Kabar Terakhir

Sudah mulai tengah bulan Desember dan saya belom pernah menuliskan apa pun. Itu rasanya gimanaaa gitu, padahal (semakin) banyak tema yang sebenarnya bisa saya tulis.

Saya bulan lalu ke Portugal loh, jalan-jalan ke Lisboa, ibu kota yang cuantiknya minta ampun. Memang sih dua hari pertama hujan menguyur dengan lumayan dan bikin saya basah kuyup tiap keluar jalan-jalan, tapi hari ketiga matahari terik banget dan itu saja cukup membuat kulit saya terbakar dan menggelap. Sebenarnya cerita tentang itu sudah lumayan lengkap saya tulis, masalahnya belom saya terbitkan di sini, karena saya males ngedit foto-fotonya. Bukan edit yang heboh, cuma sebatas kasih watermark dan meredusi ukuran foto, tapi tetap saja rasa malas.

Selfie depan.. Apa ya lupa namanya :-p

Selfie depan.. Apa ya lupa namanya :-p

Hidup saya masih gitu-gitu aja, kebanyakan kerja, yang ujungnya adalah kecapean, lalu saya memilih untuk menghabiskan banyak waktu di tempat tidur. Ini tentu berimbas kepada proses kuliah saya yang ga juga berkembang. Tetap saja ga ada tugas kuliah yang beres saya kerjakan sampai semester banyak ini. Hari ini saya kembali lagi ke perpustakaan dan mulai belajar, setelah tadi siang si Permen Karet bilang, “Was hast du denn sonst so immer gemacht?” saat saya cerita sudah lama ga belajar dan nulis. Iyeee Mas, aku memang males. Iri banget saya sama dia yang pinter dan rajin, tiap waktu kosong diisi dengan baca buku. Kerja sambil nerusin kuliah. Mas, bagi pintar dan rajinnya, Maaasss.

Kemaren saya ke Potsdam loh, jalan-jalan berlima untuk merayakan ulang tahunnya Nda ke banyak angka. Ahahaha. Unik cara dia ngajaknya, dia ga bilang tujuannya ke mana, cuma mengundang kami untuk datang pada hari dan jam yang sudah ditentukan. Dia juga ga mau di antara kami sampai bilang akan datang apa engga saat dia mengirim undangan itu lewat whatsapp. Saat kami datang, dia menyodarokan beberapa gulungan kertas dan meminta kami untuk mengambilnya satu persatu. Ternyata masing-masing berisi tujuan perjalanan. Ada Bremen – Lübeck – Hamburg atau Potsdam – Berlin lalu balik ke Hamburg.

Depan Sanssouci Potsdam

Depan Sanssouci Potsdam

Karena Bremen sudah basi banget (kecuali buat saya, selalu senang disuruh ke Bremen), jadi kami memutuskan untuk ke Potsdam lalu ke Schwerin. Potsdam itu letaknya di sebelah Berlin. Nempel banget. Mungkin cuma setengah jam ke pusat kota Berlin. Saya sudah pernah ke sana untuk mengunjungi kastil-kastilnya, tapi saya sendiri lupa deh kastil yang mana. Karena waktu itu kami pergi sudah lumayan siang, jam 10, kami tidak lagi sempat ke Schwerin. Perjalanan hanya dilakukan di Potsdam, melihat gereja Nikolai dan kastil Sansouci (ga tau nulisnya bener atau engga), lalu pulang jam 17.35 ke Hamburg. Sampai Potsdam juga telat sih, sekitar jam 14, jadi ga heran ga bisa lama-lama.

Di sana saya ketemu kenalan lama. Mantan pacar. Eaaa. Tapi gitu doang, ga ada yang aneh. Saya juga ga ada perasaan macam-macam seperti pengen kembali ke masa lalu. Memang sih ada beberapa kali saya berbicara tentang masa lalu, tapi masih berkaitan dengan perjalanan kami saat itu, “Dulu kita ke Potsdam ke kastil mana ya? Bukan yang ini ya? Kayanya ke sini gue belom pernah ya?”. Bageur pisan nya si eta nemenin kami di Potsdam, sing lancar atuhnya sagalana.

Ada yang tau buku Surat Untuk Penghuni Surga ga sih? Itu proyek menulis yang dicetuskan oleh penerbit Nulis Buku. Beberapa bulan lalu mereka mengadakan proyek menulis dengan judul yang sama seperti buku itu, kebetulan saat itu saya baru saja menulis sebuah cerita tentang kepergian Papah dan Kakek saya Juli dan Agustus lalu, dan ada teman yang baca, teman itu alias Mpat, menyarankan untuk mengikuti proyek menulis itu. Karena bentuk tulisannya merupakan sebuah surat, maka saya harus melakukan edit di tulisan saya, mengubah gaya bahasa. Karena waktunya mepet dan jumlah halaman yang dibatasi, banyak tulisan yang saya hapus. Alhamdulillah saat itu saya banyak dapat masukan dari Mbak Yanti, pengajar bahasa Indonesia di Universitas Hamburg; Nda, dan teman lain, sehingga saya bisa tepat waktu mengirimkannya.

Setelah menunggu lama, karena pengumuman yang diundur, dan mereka bilang akan ada pengumuman tanggal 13 Desember, sekaligus launching bukunya, saya iseng buka website mereka dan menemukan ada empat buku berjudul itu di sana. Saya mulai membuka review buku-buku tersebut dari buku keempat, dan tidak menemukan nama saya di sana. Sedih. Banget. Sampai akhirnya tiba di buku bersampul biru, buku pertama, dan menemukan nama sendiri serta judul tulisan saya di sana, Apa yang Takdir Ajarkan.

Rasanya senaaaaaang sekali! Saya selalu ingin punya buku sendiri, memang sih ini jauh dari impian saya, tapi paling engga, nama saya sudah ada di salah satu buku dan buku itu diterbitkan. Sampai ga bisa tidur loh saya malam itu! Karena buku tersebut sejauh ini hanya bisa dipesan secara on-line, saya sudah menyuruh adik saya untuk memesan lima buku. Satu untuk Mamah, saya, teman-teman, dan Permen Karet yang spontan bilang ingin punya bukunya dan ga peduli walau dia ga bisa bahasa Indonsia.

Semoga abis ini saya beneran bisa bikin buku sendiri, paling tidak buku thesis kuliah saya deh. Penting banget nih untuk disegerakan. Aamiin!

Have a wonderful week, amigos!

Image taken from nulisbuku.com

Advertisements

16 thoughts on “Kabar Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s