Jarum Suntik

Aku lemas. Sekali.

Hari ini gue ke orthopedi, karena sejak lama ada masalah lutut. Paling parah saat ikutan lomba foto FotoMarathon Hamburg September lalu. Setelah jalan kaki sampai delapan jam, kedua lutut gue sakit banget, terutama saat turun tangga. Dua kali ke dokter umum di Jerman, ga puas, karena mereka cuman nyaranin olahraga sepedah. Teman yang juga dokter spesialis apaan gitu, ga menyarankan ke ortopedi, dia bilang, mereka pasti juga engga tau.

Bulan November kemarin, gue ke dokter orthopedi di Tangerang. Yaa, masih residen sih, dia menyarankan untuk röntgen, hasilnya Alhamdulillah semua tulang bagus. Menyarankan untuk MRI juga, tapi ga gue lakukan, nunggu balik ke Jerman aja biar gratis. Huahaha, hidup asurasi kesehatan!

Cerita tentang pengalaman gue sama dokter orthopedi ini akan ditulis terpisah ya. Ceritanya panjang, karena si dokter yamamen banget deh.

Gue selalu males ke dokter, ribet. Untuk ke dokter spesialis harus teleponan bikin janji. Apa lagi saat sakitnya sudah berkurang, karena gue sendiri ga pernah jalan jauh dan lama lagi dan mengurangi naik-turun tangga.

Akhirnya, gue bikin janji ke dokter ini, karena bulan lalu salah satu temen gue operasi meniskus di dengkul. Gue deg-degan dong, makanya gue rela deh jauh-jauh ke dokter yang letaknya selemparan batu dari kampus gue. Kebetulan memang sebulan terakhir ini gue rajin ke dokter umum dan kulit, jadi sekalin deh. Alasan lain adalah biaya asuransi gue naik 50€ karena umur gue menginjak ke angka tiga. Jadi.. pergunakan sebaik mungkin! 😛

Ga nyesel ternyata ke Ortho Centrum itu, selain baik, dokternya juga bikin ngiler. Cakeps banget! Gue bawa hasil Röntgen yang gue lakukan dari Indonesia, gue bilang ke dia, kalau itu dari sana, bukan kolega dia di Jerman yang saranin gue bikin Röntgen. Setelah bahas soal lutut dan nyuruh gue berbaring di tempat tidur, dia cerita tahun lalu di Bali selama dua minggu untuk meditasi. Dia juga bilang, semoga tahun ini dia bisa ke sana lagi.

Rasanya gue mau bilang, „Semoga, ya, Dok, saya doakan banget. Apa lagi kalau ke rumah orang tua saya terus ke KUA,“ bahagia pokoknya melihat dia yang caem.

Kalau gitu, apa dong yang bikin gue lemes? Ambil darah. Jarum suntik adalah musuh bebuyutan gue, sayangnya pembuluh darah gue tipis dan sering kali susah dicari untuk ambil darah atau infus. Inget banget dulu diopname sesaat setelah beres SPMB sampai kaki gue yang ditusuk jarum, karena kedua punggung tangan dan kedua lipatan lengan (apa sih istilah tepatnya?) sudah biru-biru akibat banyaknya jarum yang masuk sia-sia.

Dua tahun lalu saat di dokter kulit juga gitu, ditusukan keempat baru deh darah gue berhasil keluar. Sebelumnya ya.. diuyek-uyek aja gitu tangan-tangan gue. Terakhir gue ke sana, bulan lalu karena kerontokan rambut, sih perawatnya jago, sekali jus langsung beres. Perawat di dokter umum juga dua tahun lalu harus sekali gagal dulu sampai akhirnya berhasil.

Ambil darah, kalau sekali doang sih ga masalah, namun.. tadi pagi gue ditusuk tiga kali oleh tiga orang berbeda dan darah gue ga keluar. Orang ketiga itu si dokter ganteng. Perawat-perawat langsung menyerah dan menyerahkan kepada pak dokter. Waktu cari nadi, dia nemu, tapi hilang lagi. Saat nemu lagi, dia tusuklah pakai jarum, eh malah pergi lagi. Dia lalu menyarankan gue untuk minum yang banyak sebelum ambil darah selanjutnya, karena ngaruh banget. Apa yang orang makan semalam sebelumnya juga juga berpengaruh.

Teman-teman yang mengerti, iya gitu itu benar? Bulan lalu gue juga ambil darah dan gue sebelumnya harus puasa. Malam sebelumnya juga makan biasa aja, tapi Alhamdulillah lancar aja darah gue diambil sampe 4-5 suntikan. Oh iya, saat tadi pagi darah ga keluar untuk pertama kalinya, gue dikasih minum segelas air, sayangnnya tetap ga ngaruh.

Sorenya gue balik lagi ke praktek dokter itu, setelah sebelumnya minum 1,3 liter air dan segelas kopi (ga dihitung deh sebenarnya :-p). Perawat pertama semprot-semprot tangan gue dengan desinfektan, ga lama kemudian koleganya masuk dan dia menyerahkannya padanya. Perawat kedua gue ceritain kejadian tadi pagi. Ga lama kemudian, masuk perawat lelaki, gue kira cuman mau lihat doang, ternyata dia yang akan mengambil darah gue.

Sambil bersihin tangan gue, dia nanya apa gue sering donor darah. Serius lo nanya gue itu? Ga pernah, lah, secara gue takut jarum. Gue cuman cerita bulan lalu gue cek darah dua kali. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa sebanyak atau sesering itu gue ambil darah. Tanyak dokter saya atuh maasss, saya juga ga mauuu. Gue cuman jawab singkat, dari dokter umum dan kulit. Masalah pribadi juga kenapa gue harus periksa darah.

Si mas perawat ini ternyata jagoan neon, darah gue berhasil keluar. Horrreee!!!! Setelah tiga suntikan penuh, jarum suntik dicabut cepat-cepat dari tangan gue oleh dua perawat yang dari tadi ikutan ngeliatin. Kalut banget gue saat itu, gue tutup mata sambil meringis dan meremas-remas baju. Aku takut kakaaakkk 😦

Setelah keluar dari tempat praktek orthopedi rasanya lemeees banget dan pusing. Tadinya mau balik ke perpustakaan, tapi jadinya langsung pulang. Karena gue takut jarum suntik dan diuyel-uyel pakai jarum sampai empat kali ya makanya jadi lemes. Kalau tadi untuk keempat kalinya gagal, entah berapa kali tangan gue akan diunyel-unyel jarum. Fiuh, lega sekali, akhirnya berhasil juga, namun tetap saja lemas tak terkira aku dibuatnya.

Minggu depan saya ada janji untuk MRI, lalu akhir bulan kontrol lagi ke dokter. Doain ya semoga engga ada apa-apa yang serius dan saya hanya harus terapi saja, tanpa operasi. Aamiin!

 

Hamburg, 10 Maret 2016

Advertisements

One thought on “Jarum Suntik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s