Lagi-lagi Tentang Hati

 

Ada saatnya, kita ingin berhenti tapi tidak kuasa untuk diam di tempat. Padahal, berjalan juga jalannya ternyata hanya memutar dan selalu kembali ke tempat yang sama. Perlukan kita selalu disentil untuk bisa mulai melangkah ke jalan yang berbeda?

Malam itu temanku sedang di rumah, aku entah bagaimana bisa menjejakkan pandanganku ke rumahmu lagi. Mataku tertuju pada fotomu dan sebuah foto di sampingmu. Pacarmu. Ah bukan, tunanganmu. Seorang dari latar belakang yang sama denganmu dan tidak berbicara tiga dari empat bahasa yang aku kuasai.

Seandainya aku tahu bisa menghormati keputusanku dan membiarkan semuanya terhenti sepuluh bulan silam. Maka tidak akan ada yang menarik dari malam ini.

“Hey kamu, apa kabarmu?”

Mungkin pertanyaan ini bisa mengalihkanku. Kamu bukan sekali ini saja aku abaikan. Bukan juga pertama kalinya tidak bisa melihat aku di mana pun. Dan sebelumnya juga pernah seperti aku ย sedang mengalah kepadamu.

Sebaiknya memang dua bulan lalu sudah diakhiri apa yang seharusnya bahkan tidak pernah dimulai. Tidak perlu sampai kamu katakan kamu harus pindah kembali ke kampung halamanmu dan meninggalkanku.

Memang tidak pernah sebenar-benarnya meninggalkanku, karena kamu pun tidak pernah bersamaku.

Sebenarnya tidak ada yang salah dan apa yang berubah adalah hanya cahaya putih lebih terang menyinari sebuah jalan yang sudah sejak lama harus disusuri. Tetapi saat dua kabar diketahui dalam satu waktu dan keduanya adalah yang tidak ingin kamu dengar, apa lagi di saat bersamaan, maka semuanya menjadi salah.

“Bist du verliebt?”

Pernah. Pernah juga patah hati, karena itu. Kabar yang kamu berikan tidak juga setengah parahnya dibandingkan saat itu terjadi, bahkan saat berita yang terbaca satu jam sebelumnya.

Kamu tidak pernah akan tahu, aku tidak sedang berbicara tentang kita. Aku berbicara tentang kami.

Setelah semua ini, maukah kamu benar-benar menutup kedua pintu tersebut dan mulai melangkah ke jalan yang sampai detik ini hanya kamu putari pekarangannya?

Jangan menunggu sampai Allah menyentilmu kembali.

 

“Mungkin ini cara Allah untuk menyelesaikan semuanya,” -Em-

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Lagi-lagi Tentang Hati

  1. [en]emy says:

    Sebentar lagi, Jeng. Gue yakin sebentar lagi kita berdua akan menertawakan semua ini. Sambil menghabiskan semangkuk Bakmi GM atau Mi Ayam Sizuki. Insya Allaah, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s