Burulah Tas Sampai ke Paris – 5

Hari ketiga bangun pagi kami lakulan dengan susah payah. Saya tetap bangun pagi dan membangunkan Sampo dan Lipstik. Kamar mandi tidak pernah kosong, diisi oleh kami yang bergilir setor pagi dan mandi. Teriakan juga terdengar di ruang tengah, kamar mandi, dan dapur.

“Siapa yang mau roti?”

“Mbak Ajeng, minta teh tariknya ya? Siapa lagi yang mau teh?”

Dan sebagianya, teriakan pagi hari. Diam-diam di dalam hati Lipstik dan Sampo kesel saya bangunin tiap pagi, “Lipstikk bangunnn. Sampooo.”Pagi kami memang menyebalkan, lebih lagi untuk mereka yang saya bangunin dan “tekan”.

Saya harus begitu karena Baju meminta kami untuk datang pagi dan langsung mengantri, bahkan seperti yang saya ceritakan sebelumnya, di hari kedua dia juga “mengontrol” apa kami sudah berangkat atau belum. Karena itulah saya juga jadi satpam pagi-pagi.

Pagi ini saya dan Sampo masuk bersamaan. Kami mengantri berbarengan sebelum toko buka dan masuk bersamaan langsung di bagian cukup paling depan. Paling depan tiba-tiba saja sudah berada di antrian paling depan, padahal dia berangkat setengah jam setelah kami dari rumah. Dia ternyata masuk lewat pintu belakang yang letaknya dekat dengan bagian tas. Pecobaan pertama kami di pagi itu gagal, pulang kembali ke gereja dengan lemah letih lesu.

Saat saya untuk kedua kalinya mengantri dan berada di antrian paling depan sekitar pukul satu dan , saya melihat Sampo tidak jauh di belakang dan setelah itu Lipstik. Siang hari memang waktunya makan siang, karena itu SA yang bertugas di bagian tas sangat sedikit, tentu saja membuat antrian semakin panjang dan lama.

Entah siapa yang melayani saya siang itu, yang jelas saya kembali ke gereja dengan letih dan lesu. Kami berjanji akan makan burger hari ini dan nanti sore akan pergi ke museum Louvre sepulang “kerja”. Sayangnya rencana tersebut tdak ada yang terjadi.

Di gereja saya sendirian, engga ada satu pun dari mereka yang datang selama saya menunggu satu jam di sana. Karena bosen, saya kembali ke butik. Sampo berdiri di barisan paling depan dan Lipstik tidak terlihat. Tetapi saya tidak heran, karena dua-tiga menit sebelumnya dia menelepon saya.

“Mbuy! Gue dapat! Nanti aja gue ceritain!” katanya dalam beberapa detik, tidak menjawab pertanyaan tas apa yang berhasil dia dapat.

Begitu saya masuk antrian, saya menuliskan di grup whatsapp kami bertiga. Saya lihat Sampo di depan sana memegang hpnya. Tak lama balesan masuk, dari Pelana.

“Dapat apaaa???” katanya. Ah sial, ternyata saya salah masuk grup. Bukan grup kami bertiga, melainkan grup berlima bersama Baju dan Pelana.

Maksud saya tidak memasukan ke grup berlima adalah agar tidak terjadi kehebohan, dan benar saja, Baju dan Pelana heboh bertanya apa yang didapat Lipstik. Tentu saja tidak bisa saya jawab, karena dia sendiri tidak kelihatan dan tidak memberitahu apa yang ia dapat.

Telepon dari dia tadi itu maksudnya mungkin soal uang. Kami memang sudah sepakat, jika kami berhasil dapat dan uangnya kurang, kami akan janjian bertemu di kamar mandi untuk transaksi uang. Kebetulan memang uang yang diletakan di tas pinggang harus diambil dan cuman bisa dilakukan di kamar mandi, karena itu sekalian saja transaksi uang. Karena Lipstik tidak meminta uang di telepon, kami anggap uang dia cukup.

Tidak lama, masuk pesan dari Sampo di grup yang sama, yang sekarang sedang dilayani oleh SA “Aku kayanya dapat nih,” hal pertama yang saya pikirkan adalah, “Verdammt, gue besok bangun pagi sendirian!!” 

Dari tempat yang saya mengantri, saya bisa memperhatikan Sampo lewat cermin yang berada di samping dia. Saya lihat dia mengetuk-ngetuk meja kaca estalase sambil menunggu SA yang pergi untuk mencari barang yang dia cari.

“Aku ditawarin tas kecil, kaya ini dan ini. Aku ambil aja?” tulisnya di grup dan cepat direspon oleh Baju. “Tas kecil apa pun ambil aja, tapi jangan dompet”. Dia berhati-hati sekali, jangan sampe Sampo salah beli lagi seperti kemarin. Dia lalu menyebutkan ciri-ciri tas kecil.

Tidak lama kemudian, entah bagaimana mungkin, Sampo mengirimkan sebuah foto barang tersebut.”Woooww fotooo, kan ga bolleehh” kata Pelana mengomentari. Hal yang sangat tidak mungkin, di butik tersebut, ada larangan foto. Baik foto barang yang sedang di tangan, interior, dan apa pun. Jika ketahuan, SA akan turun tangan langsung untuk menegurnya.

“Itu dompeeettt!! Jangan dibeliiii” ga lama Baju mengomentari foto yang dikirim Sampo. “Ajeeeng, telepon Sampo jangan beliii” Pelana dan Baju heboh di grup.

Tentu saja Sampo tidak membalas apa pun di grup, karena dia sedang ngobrol dengan SA. Saya bisa melihat semuanya dari kaca. Jadi saya tenang saja saat dia tidak membalas apa pun di grup.

“Ga dibeli kok sama Sampo. Gue liat dia dari cermin nolak dompetnya dan keluar toko. Tenaaaang bapak-bapak dan ibu-ibuuuu.” dan mereka bernafas lega setelah saya kirimkan itu.

Saat heboh di grup dengan mereka bertiga, Lipstik lewat depan antrian dengan menenteng sebuah tas oranye besar. Oh dia beneran dapat! Dia beneran besok engga bangun pagi!

Selama obrolan di grup juga kami berdoa agar kami dapat hari ini. Sayangnya, Sampo hanya di-php-in. Ternyata tas kecil yang ditawarkan sudah jatuh ke tangan orang lain dan saya juga gagal. Pada obrolan di grup itu juga, Pelana sempat bilang, “Biar lancar, Jeng, biar dapet jodoh di sanaaa.”

Saya yang lagi engga enak badan parah menjawab singkat, “Ga pengen jodoh sekarang mah, pengen tiduuurrr, ga enak badaaaann.”

Yang tadinya saya males cerita kalau saya sakit, jadinya saya ceritakan saja yang sebenarnya, saya sakit sejak hari pertama, tapi sudah minum obat yang disarankan Jack lewat whatsapp.

Baju bilang, saya besok beli apa saja selain tas B dan K, dari pada saya semakin tumbang dan Jumat sama sekali tidak bisa hunting tas.

Hari ini berburuan kami berakhir sampai di sini. Saya dan Lipstik pulang. Dia engga berani pulang sendirian melewati daerah ghetto dengan sebuah tas oranye besar itu, karena itu saya menemani.

Selama saya masih mengantri di dalam, Sampo dan Lipstik menunggu di sebuah cafe di dekat butik. Tidak lama setelah Sampo kembali ke toko, saya pun muncul di cafe mereka dan pulang dengan Lipstik.

Cerita-cerita terkait:

Burulah Tas Sampai Ke Paris – 1

Burulah Tas Sampai ke Paris – 2

Burulah Tas Sampai ke Paris – 3

Burulah Tas Sampai ke Paris – 4

Advertisements

2 thoughts on “Burulah Tas Sampai ke Paris – 5

  1. Eky says:

    Hahahaha seru banget baca serangkaian ceritanya! Awalnya bingung tas yang dimaksud apa, tapi setelah disebut oren jadi sedikit ngerti. “H” bukan sih? Baru tau ternyata suka banyak yang nitip-nitip gini dan ada aturan 1x beli dalam 6 bulan.

    Nggak sambar nunggu cerita selanjutnya. Happy ending nggak nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s