Meteor – Harta Karun Langit

Hampir jam 22 waktu Jerman bagian Hamburg. Saya masih di perpustakaan, lagi istirahat lagi dari belajar dan ngerjain tugas.

Tugas saya tentang perubahan bahasa. Saya ambil bahasa Indonesia, biar mudah, yaitu kata sudah. Saya harus mencari tahu fungsi-fungsi kata sudah dari lagu-lagu Indonesia dari tahun 80an, 90an, sampai 2000an. Dari situ ketahuan deh perubahan fungsi kata sudah selama tiga setengah dekade itu.

Tapi sekarang di sini saya engga mau membahas kuliahan, nanti saya kalau sudah beres. Anyway, gara-gara ini saya jadi sensitif banget dengan kata sudah, rasanya jadi gatel sendiri.

Mau cerita apa ya..

Tanggal 14 Februari kemarin, saat orang-orang merayakan hari Valentine, saya asik sekali dengan sebuah seminar berjudul “Meteor – Schätze des Himmels” atau “Meteor – Harta Karun Langit”. Seminar tersebut diselenggarakan di Museum Mineralogi Universitas Hamburg dan pengisinya adalah Prof. Jochen Schlüter dari museum tersebut.

Dia menjelaskan panjang lebar tentang meteor, bagaimana pembentukannya, bedanya dengan komet apa, berapa kecepatan luncurnya, pembentukan meteor crater, dan Beliau juga memberikan beberapa video fireball yang bikin saya terharu, karena seumur hidup belom pernah liat yang seindah itu.

Seminar selesai dalam waktu satu jam, dengan sebelumnya ditutup oleh sesi tanya jawab. Setelah itu kami dipersilahkan melihat-lihat museum dengan panduannya, Beliau juga ekstra mengambil sebuah meteor dari dalam sebuah ruangan dan kami dipersilahkan mengendongnya, jika mau.

Saat itu saya datang terlambat, karena sedang berada di bagian lain di museum. Saat saya tiba, tepat Beliau sedang bertanya, “Ada lagi yang mau mengendongnya?” saya langsung maju dan menggendongnya di dada. Masya Allah itu berat banget loh!

Besarnya sih hanya seperti ukuran kepala anak-anak, tapi beratnyaaa.. kata Nida sekitar 32KG. Saya aja ga kuat menggendongnya sendiri. Sebelumnya, di seminar itu Profesor juga memberikan sebuah contoh tentang sebuah meteor yang jatuh di Amerika, beratnya hanya 13KG tapi merusak sebuah mobil yang sedang parkir di garasi sampai ringsek. Kalo dari beratnya sih ga masalah ya, tapi mengingat kecepatannya yang sampai 10-25KM per.. detik, ga heran hal itu akan terjadi.

Potongan Bulan

Potongan dari Bulan

Di dalam museum itu, selain bisa melihat-lihat batu mineral, juga bisa melihat potongan meteor bulan, Mars, dan asteroid-asteroid. Profesor Schlüter juga menjelaskan bagaimana para peneliti bisa membedakan potongan-potongan tersebut.

Ternyata caranya begini, dari potongna Mars, misalnya, terdapat beberapa elemen yang tidak bisa ditemukan di bumi, bulan, dan asteroid, berarti asalnya dari planet lain. Planet yang paling memungkinkan untuk itu adalah Venus, Mars, dan Jupiter, misalnya. Planet Neptunus dan Merkurius tidak memungkinkan, karena terlalu jauh.

Dari ketiga planet yang jadi tersangka, setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, ditemukan ternyata elemen asing itu hanya ada di planet Mars, karena itu ditarik kesimpulan bahwa itu adalah meteor atau potongan dari planet Mars.

Kalau nanti berkesempatan ke Hamburg, sempatilah untuk mengunjungi museum ini, apalagi kalau kalian pecinta langit, seperti saya 🙂

Potongan Mars

Potongan dari Mars

Potongan dari Asteroid Vesta

Potongan dari Asteroid Vesta

Advertisements

5 thoughts on “Meteor – Harta Karun Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s