Apa Kamu Akan Melupakan Aku?

Sebuah kilat terlihat jelas dari jendela kamarku, suaranya terdengar belakangan dari kejauhan, aku tiba-tiba teringat dengan malam itu di musim semi yang lalu. Aku dan kamu bersembunyi dari dingin di balik selimut di sofa merah di rumahku. Perut kita kekenyangan oleh mie bakso yang menurutmu pedasnya minta ampun, padahal aku hanya memberikan sedikit bubuk cabai ke dalamnya.

Kamu terkejut saat aku bilang aku akan pergi minggu depan untuk dua bulan. Sepertinya kamu memang bukan orang yang bisa mudah mengingat apa yang aku omongkan, karena berita itu sudah aku katakan padamu sedari tiga minggu lalu sebelum kamu pergi liburan ke kampung halaman.

„Kamu akan melupakanku saat aku pergi nanti?“ tanyaku, sambil menatapnya. Senang sekali malam itu aku melihatmu lagi di sampingku.

“Tidak, aku juga tidak pernah berencana untuk melupakanmu.” jawabmu singkat, sambil menggenggam tangaku lebih erat.

Malam berjalan sangat singkat, jika kita menikmatinya. Tidak pernah ada waktu yang tidak aku nikmati jika bersama denganmu, malam hampir semakin meninggi, saat aku mengantarkan kamu sampai depan pintu putih. Kamu memberikan aku dua kali pelukan kencang, yang kelak sangat aku rindukan jika kita sedang berjauhan.

Selama aku praktikum dan meninggalkanmu, kita tidak pernah melewati hari dengan pesan singkat. Mulai dari yang benar serius, sampai dengan basa-basi. Puas tidak puas, tetapi hanya itu yang teknologi bisa bantu untuk kita. Kata manis dan kemarahan hanya dapat kita sampaikan lewat tulisan.

Saat aku kembali, kita masih senang bersembunyi di bawah selimut, karena musim dingin datang lebih panjang tahun itu. Bahkan kelinci paskah harus rela dikelilingi oleh salju, berdiri berdampingan dengan sinterklas yang tidak jadi pulang ke kutub utara.

Sampai saat itu kita masih tidak berani untuk mencari tahu apa yang terjadi di antara kita. Kita membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Jika ada yang bertanya, entah mengapa kita kompak menjawab, “Kami teman,” lalu tidak mengacuhkan pertanyaan berikutnya. Adakah pelukan hangat dan kecupan manis dalam setiap pertemanan?

“Aku senang bertemu dengan kamu kembali, apa kamu rindu aku selama kita berjauhan?”

“Ya, tentu saja, karena itu aku selalu mengirimimu pesan singkat.”

Jawaban yang tidak memuaskanku, sebenarnya. Karena aku tahu, kata manis darimu itu sudah berubah. Aku bukan ahli, tapi kesibukanku adalah meneliti tulisan. Aku tahu jika ukuran jarak dan kedekatan berubah mendekati skala satu sampai lima.

“Jika aku pergi lagi, apa kamu akan melupakanku?

“Tentu tidak, aku tidak pernah berencana untuk melupakanmu.” katamu, seperti beberapa bulan sebelumnya. Saat kamu baru aja kembali dari liburan di kampung halaman, pusat matahari bersinar di Eropa. Jawaban yang sama. Tanganmu pun sama seperti saat itu, menggenggam tanganku.

“Apa kamu pernah berencana untuk mempertahanku?”

Demi melihat reaksimu, aku memiringkan badan. Kamu terdiam. Genggangam tangan mengendur. Matamu yang cokelat menatapku beberapa detik, sebelum membuangnya ke jendela kamar yang kali ini ditempeli oleh beberapa bulir salju.

Tanpa kamu harus meneruskan apa yang ada di pikiranmu, aku sudah tahu jawabannya. Kita tidak bersama, kita sama-sama tahu tentang itu. Kita tidak akan pernah bersama, sekarang aku tahu apa yang kelak akan terjadi.

Aku bukan orang yang bisa kamu datangi, kalau kamu sedang ingin. Lamu meninggalkan aku di halte bis, kalau kamu sedang ingin menaiki bis yang lain untuk turun di halte bis yang berbeda. Ada banyak yang kita bicarakan, dengan satu tema besar yang selama ini kita anggap tidak perlu dibawa ke permukaan.

Kita ternyata tidak sama-sama tahu apa yang diinginkan dan tidak ada jalan tengah yang bisa kita lalui bersama. Malam itu tidak ada yang saling menyakiti, kecuali harapan dan kenyataan yang berbeda. Kamu pulang melewati pintu putih yang sama, seperti pertanyaan itu dilontarkan untuk pertama kalinya. Bedanya, malam itu kamu meninggalkanku tanpa mendekapku sebelumnya.

Sampai saat ini, kita tidak pernah lagi saling bertukar kabar.

Hamburg, 25 Oktober 2015

Außer mich nicht zu vergessen, hast du auch vor mich zu behalten?”

Advertisements

One thought on “Apa Kamu Akan Melupakan Aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s