Tempat Di Mana Aku Ingin Berada

Hari ini terasa seperti dua tahun yang lalu. Mendengar kabar duka. Juga sesuatu kelanjutannya di mana aku tidak berada di sana. Rumah duka. Tempat tinggal keluarga yang ditinggalkan oleh orang terkasihnya.

Siang ini di rumah yang nyaman itu, di mana aku dua tahun lamanya tidak lagi berada di sana, berkumandang suara orang melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara yang syahdu. Ketika ayat di surat ke 36 berakhir, terdengar terjemahan bahasa Indonesia yang ditutup dengan sedikit tausyiah inti dari surat tersebut.

Air mataku berjatuhan. Suasana duka terasa. Terutama di mata orang-orang yang pernah ditinggalkan, dan itu berarti semua orang.

Apakah seperti ini yang terjadi dua tahun lalu di rumah duka, tempat aku menghabiskan sebagian besar hidupku sampai aku kelak saat remaja merantau ke Bandung lalu kembali ke rumah itu sebelum pindah ke Hamburg dan menghabiskan waktu di sana?

Sebanyak inikah orang-orang yang datang melayat ke rumah, karena mendengar Papah berpulang? Siapakah yang memandikan Beliau? Apa Mamah ikut serta? Apa Mamah duduk di tempat yang nyaman dan mempunyai bahu untuk bersandar saat itu?

Tadi malam, saat aku melakukan sholat ghaib, terasa ada yang kurang di hatiku. Di hari Papah meninggal, aku tidak melakukan sholat ghaib untuk Beliau. Wanita, tahulah alasan tersebut. Namun kemarin malam dan siang ini terasa sungguh menyayat hati.

Semua urusan kehilangan seseorang tersayang selalu mengembalikan aku kepada Papah. Hari itu aku tidak sana, namun hampir 10.000 kilometer jaraknya. Perjalanan 17 jam yang tahun lalu aku lakukan berasa singkat, namun tidak pada saat hari meninggalnya Papah. Rasanya dua kali bahkan lima kali lipat lebih lama. Seandainya Doraemon benar-benar ada, maka hanya pintu ajaib berwarna merah jambu yang aku inginkan.

Istri yang ditinggalkan almarhum duduk di tengah-tengah kami dan bercerita kronologis meninggalnya suaminya. Seperti itukah yang dilakukan Mamah saat menerima pelayat di rumah kami?

Bahkan saat Beliau berkata, „Menyakitkan sekali melihat suami meninggal di depan mata,“ yang aku lihat adalah adegan di mana Mamah harus belari ke tubuh Papah yang semakin merunduk dari duduknya di lantai masjid. Masya Allah, Mamah aku juga melihat sendiri suaminya menghelakan nafas terakhirnya. Mamah yang mengguncang-guncang tubuh Papah, berharap Papah hanya ketiduran saat itu. Adik aku sendiri yang didatangkan untuk memeriksa kondisi Papah saat itu. Aku seperti melihat dia dijemput dari rumah oleh Bibi kami, melakukan CPR dan berteriak-berteriak, „Papah!“ untuk membangunkannya.

Setelah dua tahun lalu berlalu, aku masih bertanya mengapa Allah menakdirkan aku untuk berada jauh dari rumah saat itu. Mengapa Allah tidak mengizinkan aku melihat Papah untuk terakhir kalinya saat itu, berbeda dengan almarhum yang rumahnya sedang aku layat sekarang. Kedua anaknya berada di sana, saat Papahnya akan berpulang. Mungkin memang aku tidak sekuat yang aku sangka, karena itu aku diungsikan, batinku menjawab pertanyaanku sendiri.

Anak almarhum bahu membahu saling menguatkan. Si anak lelaki mengurus ini itu untuk keperluan ayahnya. Persis seperti Kakakku yang melakukannya untuk Papah dan keluarganya: kami. Dari video call, aku melihat dia berada di dalam liang kubur, dia sendiri yang menguburkan Papahnya. Aku lalu melihat seluruh keluargaku di sana, di samping makam. Mata mereka sembab. Mereka semua berkumpul, melepaskan jasad Papah yang saat itu sudah berada beberapa meter dari permukaan tanah. Mereka tidak sadar, dari sebuah layar kecil aku juga berada di sana. Mencoba untuk berada di sana. Untuk saling menguatkan.

Bulan Ramadan dua tahun lalu seperti kembali lagi hari ini. Aku seperti berada di tempat di mana aku tidak berada ada. Di dalam pikiranku, aku membangun semua adegan-adegan yang aku dengar dari kanan kiri, karena aku sangat ingin berada di sana. Dan tidak ada orang yang ingin aku temui saat ini, kecuali Papah.

Teteh kangen, Pah. Semoga Papah selalu bahagia di sana, diberikan tempat terbaik dan ternyaman dari Allah Swt.

 

 

 

„Semua orang akan meninggal, kita semua sebenarnya hanya sedang menunggu giliran,“

Bekal apa yang sudah kamu persiapkan sampai detik ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s