Duduk di Depan Sana

Hujan turun mau tak mau. Rintiknya hanya bisa membasahi kepala selama beberapa menit dan lalu menghilang menjadi uap. Dari tempat aku duduk, aku bisa melihatmu dengan jelas, kalau kamu ada di sana. Hari ini, 95 persen kemungkinan kamu tidak akan datang dan duduk di depan sana.

Hari ini adalah hari bekerja. Satu-satunya hari yang kamu ambil untuk membuat uang di rekeningmu bertambah. Kalau kamu hari ini tidak bekerja, maka kamu tidak akan tambah kaya. Tapi, lima persen lainnya adalah kemungkinan kamu tidak bekerja dan lebih suka duduk di depan sana.

Seingatku, kamu bilang dalam dua hari ke depan kamu akan menulis sebuah ujian penting. Sedikit banyak aku mengenalmu. Kadang uang di rekening bukan sebuah hal yang lebih penting dari ujianmu, karena itu, mungkin saja kamu lebih suka datang dan duduk di depan sana.

Kali lain adalah ketika seseorang dan sebuah tempat lebih menarik perhatian kamu, dibandingkan duduk di dalam mobil seharian. Kamu meninggalkan hari kerjamu yang hanya satu-satunya dalam satu minggu itu dan pergi ke sisi kota yang ternyata mempunyai sebuah hutan yang cantik.

Kamu memilih untuk berada di sana, mengagumi hobimu dan orang yang langsung membuatmu jatuh hati. Hari itu, kamu tidak akan datang untuk duduk di depan sana.

Esok kamu juga tidak akan duduk di depan sana, karena kamu berjanji akan menyusuri sebuah jalan panjang yang membelah sebuah negara dan namanya diabadikan dari seorang Nabi. Kamu akan berjalan selama satu bulan, menantang diri sendiri, selain karena namanya sama dengan nama yang kamu sandang.

Saat itu, kamu akan melakukan istirahat panjang dan dipastikan tidak akan datang untuk duduk di depan sana.

Setelah itu, kamu akan kembali duduk di depan sana, bukan? Tempat yang membuat aku merasa terintimidasi, karena di depannya adalah sebuah tembok putih, besar, dan kokoh.

Saat kamu kembali, aku akan kembali melihatmu dari kejauhan. Akan memperhatikan kembali, bagaimana kamu meneliti setiap kuku-kuku jari tanganmu. Aku akan melihatmu duduk di depan sana dari kejauhan, yang mungkin tidak pernah akan kamu sadari.

Untuk kamu yang selalu duduk di depan sana.

Hamburg, den 15. August 2015.

Viel Glück mit der Klausur. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s