Aku Sudah Mendapat Cukup Darimu

Hujan di luar, mengguyur pekarangan kampusku sore ini. Matahari belum juga menurun, gelap lagi disebabkan oleh awan yang seminggu terakhir tidak mau pergi dari atas kotaku. Aku teringat kamu.

Kamu bukanlah pecinta jaket hujan. Berkebalikan denganku. Kamu lebih menyukai payung. Katamu, payung menghindari air hujan lebih baik dari jaket. Kataku sebaliknya, apa lagi kalau dilengkapi sepatu karet saat menembus hujan. Tidak ada lagi yang kamu butuhkan selain mereka.

Hampir dua minggu lalu kamu memintaku untuk bertemu denganmu. Waktu itu sudah malam, walau lagi-lagi gelap belum juga hendak turun. Pada malam musim panas seperti ini, matahari baru akan mulai memudar setengah jam setelah kita bertemu. Pertemuan terakhir kita.

Aku tidak menemukan senyum di bibirmu. Aku tidak menemukan bibirmu di bibirku. Ia meleset ke samping, pipi kananku. Saat itu, dadaku berdebar kencang. Asaku hilang. Maksudku, benar-benar hilang, karena lima belas menit sebelumnya ia sedang surut, setelah mendengar kamu tidak ingin membocorkan apa yang akan kita bicarakan.

Dugaanku benar. Kamu tidak ingin lagi bersamaku. Kamu sudah mendapatkan kecukupan itu dariku. Tidak seperti tiga bulan sebelumnya, kamu selalu mengatakan, “Aku tidak bisa mendapatkan cukup darimu,” lalu menciumku lembut.

Kamu bilang, kamu sudah memikirkannya sejak lama. Kamu bilang, kamu tidak bisa melihat kita berdua di masa yang depan. Kamu bilang, kamu tidak lagi bisa melihat mataku saat mengucapkan cinta. Kamu bilang, karena itulah kita harus berpisah.

Pada surat elekronik balasan yang datang padaku seminggu kemudian. Kamu bilang, kamu berbohong dengan semua perilaku yang kamu kerjakan. Berbohong kepadaku dan dirimu sendiri. Yang aku tidak mengerti, kamu bilang menikmati semua waktu yang kamu habiskan bersamaku. Dan kamu bilang, sudah beberapa minggu sebelumnya kamu memikirkan semua ini.

Kita bahkan belum lama bersama. Kesimpulanku, sebagian besar yang kamu lakukan adalah kebohongan. Sekian banyak kata cinta yang kamu katakan adalah kebohongan. Pegangan tangan dan ciuman-ciuman itu tidak tulus. Semua kamu lakukan dengan terpaksa.

Karena itu kamu ingin berpisah denganku. Kamu melihat aku dengan tulus membuatkanmu semangkok bakso, merayakan kamu berhasil mengumpulkan tugas tepat waktu.

Kamu mendengar aku berkata riang, betapa aku mencintai dan merindukanmu. Kamu merasakan pelukan-pelukan hangatku, saat udara dingin menerpa kita di suatu siang. Kamu melihat mataku bersinar setiap kita menikmati makan malam di ruangan ramai orang berlalu lalang.

Malam itu. Saat aku membalikan badan darimu di taman, aku tidak mengerti apa yang harus aku rasakan. Hatiku seperti remuk, tidak mengerti apa yang salah dari kita. Tanganku panas, karena sedari tadi aku mengepalkannya untuk menahan diri untuk tidak bersedih.

Dua minggu terakhir sebelum kamu memilih untuk melepaskanku,aku mulai menjaga omonganku untuk tidak mengumbar cerita masa lalu. Aku mulai mencoba untuk memelukmu lebih hangat, agar kamu merasakan hangat yang lebih besar dariku.

Aku mulai membiarkanmu tidur sampai matahari di atas kepala tanpa berkomentar. Aku mulai untuk meletakan beras di atas telapak tanganku, bukan menggenggamnya dalam kepalan.

Dua minggu terakhir sebelum kamu memilih untuk melepaskanku, aku mulai benar-benar belajar untuk benar-benar mencintaimu. Karena aku tidak ingin mengecewakanmu, yang aku kira mencintaiku.

Hamburg, 22 Juni 2015

“Ich habe von dir schon genug gekriegt.”

Advertisements

8 thoughts on “Aku Sudah Mendapat Cukup Darimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s