Gerhana Matahari

Dari jendela kamarku, aku bisa melihat bulan sabit berwarna kuning yang posisinya lebih rendah dari pada biasanya. Dia berada di sela-sela ranting-ranting pohon pinus, berjarak terlalu dekat dengan gedung-gedung apartemen yang tingginya tidak seberapa dibandingkan dengan jarak Bumi dan Bulan.

Bulan lalu di negaraku terjadi sebuah fenomena alam yang bisa saja terjadi sekali dalam setahun, yaitu gerhana bulan. Yang membuatnya tidak biasa adalah bertepatannya dengan supermoon, sebuah istilah yang digunakan saat bulan terihat lebh besar dari biasanya, karena dia sedang berada di jalur lintas yang berada di titik terdekat dengan bumi atau titik perigee.

Sebenarnya itu hanya optiknya saja, ukuran bulan ya memang tidak pernah berubah, tetap saja berdiameter 1.700 KM. Ketika gerhana bulan terjadi, dia akan terlihat lebih kuning atau merah, karena ia tertutup oleh bayangan bumi.

Sedangkan gerhana matahari berbeda, bulan akan berada tepat di tengah-tengah matahari dan bumi. Dia akan mengganggu matahari yang sedang menyinari bumi, karena itu dia akan menimbulkan gelap di bumi. Tidak benar-benar gelap seperti saat matahari menghilang, tentunya, tapi itu juga tergantung kapada keadaan alam lainnya, misalnya kabut.

Melihat gerhana adalah sebuah pengalaman emosional, karena itu banyak orang yang bersedia menyusutkan waktu tidur demi memilihat gerhana bulan. Atau banyak juga yang rela meninggalkan aktifitasnya untuk menikmati gerhana matahari, yang datangnya sekali dalam sebelas tahun di daerah yang sama.

Mungkin kejadian itu juga pengalaman emosional yang sama dirasakannya oleh matahari dan bulan, ketika mereka bertemu dan mulai berciuman, karena itu semua orang bisa merasakan indah yang sama.

“Hey, apa yang kamu lihat di luar sana?” sebuah sentuhan di pipi kananku membuyarkan lamunan tentang bulan dan matahari.

“Aku tahu seperti apa ciuman pertama kita waktu itu, yaitu seperti bulan yang datang di siang hari dan mencium lembut matahari. Singkat, namun indah, dan membuat bumi menjadi lebih sejuk. Saat itu adalah saat gerhana matahari terjadi.”

Aku menghentikan omonganku, demi melihat pupil matamu yang membesar. Matamu seakan bersinar mendengarku.

Sebuah senyum mengembang perlahan dan bibirmu mendarat lembut di pipi kananku, tepat setelah kamu lirih berkata, “Ich habe Dich lieb, Skarbie.”

Advertisements

7 thoughts on “Gerhana Matahari

  1. Rifai Prairie says:

    -__- manis.. trlalu manis.. untuk dibaca. *bosan maksudnya. Kalo bisa labih banyak dikasih action dari para tokoh dan juga lebih banyak dialog. Bisa membangun suasana dan konflik.
    ini ceritanyamanis, but flat. datar dan… yah! saya tuggu kelanjutannya saja lah!
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s