Burulah Tas Sampai ke Paris – 3

Hari pertama, kami keluar rumah sudah sedikit siang, yaitu pukul setengah 11. Pas banget saat toko buka. Memang sih kami diminta datang sebelum toko buka, tapi gimana atuh, kami semua kecapean dan bangun telat.

Waktu berangkat dan hape masih dapet wifi, di grup kami berlima di whatsapp masuk pesan dari Baju, nanya gimana antrian di toko. Tidak sempat saya balas, karena saya ga mau lebih lama lagi di apartemen dan ga mau aktifin internet di luar. Mahal bok kalau delapan hari kena roaming internet.

Setelah nyasar sedikit setelah turun dari kereta, nemu juga kami mothership toko tas ini. Sepanjang jalan isinya toko-toko barang mewah semacam Prada atau Channel, wihiii aku jiper, Kakaaaakk. Baju bilang, kami tidak boleh masuk ramean, karena takut dicurigai sebagai reseller. Beklah, kalau begitu Sampo masuk pertama, disusul Lipstik lima menit kemudian, lalu saya.

Di depan toko memang tidak antri, tapi di dalam.. antri dong Kakak. Dan itu hanya untuk di bagian tas saja. Semua bagian tidak ada antrian, kecuali bagian tas, di mana semua orang di sana nanyain tas fenomenal. Termasuk kami bertiga.

Karena antria tidak panjang dan jarak masuk kami kurang jauh, jadinya kami antri dekat-dekatan, tapi pura-pua tidak kenal. Susah juga ya bok, kalau kami liat-liatan mata rasanya mau senyum!

Toko tersebut besaaar sekali dengan dua lantai. Di lantai pertama, saat masuk, akan disambut oleh security dan dua orang SA yang berjaga di pintu. Kalau di luar hujan, mereka akan memberikan plastik bening untuk tempat payung. Di sebelah kanan display tas-tas dan kasir. Sebelah kiri deretan scarft, gelang-gelang, dan perhiasan.

Dari tempat perhiasan, jika belok ke kanan akan ada bagian sepatu pria dan di sana bisa dilihat langsung proses pengrajinan sepatu. Terus masuk ke dalam adalah bagian pakaian pria. Jika belok ke kanan, akan menemukan antiran super panjang di bagian tas. Ke atas adalah tempat perabotan rumah tangga, perlengkapan bayi, pakaian wanita pria, dan sepatu wanita. Di belakang antrian tas khusus untuk perlengkatan berkuda. Sesuai dengan lambang merek mereka.

Sebenarnya ya, toko itu semacam toserba, semua ada. Mau cari handuk, mereka punya, bahkan cari sendok garpu dan asbak juga tersedia. Cuman produk makanan aja yang ga ada. Hehe.

Toko dibuat super misterius. Tidak boleh ambil foto di dalam toko. Kalau ada yang ketahuan, langsung disamperin SA dan diperingati. Dari depan juga jendela-jendela toko ditutup biar ga ada yang bisa ngintip. Selain itu, kamera cctv di mana-mana, di setiap sudut toko, sama kaya SA yang juga ada di mana-mana dengan pakaian hitam rapih dan untuk perempuan dipercantik dengan scarft merek mereka.

Kalau ada yang bilang di toko engga ada tas di display, itu bohong, ada kok banyak tas di display. Yang ga adalah tas A dan B yang fenomenal itu. Mereka engga ada di mana pun, kecuali di tangan pengunjung, baik yang ikut antri atau yang sedang belanja barang lain. Lumayan lah biar apal lagi bentuk tas tujuan kami.

Sebagian besar pengunjung toko adalah orang ASIA. ORANG ASIA, saudara-saudara. Gilews dah. Sebagian besar bermata sipit. Aku sampai pusing liatnya, berasa sedang di Jepang :-p Dari tua sampai muda banyak bener dah mereka. Di antrian tas juga sama banyaknya.

Pertama kali antri, kami menghabisan waktu sejam kali ya. Lupa deh, yang jelas hasilnya: GAGAL. Muahahahaha. Jadi proses dari antri sampai gagalnya begini..

Begitu kita berada di antrian pertama, akan ada SA yang nyamperin SA yang tugasnya menjaga antrian kami. Ga tau deh dia ngobrol apa, ga bisa bahasanya gue, yang jelas terus SA penjaga akan menunjuk orang di antrian pertama. Lalu SA yang nyamperin akan mengajak kita ke estalase yang kosong sambil bilang, “Hello Madame, thank you for waiting, what can I do for you?”

Next step, kita bilang tuh mau tas A. Dia akan tanya ukuran. Setalah itu akan tanya warna. Ga cuman itu, dia akan tanya itu buat sendiri atau buat kado. Setelah mencatat semuanya di kertas yang dia bawa dari tadi, dia juga akan tanya ada tas lain yang mau diliatin juga engga. Biasanya saya akan menyebutkan tas B. Kalau kita ga punya permintaan lain, dia akan minta paspor kita untuk dicatat nama dan nomor paspor.

Kalau ada yang bilang, kalau SA pergi dari kalian, berarti kalian akan dapat tasnya. It is a HOAX ya eperibodeh. Dia pergi karena.. di bagian tas cumana da satu komputer, jadi kalau menurut saya, dia muterin toko cari komputer yang kosong. Terus dia datang lagi deh ke kita, kalau tanpa kotak oren ya berarti: Anda GAGAL.

SA di tempat tas ga banyak, terutama jika waktu istirahat makan siang. Mulai jam 12 sampai 16 adalah waktu terburuk untuk mengantri. Bisa sampai dua jam! SA yang ngelayanin palingan cuman dua saja, padahal orang yang mau lihat banyaknya minta ampun. Ga heran antriannya akan panjaaang sekali.

Katanya, karena SA banyak jadi kemungkinan ketemu SA yang sama juga kecil. Salah juga. SA yang ketemu saya senin siang itu, ketemu saya lagi senin sore saat saya datang kembali untuk kedua kalinya. Dan dia masih ingat saya, jadi nyapanya langsung “hello again!”. Tiap hari saya pasti akan dilayani dengan SA yang sama. SA yang melayanin saya pagi, sorenya ketemu saya lagi.

Hari pertama itu kami menyempatkan diri ke belakang toko ke sebuah taman saat istirahat. Hujan udah turun seharian, lalu saat kami di sana matahari bersinar terik. Tapi ternyata ga lama, kemudian hujan besar ditemani angin kencang. Badai! Lalu matahari muncul lagi dan panas terik. Karena itulah, saya malamnya sakit. Dan terus sampai kembali ke Hamburg.

 

 

Tulisan terkait:

Burulah Tas Sampai ke Paris – 1

Burulah Tas Sampai ke Paris – 2

Advertisements

4 thoughts on “Burulah Tas Sampai ke Paris – 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s