Minggu Pertama September

Minggu kedua di Hamburg, saya sudah banyak kerjaan lagi. Alhamdulillah memang, yang awalnya hanya dapat beberapa kerjaan eh jadi bertambah karena ada saja kolega yang sakit. Hari minggu kemarin malah dalam 30 menit ditelepon dua tempat kerja yang nawarin dinas malam, namun keduanya harus saya tolak karena senin pagi saya ada dinas dari jam enam di tempat lain, dan masing-masing dari tempat yang menawarkan dinas malam itu waktu kerjanya sampai jam 09.00 dan 07.45.

Kebanyakan kerjaan yang saya terima ini dengan niat membantu mereka, memang sih mikirin uang juga, tapi niat pertamanya ya membantu. Saya tahu banget susahnya cari orang pengganti kalau kolega sakit dan bekerja hanya berdua itu ga enakin, banyak yang harus dikerjakan. Apa lagi minggu lalu saya kerjanya cuma jalan-jalan dengan klien saja, karena minggu itu dia libur dan tentunya bosen dong kalau cuma di rumah saja. Jadi hari itu saya naik kapal bersama dia ke Landungsbrücken, terus naik kapal besar keliling pelabuhan peti kemas. Awalnya saya menawarkan untuk jalan-jalan ke bandara melihat pesawat terbang, tetapi dia lebih suka naik kapal jadi saya luluskan permintaannya.

Dia duduk di kursi roda, seperti biasaya saya selalu ada kesulitan kalau bawa dia naik kapal, karena naik turun kapal dan menuju pelabuhan itu tinggi jembatannya. Alhamdulillah selalu ada saja orang yang menawarkan bantuan. Malahan ada yang megang anaknya yang berumur tiga tahun di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya bantuin saya narik kursi roda. Aku jadi terharuuu :’) Kami bersenang-senang banget hari itu, makan kentang goreng di pelabuhan, makan kue di kapal, lalu ditutup dengan eskrim di pelabuhan. Klien keliatan bahagia. Alhamdulillah.

Senin kemarin saya kerja pagi, dari jam enam sampai jam 07.15 saja. Saat saya di rumah sekitar jam 14 saya ditelepon Bos, dia nanya ada apa di kantor tadi pagi. Panik dong saya, maksudnya apa? Karena pagi tadi semua baik-baik saja. Ternyata ada satu klien yang menelepon ibunya jam 7 pagi dan cerita di mual lalu di rumahnya dia menemukan anaknya terbaring di kasur dengan muntah di kamarnya. Dengar itu saya syok dan ga bisa ngomong, cuma cerita saya memang jam 7 benar ke rumah dia, dia terlihat sehat dan mengaku sehat, waktu itu dia duduk di dapur dan sedang bikin teh. Saya juga sempat menawarkan bantuan, apa yang bisa saya lakukan untuk dia, tapi dia menolak. Yaudah deh saya pulang abis itu. Ga pernah kepikiran bakal begitu. Tadi pagi saya ga liat dia, dia masih tidur karena masih sakit. Semoga sempat sembuh!

Senin sore saya ke rumah klien lagi yang belum pernah sama sekali saya kunjungi. Senin itu lumayan banyak yang saya kerjakan, ke kantor keuangan ngurusin tingkat kelas pajak saya yang melambung ke kelas 6, padahal sebagai mahasiswa seharusnya hanya kelas 1. Ternyata yang salah adalah kantor saya, jadi saya harus kirim kertas info yang diberikan mereka ke kantor. Sudah beres dilakukan tadi siang. Saya juga ke konsulat untuk perpanjang paspor, karena saya harus bikin izin tinggal baru. Seharusnya bikin paspor bisa cepat, sayangnya mesin laminating tutup dan mereka mau istirahat, jadi setelah menunggu ga sampai sejam, saya harus pulang dan kembali sore hari.

Senangnya mereka masih menerima saya walau saya datang jam 15.55, lima menit sebelum layanan kekonsuleran tutup. Paspor saya beres deh kemarin, tadi pagi saya menyambangi imigrasi lagi untuk bikin jadi perpanjang paspor. Minggu depan saya harus datang ke imigrasi lagi untuk mengurusi visa. Sebenarnya saya minggu lalu sudah ke sana dan diberikan perpanjang tiga bulan. Niatnya saya datang hanya untuk nanya syarat perpanjang apa saja, eh mereka dengan baik hati langsung kasih perpanjang sementara tiga bulan dan nyuruh saya datang lagi kalau paspor sudah diperpanjang. Doain ya biar lancar, biar dapat dua tahun lagi, soalnya untuk program master seharusnya cuma kuliah dua tahun, tapi saya merasa sulit sekali kuliah, jadi belom beres-beres.

Balik ke klien baru. Dia hanya punya kekurangan di fisik dan pendengaran saja. Susahnya saya adalah mengerti yang dia omongin, sudah mana bahasa Jerman saya jelek, dia ada kekuararang bicara. Untungnya dia sabar, jadi mau saja menjelaskan apa yang saya harus lakukan berkali-kali. Sekarang saya sudah tahu harus ngapain aja kalau di dia, jadi hari kamis besok insya Allah ga ada masalah. Kerja di dia juga mendadak, ditelepon bos. Para bos kalau dengar saya bisa kerja di waktu dan tempat yang mereka tawarkan pada senang kedengarannya lewat telepon, jadi saya berusaha banget untuk membantu mereka.

Oh iya, sabtu kemarin tempat kerja saya yang lama ulang tahun ke 20 loh. Banyak sekali yang diundang, sayang ga dateng semua. Kebanyakan karyawan lama dan anggota keluarga penghuni kamar. Karena saya banyak ga kenal mereka dan males basa-basi, jadi saya duduk di luar aja sama kolega-kolega yang asik bbq-an. Sepulang dari sana saya langsung ke rumah Amenk, naro barang dan numpang makan, karena malamnya saya babysitting di dekat rumah dia.

Kata si ibunya mereka akan pulang sekitar jam 02.30, Alhamdulillah sejam sebelumnya sudah pulang jadi saya bisa pulang. Mereka nawarin saya tidur di sana, karena itu sudah terlalu malam, tapi ya jelas enakan tidur di kasur di ruang tamu Amenk dong dibandingkan dengan mereka. Jadi saya pulang saja jalan kaki 15 menit. Sebenarnya suami Amenk bisa jemput saja, dia sudah siap-siap, tapi saya ngerasa kemaren ga takut jadi saya bilang akan pulang sendiri saja.

Hari minggu ada pasar kaget di dekat rumah Amenk, kami mampir ke sana. Jamael dapat sepeda jalan Laufrad untuk dirinya. Senang sekali itu bocah, semangat banget “ngegoes” dari pasar sampai rumah. Padahal bisanya jalan kaki aja males, kata mommy nya. Saya dapat jaket tebal seharga 10 Euro, itu beli juga buru-buru karena tiba-tiba hujan dan saya ga bawa jaket atau pun payung. Jaketnya langsung saya pakai loh itu, walau terus saya menemukan tisu bekas pakai si pemilik lama di kantongnya. Iihh jijik, sekarang dia cuma menggantung di pintu nunggu hari pencucian datang.

Kami sebenarnya belum puas jalan-jalan, tapi siang itu Tia mengundang ke rumah karena beberapa hari sebelumnya dia ulang tahun. Asik makan nasi kuning dan baso tak berhenti. Enyaaakkk! Senangnya kalau ada yang mengundang gini, perbaikan gizi! :-))

Oh iya, tadi setelah dari imigrasi saya mampir ke dokter. Padahal saya ngantuknya minta ampun. Semalam telat masuk kasur, terus ga bisa tidur dan jam empat wecker sudah bunyi. Sebenarnya pengennya habis kerja langsung pulang dan lanjut tidur, tapi dipikir-pikir lebih baik beresan urusan yang selama ini tertunda. Saya ga sakit, cuma telapak kaki kiri aja yang sakit, rasanya seperti ditusuk kalau jalan, terutama pakai sepatu tipis. Ini sudah terjadi selama 5 bulan, selama itu selalu saya tunda-tunda untuk ke dokter. Tahu apa kata dokter? Kaki Anda terlalu lebar. Terus dia jelasin tapi saya ga ngerti. Akhirnya dia kasih resep untuk saya bikin sol sepatu, kelak ini harus saya pakai setiap saya pergi, kalau tidak, tidak akan berpengaruh dan malah kaki kanan akan ikut-ikutan sakit. Pulang dari dokter saya langsung pergi ke tempat bikin sol yang disarankan oleh dokter, tempatnya cuma satu halte bus dari rumah saya. Eh ga bisa langsung bikin deh, tapi bikin janji doang, besok harus datang lagi..

Saya sadar sih kaki saya lebar. Saya kira karena dia kecil dan badan saya gendut, jadi kelebihan beban gitu. Ternyata engga yak.. Ah kalau ditamabahin sol gini, saya takut sonya tebal jadi bikin sempit sepatu. Masa iya saya harus beli sepatu baru 😛

Sibuk bener ya Jeng, sibuk main dan kerja, terus kapan ngerjain tugas-tugas yang semakin numpuk itu? Lalala..

Advertisements

8 thoughts on “Minggu Pertama September

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s