Pengunjung-pengunjung Perpustakaan Kampus

Berada di perpustakaan setiap hari sampai menjelang tengah malam, membuat saya semakin tahu karakter orang-orang yang berada di sana.

Di perpustakaan Asian African Institute (AAI) ada seorang bapak yang kelihatannya di atas 60 tahun yang seharian selalu duduk di sayap kanan perpustakaan. Biasanya dia membaca beragam buku, sambil mencoret-coret bukunya dengan stabilo kuning.

Bagi saya tentunya yang dicoret itu isi yang penting bagi dia ya, mungkin. Di meja dia selalu ada kertas-kertas, buku-buku, sebuah stabilo kuning, dan sebuah kamus sinonim bahasa Jerman. Barang terakhir ini selalu saya lirik dengan iri, karena saya sering butuh itu di perpustakaan. Di rumah ada, tapi males bawanya ke kampus.

Bapaknya ini selalu menggunakan topi, rambut setengah memutih dan sedikit panjang berantakan. Sebuah pullover abu-abu juga selalu dia kenakan. Terkadang bau yang berasal dari dia tidak sedap, walau tidak terlalu tajam. Kalau membaca, dia akan menundukan badan dan kepalanya sampai hampir menyentuh buku yang sedang dia baca.

Saya rasa dia bukan mahasiswa kampus sini, tapi “hanya” seseorang yang hobi baca dan senang menghabiskan banyak waktunya di tengah-tengah buku. Buku apa pun itu. Orang yang kaya ginilah yang perlu dicontoh.

Di perpustakaan pusat (Staatbibliothek) lebih beragam lagi orangnya. Lebih banyak lagi yang bisa diperhatikan.

Kalau seudah menjelang malam, di meja tinggi tepat di depan cafe akan duduk seorang perempuan di atas 30 tahun di sana. Berkulit gelap, mengenakan kupluk untuk menutupi rambutnya yang keriting, dan selalu membaca sambil menulis di mejanya. Bersama dia selalu dua sampai tiga tas dia bawa. Dia tidak pernah berada di sana sampai tengah malam, hanya sampai jam 22 atau 22.30 waktu setempat lalu menghilang.

Terkadang tas-tas yang dia bawa ada yang dimasukan ke dalam locker, yang lalu dia ambil sebelum pulang. Kadang dia pergi ke mana dulu, lalu kembali lagi menjelang malam dan kembali duduk di sana untuk belajar. Kalau tempat belajar favorit dia terisi, dia biasanya akan duduk di dekat sana dulu, lalu pindah ke tempat itu.

Ada seorang Bapak lebih tua, mungkin di atas umur 60 tahun dengan kulit gelap dan rambut keriting di perpustakaan yang sama. Bapak itu pernah saya lihat menghampiri perempuan yang tadi lalu mereka mengobrol dengan bahasa Inggris. Entah siapa di antara mereka yang tidak bisa berbahasa Jerman.

Mereka terlihat akrab sih pas ngobrol, tapi entah ngobrol apa saya ga pernah mau memperhatikan. Bapak ini selalu pulang lebih “siang” dari si perempuan dan selalu belajar atau membaca buku di lantai lebih atas, di tempat lebih sepi. Selain di perpustakaan, saya sering lihat dia di kantin fakultas saya. Di kampus ada tiga kantin besar. Makan sendirian dan selalu membawa koper hitam.

Kata Uwi dan Hani, dia pernah menyapa mereka saat makan lalu mengajak ngobrol. Sayangnya obrolannya ga nyambung, dia bertanya berkali-kali untuk hal yang sudah mereka jawab sebelumnya.

Pernah saat saya dan Uwi sedang belajar di perpustakaan pusat di depan cafe, bapak itu nyamperin lalu ngajak ngobrol. Awalnya pakai bahasa Inggeris, lalu berubah menjadi bahasa Jerman, setelah Uwi menjawab pakai bahasa Jerman. Dia ga lama sih berdiri di dekat kami, segera menghilang begitu melihat Uwi tidak antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan dia.

Di sekitaran cafe juga ada seorang lelaki lebih muda, berkisar umur 30 tahunan lah ya. Selalu sibuk dengan laptop. Kata Nida, dia buka Auto CAD dan itu bikin Nida pusing. Suatu hari saya duduk di depan dia, begitu menjelang malam, dia siap-siap pulang dan ternyata, dia tidak membawa sebuah tas pun, melainkan hanya beberapa kantong plastik.

Kantong plastik dan tempat umum, sudah dipastikan isinya botol kosong. Untuk ditukar dengan uang di supermarket. Ah, ternyata dia pemulung botol minuman kosong. Pernah juga saya lihat dia menerima botol kosong dari perempuan berkuliat hitam yang saya ceritakan di atas. Atau mereka saling mengobrol, mungkin saling kenal.

Yang saya tidak tahu, apakah dia juga mahasiswa atau bukan. Laptop yang dia bawa setiap hari, dengan santainya dia masukan saja di dalam salah satu platsik yang dia bawa itu. Wow.

Ga jarang saya lihat orang-orang di perpustakaan yang bawa koper, biasanya sih isinya buku. Saking banyaknya buku yang harus mereka baca ya buat bahan tulisan mereka.

Saya dan Nida selalu bilang, semakin malam, semakin terlihat banyak yang aneh di perpustakaan. Pernah suatu waktu di seberang meja kami datang seorang perempuan dan meletakan laptop, buku dan tempat pinsilnya di sana, lalu dia menghilang. Tidak lama kemudian, datang seorang lelaki. Berdiri selama beberapa detik, lalu ngomong ke kami, “INI BUKAN BARANG-BARANG GUE YA?! Hahaha. Mirip, kirain punya gue!” terus pergi sambil nyengir.

Saya dan Nida juga nyengir, sambil bilang, “Dasar aneh!” lalu ga lama kemudian, kami berdua melakukan keanehan yang sama. Dia akan buang sampah plastik bekas basreng, sambil nanya apa saya punya tisu. Setelah mengambil tisu dari bungkus yang saya kasih, dia memasukan bungkus tisu ke tasnya dan memberikan sampah plastik ke saya lalu pergi.

Kejadian itu begitu cepat, dan saya hanya berpikir, “Oh, Nida mau pergi ke toilet, karena itu butuh tisu dan ga ada waktu buat buang sampah,” padahal sebelumnya saya tau dia butuh tisu buat bersihin tangan, dan HALLO, di sini mana ada toilet yang ga pake tisu?

Tapi baru dua langkah, dia sadar yang dilakukan salah. Kembali ke meja, ambil bungkus tisu dan balikin ke saya, dan mengambil sampah plastik yang masih di tangan saya, lalu pergi sambil masih tertawa-tawa.

Memang semakin lama dan semakin malam di perpustakaan banyak orang aneh semakin terlihat, salah satunya ya saya ini.

Jadi penasaran, apa ya yang pengunjung atua satpam lihat dari kami yang tiap hari selalu di sana sampai tengah malam.

Advertisements

4 thoughts on “Pengunjung-pengunjung Perpustakaan Kampus

  1. zilko says:

    Hahaha, disini perpustakaan jauh lebih ramai kalau musim ujian *ya iya lah 😛 *. Tapi hari-hari biasa pun juga lumayan ramai sih, hehe 😀 . Tapi aku nggak pernah segitunya sampai mengamati para pengunjung perpustakaan. Well, karena aku sendiri jarang kesana sih. Kalau perlu membaca buku/artikel pun biasanya aku baca di kantor saja 😀 .

  2. libertymeivert says:

    Inilah salah satu perbedaan cara pandang orang Jerman dengan Orang Indonesia tentang Perpustakan. Disini kebiasaan membaca seperti sudah menjadi kebutuhan. Menarik tentang Asian African Institute (AAI), apakah mbak pernah kenal dengan (Alm) Prof. Rainer Charle ?
    Salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s