MRI Lutut

Tulisan berikut masih cerita tentang penyakit-penyakit gue akhir-akhir ini, nih. Muahahaha, gue kalau ga nulis galau percintaan, nulisnya penyakit -__-

Akhirnya kemarin dan tadi pagi gue melakukan MRI di kedua lutut. Sayangnya itu tempat radiologi penuh, jadi gue harus datang dua kali di dua hari berbeda. Capek deh, kakakaakk! Kemarin kaki pertama, pas banget lagi sakit sejak di Berlin akhir pekan lalu. Kebanyakan jalan, iyes!

Dari rumah gue pakai rok lalu di dalamnya ditambah leggings, biar ga bener-bener polos saat nanti di ruangan. Gue engga mau kejadian di dokter umum Oktober lalu terulang. Gue spontan ke dokter, mengira dokter perempuan ada di tempat praktek. Ternyata doi sudah ga praktek di sana lagi dan oleh dokter lelaki gue disuruh buka celana untuk dilakukan pemeriksaan di dengkul. Rasanya aku mau batalin aja dan pulang, begitu dia nyuruh buka celana semuanya. TIDAAAKKKK. Karena pengalaman itu dan pengalaman Nda, gue ke dokter orthopedi pakai rok dan celana jeans. Hari ini juga, kaya jilbaber beneran deh pokoknya.

Saat tiba giliran gue akan di MRI, gue diminta buka leggings, pakaian dalam, kacamata, jam tangan, dan semua barang yang mengandung magnet di badan gue. Oh iya, sebelumnya juga diminta isi formulir apakah gue punya piercing, tato atau riasan permanen. Jilbab gue yang memang ga rapih itu juga harus gue lepas, karena gue menggunakan beberapa jarum dan peniti. Ciput atau dalemannya juga dilepas, karena ada resleting.

Seperti di pilem-pilem, gue disuruh berbaring lalu dimasukan ke sebuah tabung besar sampai leher. Kepala gue di luar dan bisa lihat langit-langit yan membosankan, sampai kepikiran, seharusnya mereka melukis langi-langit tersebut dengan pemandangan indah biar pasien ga bosen. Sebelum dimasukan, gue dikasih headset yang tersambung dengan radio Hamburg dan sebuah alarm yang bisa gue pencet kapan saja kalau merasa ga sanggup lagi di sana. MRI sendiri berlangsung selana 10-15 menit.

Headset tersebut juga tersambung dengan operator. Jadi sebelum dimulai, dia akan ngasih pemberitahuan apa yang akan dilakukan pada gue. “Sebentar lagi kita akan mulai”, katanya, lalu disambung dengan radio. “Pemeriksaan tiga kali empat menit, akan berisik, jangan kaget”, terus mesin MRI itu bunyi kenceng banget. Di situlah saya merasa sedih, eh gunanya headset dan radio yang dikasih. Biar ga berisik oleh suara mesin.

Pas awal masuk, gue norak gitu, senyum-senyum sendiri. Lama kelamaan.. bok ayeh bosen. Untung aja di hari pertama itu lagunya bagus-bagus, pas tadi pagi sih kebanyakan iklan. Meh.

Setelah MRI berlangsung, gue boleh pakai baju lagi seperti sedia kala, sementara itu operator mencetak hasil MRI. Kemarin sih di amplop besar gue ada delapan kertas besar ukuran 2xA4 yang di dalamnya berisi 15 foto lutut. Sayangnya dokter radiologi belom datang sepagi itu, jadi ga bisa langsung dibacain. Namun, karena gue ga tahan pengen denger apa yang terjadi dengan lutut, gue pun berkonsultasi virtual dengan temennya Dedey yang dokter orthopedi.

Hasilnya hanya bikin si sayah siyok. Dia bilang, meniskus di lutut kanan saya memang sobek. TIDAAAAKKKKK!! Ini sesuai dengan perkiraan sih, karena di bagian itu pernah beberapa kali nyeri seperti ditusuk-tusuk. Kata Nda yang dua bulan lalu operasi dengan masalah serupa, begitu dan di situlah nyeri itu terasa. Temennya Dedey tapi ga bisa banyak ngasih tau apa sobeknya parah atau apa tindakan selanjutnya, memang saya harus nunggu apa kata dokter orthopedi saya minggu depan.

Meniskus di lutut kiri Alhamdulillh baik-baik saja, ga perlu ditakutkan. Memang di sana gue juga ga pernah merasa keluhan di bagian meniskus. Temennya Dedey menyarankan gue untuk menurunkan berat badan dan mengurangi aktivitas. Kalau muda aja sudah ada masalah dengkul seperti ini, bisa jadi nanti sudah tua kena osteoartitis. Apaan tuh? Ga tau, google aja ya sendiri.

Berat badan gue memang termasuk berlebihan, ditambah lagi gue tiap hari senang sekali membawa ransel yang isinya mungkin sampai tiga kilogram dan kalau bawa laptop atau abis belanja bisa bertambah dua kali lipat. Engga heran lutut gue yang menopang itu semua jadi terbebani. Sepeda yang seharusnya gue pakai sudah parkir aja di tempat parkir sepeda, karena lampu depannya mati dan gue ga mau kena masalah kalau ketauan pergi tanpa lampu.

Aktivitas dikurangi, susah juga ya, secara gue kerja ya memang pakai badan, bukan otak. Semoga nasib saya cepat berubah, ya Allah. Anyway, waktu di Indonesia kemaren gue ga merasakan keluhan apa-apa loohh. Memang bener, seharusnya saya ga banyak jalan kaki, ga kerja, dan naik turun kendaraan aja kalau ke mana-mana atau leha-leha aja di rumah. Tapi di sini bukan di sana.

Semoga minggu depan dokter orthopedi ga nyaranin gue untuk dioperasi ya Allah 😦

Oh iya, minggu lalu gue kontrol ke dokter kulit. Dia menyarankan untuk terapi DCPC. Ga akan gue lakuin, karena gue harus datang seminggu sekali dan setiap datang kena bayaran 9,50€ dan berlangsung 4-6 bulan. Aku mah mahasiswa kere, ga sanggup bayar segitu. MRI aja bela-belain di sini biar gratis, walau di Indo sudah disaranin. Mau coba minum obat perawatan rambut saja dan menunggu tiga bulan, sesuai dengan siklus rambut. Semangat!

 

 

Advertisements

6 thoughts on “MRI Lutut

  1. zilko says:

    Seenggaknya penyebabnya sudah ketahuan ya. Semoga cepet sembuh!!

    Naik sepeda bagus tuh karena nggak terlalu membebani lutut kan πŸ˜€ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s