Berselancar

Ada badai di luar sana, aku bisa mendengarnya dari kamarku. Aku takut untuk membuka jendela, karena aku tahu akan tidak akan tahan dengan dinginnya.

Aku membaca surat kabar kemarin, hari ini akan ada badai di utara Jerman, tidak termasuk dengan tempat tinggalku memang, tapi tetap saja, aku memilih untuk di rumah. Tidak ada yang tahu bagaimana sebuah badai membesar atau mengecil, ingatanku mundur ke setahun lalu, saat Christian dan Xaver datang membuat tidak ada subway yang beroperasi karena kabel listrik ikut ditumbangkan pohon-pohon besar yang tumbang di atasnya. Kota kacau. Hari ini aku menghindari semua itu, dengan hanya berdiam diri di rumah. Di kamar.

Lalu aku mengingat kamu. Kamu sedang menikmati matahari, juga pantai. Sering kali kamu turun ke laut, dengan papan selancar kesayanganmu. Baju menyelam yang beratnya tiga kilogram itu sudah ada di ranselmu sejak awal, tentu sekarang sedang dipakai untuk menghindari dinginnya air laut. Kamu selalu menyukai laut dan menunggu saat ini sejak lama.

Ada sebuah danau yang sering digunakan untuk berselancar di belakang kantormu. “Setiap pulang kerja aku ke sana,” ceritamu setahun lalu. Iya, setahun lalu kamu rajin ke sana, namun sekarang hampir tidak pernah, karena pekerjaan banyak menyita kehidupan pribadimu. Karena itulah, kamu sedang menikmati hidupmu sekarang.

Tidak ada orang yang hidup seorang diri, begitu juga dengan kamu. Sayangnya, kamu terlena, menganggap, semua yang di sampingmu akan tetap berada di sana, apa pun yang kamu lakukan. Sebuah kotak cokelat berisi peralatan mandi dan cokelat memang sudah duduk manis di meja kerjamu, tapi bukan jaminan akan selalu berada di sana menunggumu. Bisa saja cokelat itu meleleh, merembes keluar kotak lalu mengotori meja kerja. Kamu tentu tahu kelanjutannya, ia harus terpaksa karena omelan ibu pembersih kantor yang bosan membersihkan meja putih itu setiap pagi.

Siap atau tidak, saat pantai tidak kamu lihat lagi dan matahari berganti dengan angin dingin dan badai, kamu mungkin akan kehilangan sesuatu saat itu. Salah kamu sediri tidak menjaganya. Tidak membawanya untuk memenuhi janjimu yang diulang tiap bulan itu. Selamat bertemu matahari, katakan padanya kami rindu sinarnya.

Advertisements

4 thoughts on “Berselancar

  1. shintadarmawan says:

    Parahkan badainya di Hamburg? Di Köln untungnya sampe sekarang masih oke2 aja. Semoga badai cepat berlalu ya…

    Hidup itu emang penuh pilihan ya… Setiap pilihan yang diambil, kadang ya harus rela melepaskan/kehilangan sesuatu yang lain 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s