Silaturahmi a la Media Sosial

Sadar engga sih, sejak hampir semua orang menggunakan media sosial, kita jadi terlalu gampang mengetahui kabar orang lain dengan cara mengintip profil mereka?

Di sisi lain, hal ini ironis juga. Untuk mengetahui kabar orang lain, kita mengintip profil mereka di Facebook, Twitter, dan sebagainya, bukannya bertanya langsung ke dia. berinteraksi. Bersilaturahmi.

Hal ini saya sadari baru-baru ini, saat asik ngepoin Permen Karet. Dia bukan orang yang punya media sosial, jadi satu-satunya cara untuk “mengunjungi” dia adalah dengan buka website kantornya atau website researcher. Dari sana saya tau, selama enam bulan terakhir ini dia sudah menuliskan beberapa jurnal penelitian bersama rekan-rekannya.

Teknologi memang hebat, tapi ini bodoh banget. Saya bukannya langsung menghubungi dia dan bertanya kabar, tapi malah mengintip website-website yang ada dia di dalamnya. Itu seperti lo sedang mengintip jendela rumah orang untuk mengetahui penghuninya masih hidup atau engga. Ya, ga, sih?

Bukannya geer ya, tapi mungkin di luar sana juga ada yang mau tau kabar saya, tapi lebih suka baca blog atau Twitter, Facebook, dan Instagram saya. Eh bukannya mungkin lagi sih, pernah kejadian soalnya.

Desember lalu saya ketemu teman lama, saat itu saya cerita ke dia tentang kepergian Papah saya. Tau jawaban dia apa? “Iya aku tahu, aku sudah baca blog kamu.” dan saat saya tanya kenapa dia baca blog saya, jawaban dia, “Untuk tahu kabar kamu.” *backsound suara petir menggelegar*

Dia sebenarnya bisa menghubungi saya langsung, karena dia punya alamat e-mail saya, tapi mungkin ada alasan lain mengapa dia lebih suka melakukannya dengan cara mengumpat-ngumpat.

Dari situ saya sekarang belajar buat silaturahmi langsung ke teman-teman, misalnya dengan kirim pesan pribadi untuk bertanya kabarnya, selain ngepoin orang lain di Facebook, yang ga munculin notification siapa aja yang mengunjungi kita. Rasanya emang aneh sih, bertahun-tahun engga ada kontak, tiba-tiba nanya “korban”. “Korban” juga pasti lebih heran, kenapa ih tiba-tiba nyolek gue? Mau nawarin bisnis MLM, kah?

Tapi di sisi lain, mungkin ada banyak alasan yang membuat kita sebaiknya bersilaturahmi dengan cara ini, dibandingkan dengan langsung.

Kalau kalian, lebih suka ngepoin media sosial orang lain atau tanya kabarnya langsung?

Advertisements

10 thoughts on “Silaturahmi a la Media Sosial

  1. rosaamalia says:

    Sosmed bikin kita kehilangan personal touch sm temen/ kluarga klo smua2 bisa diakses lewat sosmed.
    Klo yg g akrab2 bgt sih lwt sosmed gpp, tp klo yg dket n berarti (cielah bhsany) ttp harus japri klo ak mbak hehe

  2. zilko says:

    Hahaha, ceritanya mata-matain mantan ya ini?? 😛

    Anyway, memang begitu ya perkembangan zaman dan teknologi sekarang. Wujud silaturahmi jadi berubah (atau bergeser?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s