Menyentuh Akhir

Titik.

Ada saatnya, ketika kita akhirnya berpikir untuk mengakhiri sesuatu, misalnya, mengakhiri untuk menyukai seseorang.

Saat itu tidak bisa ditentukan dengan pasti kapan dan pemicunya, bisa terjadi kapan saja. Seperti contohnya saat aku melihat dia, membawa seseorang pulang ke rumah.

Pada awalnya mereka hanya duduk ditemani dengan obrolan membosankan di ruang makan sambil menyantap makan malam yang mereka buat sebelumnya. Mereka tidak menghiraukanku, dengan mengucapkan sebuah kata “Hallo” saat aku melintas. Lalu, malam-makam selanjutnya ada saja mereka di sana. Tertawa-tawa dengan obrolan yang terdengar jauh lebih akrab dan hangat.

Tidak pernah sekali pun aku berpikir, akan melihat mereka di ruang lain, sampai pagi itu datang. Aku bertemu dengan mereka di kampus, bergandengan tangan kaku, tapi aku lihat kencang. Mereka masih saling terdiam satu sama lain, karena fase ini terjadi sebelum fase obrolan-akrab-dan-hangat-diselingi-tawa. Saat itu aku tau, sudah saatnya sebuah titik diletakan di akhir cerita ini.

***

Kadang atau seringnya, aku berpikir untuk menyudahi saja, karena jawab dari doaku semalam seperti itu. Aku akan move on dari dia. Bukan move in ke dia, seperti canda temanku. Aku akan bergeming, walau melihat dia di layar smartphone atau komputer milikku. Akan melalui ini dengan mudah, semudah dia yang sudah beberapa hari terakhir tidak mengirimkan kabar padaku.

Sebelumnya, tidak pernah padaku terjadi hal seperti ini. Ini adalah kali pertama. Selama aku hidup. Aku sungguh sangat menikmatinya, namun karena itulah, aku ingin mengakhiri semua ini, sebelum aku merasakan gemuruh di hatiku berganti suara dengan yang juga tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak ingin gemuruh kepakan kupu-kupu ini berganti dengan petir.

Tiba-tiba,

Sebuah pesan singkat masuk, “Hey, sebuah hadiah kecil sudah di jalan menuju kamu. Aku pulang sekarang ke rumah orangtuaku. Bis dann!”

Aku membeku. Musim dingin belum juga memasuki masa kelamnya, tapi tubuhku sudah mulai membeku, tapi hatiku.. Ada hangat menjalar di sana, yang membuat aku tiba-tiba tersenyum, dan temanku bisa melihat binar di mataku. Apa ini namanya, saat aku baru saja membulatkan tekad, tiba-tiba kamu menyapa dengan lembut, dan.. mengirimi aku sesuatu, lagi.

Titik yang baru saja aku hitamkan di akhir paragraf yang aku tulis tiba-tiba aku beri buntut, dia berubah seketika menjadi sebuah koma dan di belakangnya aku menuliskan kembali ceritaku bersamamu. Tentang sebuah rindu yang aku lanjutkan kembali, dengan menerka-nerka rupa hadiah kecil  yang akan sampai di rumahku dua hari lagi.

Kamu tidak seharusnya melakukan ini padaku. Kamu seharusnya tetap di tempat kamu berada dan tidak melakukan apa pun, bahkan tidak mengirimi aku pesan, apa lagi hadiah kecil. Kamu seharusnya membiarkan aku membuat titik menjadi akhir segalanya, bukan menjadikannya lampu kuning untuk mengizinkanku menerukan semuanya dengan kehati-hatian.

Aku ingin tahu, kapan titik itu akan benar-benar ada.

Atau,

Mungkin memang dia tidak pernah ada.

***

Setelah satu minggu, aku memberanikan diri mengucapkan selamat malam kepadamu. Hari ini aku tidak tahu apa kamu tetap berangkat kerja, atau sedang bercelana tidur di rumah orangtuamu. Satu minggu tanpa kabar, membuatku harus menerka-nerka semua itu. Aku benci melakukannya, tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan.

Sebuah piktogram jam kecil di pojok kanan laptopku berubah dari jam 17.00 menjadi 08.00 dan warnanya berubah dari kuning ke hijau. Aku terkejut sesaat, sejak kapan kamu kembali ada di pojok kanan atas? Seingatku, aku sudah menghapusnya sedari beberapa bulan lalu untuk mengurangi intensitasku menghubungimu. Apakah aku bermimpi saat melakukannya? Tapi, sudah berapa sering aku melakukan kontrol dan menyakinkan diri yang aku lakukan memang bukan hanya dalam mimpi?

Sebuah kata Hallo masuk, diikuti namaku di belakangnya. Hanya itu. Cukup itu. Sebuah air jatuh, menetes pada tembok yang warnanya sudah berubah menjadi gelap, mengikuti aliran air dari atasnya. Bejana di bawahnya tidak pernah penuh berisi air, walau sederas dan sebanyak apa pun air mengalir dari atas tembok. Dia seperti tanpa dasar, padahal kamu bisa melihat genangan jenrihnya di sana.

Aku membiarkan kata sapaan itu membeku. Seperti musim dingin yang sudah membawa es turun tadi malam. Aku menghiraukannya, karena belum ada kalimat pernyataan yang dia tuliskan di sana, walau seberapa seringnya aku mengintip layar komputer jinjing hitam yang aku beri rantai untuk menghalau pencuri ini. Sampai tiba-tiba tiga kalimat datang berturut-turut untuk menjawab pertanyaan aku sebelumnya, dan seperti menjelaskan ke mana dia selama liburan kemarin.

Smartphone aku rusak total, tapi aku sudah pesan yang baru.

Entah mengapa kamu bercerita tentang itu. Seperti aku bilang, aku anggap sebagai penjelasan menghilangnya kamu.

*habis ide*

Advertisements

2 thoughts on “Menyentuh Akhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s