Surat untuk Papah – Di mana Kelak Engkau Ingin Dipanggil?

Lieber Papa,

Ich sollte jetzt schlafen, da ich eigentlich krank bin und morgen arbeiten muss, aber ich konnte leider nicht. Aku tadi lihat tweet Dede, sie vermisst Dich so sehr, wie ich. Sie sagte, sie weisst aber nicht, was sie machen sollte. Berdoa ya, Pah, jawabannya.. Doa adalah jarak terdekat di antara kita. Pah, tut mir so Leid, ich habe für Dich nicht genug gebeten.. Ich versuche aber jeden Tag für Dich zu beten. Katanya, doa anak sholeh yang bisa menolong orang tuanya.

Sebenarnya aku ingin menulisakan untukmu hanya sebulan sekali, setiap tanggal itu datang, agar aku tidak membuat bosan orang-orang yang kebetulan melihat tulisan aku di sini, tapi tidak bisa, aku harus menuliskan sesuatu untukmu. Seperti biasa sebuah surat.

Oh iya Pah, Jokowi hat gewonnen. Dia akan menjadi Presiden kita selanjutnya, mulai Oktober entah tanggal berapa. Papah bilang, bagaimana Prabowo bisa memimpin negara kalai memimpin keluarga saja tidak bisa, lalu Papah memilih Jokowi di pemilihan presiden lalu. Keinginanmu terkabulkan, Pah, Jokowi yang akan meneruskan amanah ini. Semoga iya selalu istiqomah memegang amanah rakyat, ya, Pah..

DPR sedang ribut, Pah, ada pemungutan suara untuk menentukan apa pilkada selanjutnya akan tetap langsung dipilih rakyat, atau akan kembali dipilih DPR. Bayangin, Pah, kita akan kembali seperti masa Orde Baru lalu, saat penghuni legistativ daerah isinya orang-orang pesanan. Kelak kita tidak akan mengenal pemimpin hebat, jujur, dan bijaksana seperti Ahok, Ridwal Kamil, dan Risma. Sedih, Pah! Demokrasi di negeri kita kok mulai luntur ya, mundur.. seperti zaman dahulu.

Aku ingat saat itu, tahun 1998. Papah pulang dengan mobil kantor berwarna merah yang plat mobilnya sudah Papah sulap sebelumnya menjadi hitam. Begitu tiba di garasi, sebelum sempat menutup pagar, Papah melakukan sujud syukur, karena berhasil melewati huru hara selama di perjalanan pulang dari kantor. Hatiku hampir berhenti berdetak saat itu, demi melihatmu. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan bertemu Papahku lagi.

Esoknya kamu menyetel radio untuk mendengarkan Soeharto mengundurkan diri dari posisi presiden. Aku entah mengetahui dari mana, di televisi pun ada siaran langsungnya, menyalakan televisi tanpa bertanya terlebih dahulu kepadamu. Papah marah saat itu, mengira aku ingin mengganggumu mendengarkan proses turunnya Soeharto. Kamu memintaku mematikan televisi lagi, namun aku bersikeras dan akhirnya Papah mau tidak mau mengalah setelah melihat Soeharto memegang secarik kertas putis di dalam televisi.

Sedetik setelah Soeharto mengundurkan diri, kamu berteriak kencang sambil mengacungkan kepalan tangan kanan di udara. Aku tidak mengerti politik saat itu. Aku sama sekali tidak mengerti apa esensinya dari turunnya presiden kedua kita dan apa hubungannya dengan kerusuhan yang terjadi saat itu. Aku hanya anak kelas satu sekolah menengah pertama.

Di depan rumah kita, Papah menggantungkan kaligrafi bertulisakan Bismillahirohman nirohim. Juga sebuah kertas bertuliskan, “Keluarga muslim” dan mungkin menuliskan juga namamu berserta titel haji di depannya. Aku lupa. Tetapi itulah yang normalnya dilakukan orang disekitar rumah kita.

Banyak orang jahat mencari rumah etnis Cina dan akan menghancurkan juga menjarah mereka. Sungguh jahat sekali mereka. Kalau aku tidak salah, rumah Cici Rini dan Om Umput pun juga ditulisi hal semacam itu, aku lupa.

Mereka bukan muslim, tapi aku setuju mereka melakukan itu. Bagaimana pun mereka tetangga kita dan selalu baik kepada kita, seperti halnya saudara. Dan kalau ada apa-apa dengan rumah mereka, entah bagaimana nasibnya jalan rumah kita ini. Rumah kita tepat di samping pasar, karena itu kita takutnya setengah mati.

Papah melarang kami untuk pergi ke mall untuk sementara waktu. Selain karena mall dijarah dan dibakar massa, Papah juga tidak ingin nyawa kita hilang sia-sia di tempat yang bukan seharusnya. Mall bukan tempat ibadah, bukan juga tempat tinggal, rasanya akan mengenaskan sekali kalau kita kehilangan nyawa di tempat senang-senang seperti itu. Apalagi dalam kejadian kerusuhan. Sejak itu Papah ingin kami, anak-anaknya, mengurangi jam nge-mall.

Jangan sampai kita dikenang sebagai orang yang meninggal di mall, saat sedang jalan-jalan di sana. Dalam kerusuhan pula.

Keinginanmu terkabulkan, Papah. Engkau berpulang di rumah Allah, di mesjid. Dalam acara santunan anak yatim, acara favoritmu. Mengutip kata-kata Dedey di twitternya..

“The death took him. Di dalam masjid di hadapan anak2 yatim dan jamaah masjid yang sangat disayanginya. It was a very beautiful end Pah.. pada bulan terbaik, di rumah Allah yang engkau ikut membangunnya dan di dalam acara favoritmu Pah..”

Alhamdulillah, Pah, insya Allah Engkau khusnul khotimah. Seminggu sebelum Idul Fitri Papah pergi dalam damai, di depan saudara, sahabat, dan anak-anak yatim yang Papah usap kepalanya minimal setahun empat kali di mesjid samping rumah kita.

Mereka adalah saksi yang sepantasnya. Mereka adalah orang-orang berjiwa besar yang langsung mendoakan Papah saat itu juga. Semoga Allah menggantinya dengan pahala..

Hari itu tidak ada huru hara. Tidak ada orang yang berteriak kesetanan sambil membakar gedung. Tidak ada yang api apa pun. Tidak ada orang yang berada di dalam ketakutan.

Dan orang akan tersenyum saat mendengar di mana dan kapan kamu dipanggil, Pah. Bahkan orang-orang ingin pergi dengan jalan seperti itu..

Papah, Kamu berhasil membangun sebuah mimpi yang kamu inginkan sejak lama. Alhamdulillah.. Aku tahu Papah senang di sana dan juga berkecukupan. Sampaikan salamku untuk para penghuni surga lainnya. Sampaikan pada Uwa, aku kangen melihat tawanya..

“Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu”

“Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia”.

Ich habe Dich ganz doll Lieb, Pah..

Ajeng

Advertisements

One thought on “Surat untuk Papah – Di mana Kelak Engkau Ingin Dipanggil?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s