Maret di Observatorium

Bulan Maret sudah mau berakhir dan saya belum satu pun cerita apa pun di sini. Merasa bersalah pisan, padahal ada beberapa bahan cerita sebenernya.

Awal Maret saya kedatangan tamu, yaitu dosen saya saat kuliah di Unpad dulu. Beliau nginep di kamar saya selama lima hari. Karena beda umur yang ga terlalu jauh dan memang terakhir saya pulang kami sering ngobrol, jadi saya diizinkan memanggilnya dengan Teteh.

Teteh ini sebenarnya ada seminar di München, tapi karena di sana temennya lagi pulang ke Indonesia, jadinya Beliau mampir ke Hamburg. Kami pun jalan jalan setiap hari, kecuali hari kamis karena Beliau harus pergi ke rumah temennya di Wilhelmshaven.

Di Hamburg sendiri yang lulusan sastra Jerman Unpad bukan saya doang, jadi kesempatan itu kami gunakan untuk sekalian temu kangen. Ngobrolin masa-masa kuliah dulu, sampai dengan kehidupan pribadi.

Setelah Teteh pergi hari Sabtu pagi, sorenya saya pergi ke observatorium. Kalau lupa itu apa, mungkin masih ingat apa itu Boscha di Bandung? Mungkin ingat film Petualangan Sherina? Ada tempat di mana dia ada di sebuah tempat dengan sebuah teleskop besaaaaarrr, nah itu dia observatorium. Tempat untuk mengamati langit.

Di Hamburg ternyata juga ada sebuah observatorium di Gojenbergweg, daerah Hamburg Bergedorf. Dari rumah saya memerlukan waktu sekitar satu jam 15 menit untuk ke sana. Bergedorf itu bagi saya di ujung dunia, setahun sekali juga engga ke sana, karena (pikiran saya) jauh dan ndeso banget.

Setiap hari sabtu dan minggu, sehari dua kali kita bisa berkunjung ke sana, dengan uang 10 Euro (kalau ga salah) akan ada seorang guide yang mengajak kita melihat-lihat teleskop yang mereka miliki dan membantu memberikan penjelasan tentang observatorium tersebut dan teleskop-teleskop yang ada di sana, tetapi tidak digunakan dalam acara ini. Observatorium ini juga diurus oleh jurusan astrofisika Universitas Hamburg. Tour guide kemarin berasal dari jurusan tersebut, mungkin sedang ambil doktoral atau apa lah.

Observatorium Gojenbergweg ternyata sudah berdiri sejak lebih dari 100 tahun lalu. Sebelumnya mereka ada di tengah kota Hamburg, namun karena semakin lama semakin padat dan semakin banyak polusi cahaya, maka observatorium tersebut dipindahkan ke Bergedorf yang tempatnya di atas bukit dan relatif jauh dari pusat kota.

Kami juga berkunjung ke perpustakaan pribadi mereka, di sana banyak dokumen-dokumen yang berasal dari observatorium-observatorium lain di negara-negara lain. Saat ini yang terpikir oleh saya adalah Boscha Bandung, saya cari di deretan buku-buku dari huruf B, tapi hasilnya nihil.

Ternyata eh ternyata, dokumen tersebut ada di deretan huruf L, karena Boscha ada di Lembang, bukan di Bandung 🙂 Sejumlah tiga buku berjejer rapih di sana, terlihat sekali sudah tua. Rasanya senang sekali melihat mereka, seakan-akan melihat kampung halaman di negeri asing ini.

Hari sabtu tersebut bukan hari terakhir saya ke sana, karena hari rabu kemudian saya kembali ke sana. Malam itu ada sebuah seminar khusus tentang gerhana matahari, dilihat dari sejarah dan ilmu alam. Saya tidak suka sejarah dan seni, jadi sesi pertama lumayan membosankan. Selain itu, profesor yang memberikan seminar berbicara dengan cepat, membuat saya capek harus berkonstrasi penuh untuk mengerti dia.

Di sesi terakhir saya lebih segar, selain profesor yang ini ngomongnya lebih lambat dan santai, saya ternyata memang lebih tertarik dengan ilmu pengetahuan alam, lebih senang mendengar kalau tahun depan gerhana matahari akan menghampiri Indonesia pada tanggal 9 Maret 2016. Sayangnya, hanya bagian Indonesia utara, karena matahari akan terus naik ke utara.

Profesor tersebut juga mengatakan, di Indonesia biasanya berawan, jadi kesempatan untuk menikmati gerhana sangat rendah, apa lagi gerhana hanya akan berlangsung selama dua sampai tiga menit saja. Berbeda dengan yang terjadi di Eropa seminggu lalu, berlangsung selama lebih dari satu jam.

Saat gerhana matahari berlangsung, saya juga menikmatinya di observatorium, bersama anak-anak sekolah yang khusus datang untuk menikamatinya, juga warga Hamburg yang sengaja ke sana buat lihat lebih dekat.

Cerita tentang gerhana matahari ini akan saya ceritakan terpisah ya, biar postingan ini engga kepanjangan. Saya puas sekali melihat gerhana matahari di sana, karena selain bisa membeli kacamatanya dengan harga murah, kami juga berkesempatan melihat dari beragam teleskop yang ada.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya! 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Maret di Observatorium

  1. dani says:

    Bacanya kok seru ya Mbak. Minta fotonya doong. Hehehe. Gakboleh difoto ya?
    Yang di Lembang aja saya belom pernah dateng euy.. 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s