Jetlag

I am back in Hamburg again. After jetlag for couple of days, now I am totally fit.

Gue kira selama ini gue ga pernah kena jetlag kalau balik ke Jerman, karena, seperti gue baca, perjalanan dari timur ke barat mempunyai resiko jetlag lebih kecil dari pada perjalanan sebaliknya, tapi kali ini gue beneran punya gangguan jam tidur.

Gue mendarat di Hamburg 25 menit lebih cepat dari jadwal, yaitu pukul 18.40 waktu setempat. Sesaat sebelum mendarat liat kabut di mana, selamat datang di Hamburg yang dingin, sodara-sodara! Begitu keluar pesawat, baru aja menapakan kaki ke lorong belalai yang menyambung pintu pesawat dengan bandara, ada petugas berseragam yang nyamperin Β gue. Ada apa ini??

Setelah liat wajahnya baik-baik, dia ternyata suami teman yang memang kerja di bandara Hamburg. Lemes gueee, gue kira gue kena masalah apaaa. Dia kebetulan lagi tugas pas banget di penerbangan gue dan mampir sebentar buat nyapa.

Tiba di Jerman malam gue pikir mengurangi resiko jetlag, karena malamnya gue langsung tidur dong, terus pagi akan bangun dengan segar. Sempurna banget rencana gue!

Kenyataannya, jam enam bangun selama sejam lalu tidur lagi sampai jam 12 siang. Okay.. Setelah bongkat koper dan pisah-pisahin titipan dan oleh-oleh, gue pun ketiduran lagi jam enam sore. Kalau dihitung, waktu di Indonesia sedang pukul 12 malam.

Tiga jam tidur, gue terbangun dengan teriakan Amenk di depan kamar yang sedari siang sudah rencana akan datang menginap. Setelah makan malam dan ngobrol, jam setengah satu malam kembali tidur.

Ritme tidur yang masih sama dengan pagi sebelumnya, jam lima saya sudah melek, terus begitu sampai siang. Ah, harus bikin diri capai nih. Maka siangnya saya pergi ke rumah Teh Dina dan Mbak Dita.

Jam enak sore masih segar, ah ini mah jetlag sudah hilang. Yuhuuu! Kenyataannya: sejam kemudian gue mendadak sangat mengantuk. Sejam kemudian, begitu sampai di kosan, gue yang sebelumnya sempat ambil dua koper dari basement ke kamar, langsung pingsan di kasur. Tanpa sempat sikat gigi dan cuci muka. Iyuuuh, jorok!

Ga lama-lama kok joroknya, karena jam satu pagi semua sudah kembali bersih seperti sedia kala. HAAHAHA.

Jetlag ini terjadi sampai hari kamis malam. Begitu malam turun, gue seperti biasa langsung ngantuk hebat. Kemarin malam sih engga dan gue seperti 1,5 bulan sebelumnya, bangun tidur jam sembilan. Itu juga dengan perjuangan hebat sih, setelah sebelumnya bangun-bangun.

Gue ga tau deh, mending jetlag di Jerman apa di Indonesia. Kalau di Indonesia, gue tidur subuh bangun menjelang dzuhur. Di Jerman, tidur sore bangun tengah malam atau subuh. Mungkin enakan jetlag di Indo, karena mirip dengan ritme tidur gue biasanya. Tapiiii kalau bisa mah ga ada jetlag deh, mau itu enakan di Indonesia juga.

Katanya, biar engga jetlag, banyak-banyaklah tidur di pesawat, selain itu, sejak beberapa hari sebelum terbang coba ubah ritme tidur perlahan-lahan. Kalau ke timur, berarti coba tidur lebih cepat dibanding sebelumnya. Hindari begadang. Begitu juga sebaliknya. Nah, tips ini yang selalu gagal gue coba sebelum melakukan perjalanan, ga heran begitu tiba di Indonesia ritme tidur gue berantakan.

Punya cerita jetlag dan tips menghilangkannya? Sharing dong! πŸ™‚

Advertisements

5 thoughts on “Jetlag

  1. zilko says:

    Haha, selama ini ketika terbang dari timur ke barat, jetlag-ku nggak seberapa parah. Paling jadi bangun agak pagian aja which is good kan πŸ˜› .

    Haha, aku sering baca tips itu memang untuk menyesuaikan waktu tidur kita. Tapi susah prakteknya mameeenn, hahahaha πŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s