap penghuni kedelapan liat mereka kebetulan ga sengaja ketemu di dapur, misalnya, dia langsung menghardik penghuni baru, “Pergi lo! Jangan dekat-dekat!” Namun lima menit kemudian akan baik dan ramah lagi ke penghuni ketujuh. Apa lagi kalau sebelumnya diomelin oleh gue dan pekerja lain.

Tadi pagi itu, gue lagi di kamar penghuni keenam. Gue lihat penghuni kelima keluar menuju kamar mandinya dan menyapa penghuni keenam yang sedang duduk di atas kasur kamarnya. Pintu kamar dia ga pernah ditutup. Penghuni ketujuh yan mendengar itu langsung bangun dan duduk di tempat tidurnya sambil teriak-teriak menggerutu.

Tidak lama kemudian, gue mendengar dia masuk ke kamar sebelahnya dann.. “peletak!” dia memukul kepala penghuni ketujuh untuk kesekian kalinya. Iya, ini terjadi bukan untuk pertama kalinya. Dalam seminggu pasti peristiwa semacam ini terjadi.

Gue langsung ke menuju kamar dia dan ngomelin dia. Entah dia mengerti atau engga. Gue paksa dia minta minta maaf dan mereka sudah salamana. Sayangnya, gue yakin, ini ga akan bertahan lama. Di kesempatan lain dia pasti akan memalukan hal yang sama ke Penghuni ketujuh, kalau dia liat mereka sedang bareng-bareng lagi.

Sayangnya, dia ga mengerti cara mengelola cemburu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s