Menikmati Gerhana Matahari dari Observatorium Gojenbergweg

Sesuai dengan janji di tulisan sebelumnya, kali ini saya mau cerita tentang melihat gerhana matahari di observatorium Gojenbergweg Hamburg, pada Jumat 20 Maret 2015.

Mengintip melalui teleskop Lippert - Astrograph

Mengintip melalui teleskop Lippert – Astrograph

Dua hari sebelum gerhana terjadi, observatorium tersebut membuka sebuah seminar tentang gerhana matahari. Sebenarnya tiap bulannya mereka memang mengadakan seminar tentang astrofisika, namun karena ada „acara khusus“, jadinya dibuatlah seminar ini untuk menyambut gerhana matahari.

Gerhana matahari ini sayangnya tidak bisa dinikmati oleh seluruh dunia, kali ini hanya di dataran Eropa saja. Itu pun Hamburg hanya kebagian gerhana matahari sebagian, dalam artian tidak akan ada titik di mana bulan benar-benar di posisi tepat di depan matahari, melainkan dia hanya akan „lewat“ pinggiran matahari saja, seperti saat bulan sabit. Namun, Jerman selatan (München) kebagian gerhana matahari penuh, beruntung sekali!

Selain seminar tersebut, obseravtorium tersebut juga mengundang warga untuk bersama menikmati gerhana matahari tersebut. Mereka bahkan menyediakan teleskop-teleskop mereka sebagai media, agar kami bisa dengan nyaman menikmatinya, selain menjual kacamata gerhana matahari dengan murah.

Kacamata Gerhana Matahari

Kacamata Gerhana Matahari

Kacamata Gerhana Matahari

Mirip dengan kacamata 3D ya!

Beberapa hari sebelum gerhana matahari terjadi, kacamata-kacamata tersebut habis dari peredaran di Jerman. Laris manis. Bahkan, harganya juga jadi selangit, sekitar 30-40 Euro untuk sebuah. Mahal! Di observatorium kami bisa menukarnya dengan uang kecil dua euro saja.

Observatorium terbuka dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang, sedangkan gerhana akan terjadi sekitar pukul 09.33 sampai dengan 11.53 CET. Saya sampai ke sana jam 09 tepat dan sudah penuh. Sejak beberapa hari sebelumnya sudah ada sembilan kelas dari sekolah dasar yang mengumumkan untuk datang ke sana.

Sternwarte HH

Sternwarte HH

Lebih penuh lagi di dalam bus dari stasiun Bergedorf ke lokasi, satu (atau mungkin saja dua) kelas anak-anak SD ikut masuk untuk bersama menikmati gerhana matahari di sana. Berdesak-desakan sekali, saya bahkan berdiri tepat di pintu masuk depan dekat supir.

Saat tiba di lokasi, orang-orang dari observatorium sedang mempersiapkan teleskop-teleskop besar, bahkan ada seseorang yang sedang dikejar waktu, karena teleskop dia belum beres sedangkan dalam waktu 10 menit gerhana matahari akan datang.

Cantik yaa :)

Cantik yaa 🙂

Teleskop dipasang kamera

Teleskop dipasang kamera

Di samping itu ada juga beberapa orang yang sibuk dengan teleskop-teleskop yang lebih kecil di halaman observatorium. Saya rasa sebagian dari mereka adalah penghobi astronomi yang membawa teleskop pribadi mereka.

Siapin Teleskop Merah

Seorang penghobi astronomi mempersiapkan teleskopnya

Teleskop Merah

Anak-anak mengantri untuk mengintip Matahari dan Bulan

Di situ saya merasa sedih, karenaaa saya ga bisa melihat gerhana dengan teleskop saya. Sampai sekarang saya belum bisa menggunakan dia, mau ke klub untuk astronomer pemula, tapi saya belum ada waktu, karena masih ada tugas kuliah.

Makin sedih melihat ada seseorang yang membawa teleskop persis dengan punya saya, hanya beda merek. Di depan lensanya dia sudah pasangkan sebuah filter kuning. Di bawahnya ada tripod yang gagah menopang dia. Sungguh aku iriiiii sekaliiiiiii 😦

Siapin Teleskop

Siapin Teleskop

Siapin Teleskop

Siapin Teleskop

SkyWatcher dan Kamera

SkyWatcher dan Kamera

Semua teleskop yang ada di sana boleh diintip, baik dari pecinta astronomi atau dari observatorium. Ada yang disambungkan dengan kamera DSLR, jadinya pengunjung mengintip langsung dari layar kamera. Ada yang disambung dengan laptop, memudahkan orang untuk melihatnya. Selain itu, ya haru diintip langsung dari view finder, seperti teleskop merah di atas, dan sensainya beda banget.

Rasanya njleb banget liat kamera-kamera yang disambungin ke teleskop itu. Saya sama sekali ga motret gerhana, karena takut kamera saya rusak. Saat di seminar dua hari sebelumnya sudah dibilangin, liat gerhana bisa pakai selimut alumunium folie dari P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), tapi saya sama sekali ga kepikiran buat beli dan bikin itu jadi filter kamera, sampai siang itu Jack bilang, “Aku punya sebenarnya di rumah, dan harganya cukup murah, hanya 3 atau 4 Euro.” 😦

Sambungin Teleskop dengan Laptop

Sambungin teleskop dengan laptop

Hasil Sambungan Teleskop dengan Laptop

Hasil sambungan teleskop dengan laptop

Seingat saya, ada empat teleskop besar yang digunakan oleh observatorium, namun yang dibuka untuk pengunjung hanya tiga. Salah satunya memiliki fasilitas layar untuk mempermudah melihatnya, tidak harus mengantri lama untuk mengintip dari view finder.

Salah satu Teleskop Observatorium dari pintu

Salah satu teleskop observatorium dari pintu

Salah satu Teleskop Observatorium dari depan

Salvador Reflector Telescope

Teleskop sambung dengan layar

Salvador Reflector Telescope

Dua lainnya harus mengintip, bahkan salah satunya karena tinggi jadi harus digapai dengan menaiki tangga setinggi kurang lebih dua setengah meter terlebih dahulu. Beberapa anak SD mundur teratur, karena takut. Sebagian besar berani, apa lagi guru mereka memberikan motivasi besar sekali untuk mereka ke atas.

Mengantri untuk menggunakan teleskop

Mengantri untuk menggunakan teleskop

Naik Tangga untuk Intip Teleskop

Naik tangga untuk intip gerhana matahari melalui Teleskop Lippert – Astrograph

Tampak luar

Lippert – Astrograph

Siang itu di sana matahari bersinar sangat teriiiikkk sekali, saya sampai merasa kepanasan. Memang sih saat matahari berlangsung dan di titik puncak, jadi rada mendung, tapi ga parah. Masih saja terasa seperti musim panas.

Kami pulang jam 11.30, di jalan dari dalam kereta terlihat ada beberapa tempat yang terselimut kabut tebal. Saat sore hari saya buka Facebook, teman-teman saya di Hamburg juga banyak yang memasukan foto keadaan gerhana matahari dan ternyata Hamburg gelap dan berkabut!

Mereka bahkan hanya bisa menikmati gerhana matahari tidak penuh selama dua jam lebih, melainkan beberapa belas menit, karena kabut dan awan menutup matahari. Berbeda sekali dengan di Bergedorf!

Ga sia-sia deh saya bangun pagi dan menempuh perjalanan 2,5 jam bolak-balik hanya untuk menikmati gerhana matahari di observatorium Gojenbergweg 🙂

Jam Matahari

Jam Matahari

Seorang Profesor sedang menjelaskan Jam Matahari

Seorang Profesor sedang menjelaskan jam matahari

Tahun depan giliran Indonesia yang kebagian gerhana matahari, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2016. Sayangnya, hanya akan terjadi dalam waktu kurang dari tiga menit saja dan Indonesia cenderung berawan, jadi kemungkinan terlihatnya akan kecil sekali. Jangan lupa dicatet ya tanggalnya!

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Gerhana Matahari dari Observatorium Gojenbergweg

  1. dani says:

    Jadi latah pengen punya teleskop. Hahahaha. Keren keren Mbak fotonya.. Kebayang teriknya itu bisa cibrant banget warnanya. 😛
    Tahun depan ya di Indonesia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s