Apa yang Takdir Ajarkan

Kamu tau apa itu takdir? Biar aku ceritakan sesuatu kepadamu.

Waktu itu dua bulan lalu, Papa bilang aku harus menghabiskan waktu lebaran di rumah, bersamanya dan keluarga. Beliau bilang jangan khawatir dengan biaya pesawat, karena Dia yang akan menanggung. Jangan juga khawatir ga bawa uang dari rantau, karena sejatinya anak kosan memang ga punya uang. Beliau akan bilang ke semua saudara tentang itu: anak rantau yang satu ini masih mahasiswa, belom bisa bikin uang yang banyak.

Lalu aku memasan tiket untuk tanggal 20 Juli. Hari minggu malam jam 22.20 waktu Jerman aku akan berangkat pulang ke Indonesia, aku akan dijemput Papa esok harinya. Seperti biasa. Yang tidak biasa saat itu adalah aku enggan sekali berkemas. Aku yang bisanya untuk pergi tiga hari saja bikin list barang-barang apa saja yang akan dibawa, kali ini malesnya engga ketolongan. Semua barang aku bawa masuk koper hanya dengan apa pun yang terlintas di kepala saat itu. Selama berkemas aku stress minta ampun, kalau saja ada Papa, Dia akan melakukannya untukku. Dia yang paling hebat dalam hal berkemas.

Seperti aku sudah bercerita, aku gelisah saat itu. Aku lebih suka melihat semua gadget-ku. Laptop dibiarkan menyala di depan mata, di samping telepon genggam, dan tablet. Ketiganya menyala dan masing-masing aku lihat bergantian setiap beberapa detik. Ayolah, isi ketiganya sama aja tapi kenapa tanganku gatal sekali menengok mereka. Coba lihat sekarang, bahkan tablet aku biarkan kedinginan di samping jendela untuk diisi kembali baterainya. Dia bahkan seharian ini aku biarkan menjaga kamarku yang mungil ini.

Berkemas akhirnya bisa selesai 20 jam sebelum aku terbang. Itu pun selama berkemas aku masih saja bergilir melihat gadget. Selesai berkemas aku tidak langsung tidur, namun berjalan bolak-balik di dalam kamar yang luasnya bahkan ga sampai 15m3. Seharusnya aku tidur, namun tidak aku lakukan. Seharusnya aku menelepon rumah untuk pamit, namun aku urungkan dan rencananya akan aku lakukan pukul 10 pagi saat aku akan berangkat ke Berlin.

Itulah takdir. Pagi itu aku bangun karena seorang teman di sini yang membabibuta meleponku dari jam delapan pagi. Oh hallo, aku ingin bangun jam sembilan dan semalam aku telat tidur. Aku melihat ada panggilan tak terjawab lainnya, dua buah dari seorang yang sama dan dia tinggal di sebelah rumahku di Indonesia. Perasaanku engga enak, tapi aku hiraukan begitu melihat Adikku mengirimi dua buah foto Ibuku dan aku bisa melihat Beliau tersenyum bahagia. Tidak aku yang perlu khawatirkan.

Karena telepon membabibuta itu lalu aku angkat dan orang di seberang sana bilang akan mampir ke kosanku sebelum aku berangkat ke Berlin, aku tidak bisa tidur lagi. Masih memikirkan panggilan terjawab lainnya, aku buka media sosial yang warna biru, ramai di sana seperti biasa, namun aku masih bisa menangkap sesuatu, “Turut berduka cita atas meninggalnya Ayahanda, semoga bla bla bla,” orang asing itu menuliskan untuk.. Kakakku.

Ada sesuatu yang salah di sini. Saat itu juga aplikasi telepon VOIP di gadget mana pun yang aku punya tidak berfungsi, sampai akhirnya aku berhasil menelepon rumah dengan telepon regular. “Iya Neng, Papa sudah engga ada. Tadi meninggal di mesjid, lagi ada acara santunan anak yatim saat Dzuhur.” Belum selesai Kakak berbicara, telepon kami terputus. Aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi, karena suaranya yang bergetar mengatakan segalanya, kabar yang aku baca di media sosial itu benar. Papa sudah tidak ada.

Pernah kalian menonton sinetron atau film atau membaca cerita bertema kebetulan? Aku rasa aku pernah dan tidak percaya itu akan benar terjadi. Kali ini aku seperti sedang menjadi seorang pemain cerita tersebut, di hari yang sama saat aku berangkat pulang ke Indonesia, Papa pergi. Berpulang. Itu adalah takdir. Takdir bilang aku tidak akan pernah dijemput Papa di bandara saat aku akan sampai nanti. Dia memberikan sebuah kenyataan yang tidak sama dengan rencana; aku menelepon keluargaku lewat Skype di kereta menuju terminal bis di dekat stasiun Hamburg. Di sana aku tidak melihat keluargaku bahagia menungguku, tetapi aku melihat Kakak keduaku memeluk Mama. Di samping mereka adalah Adikku, Keponakanku, Kakak Iparku, dan Kakak pertamaku yang menjawab telepon tadi pagi. Di hadapan mereka adalah sebuah makam yang baru selesai ditaburi bunga. Di sana tempat Papa bersemayam sekarang.

Aku tidak tahu seperti apa bentukku saat itu, namun aku tidak peduli. Semua orang di kereta boleh melihat aku menangis dan melihat penumpang yang ini sedang hancur hati, jiwa, dan tubuhnya. Rasanya aku ingin diseret saja turun dari kereta itu, seperti koper-koper yang sudah sejak semalam aku jejali dengan barang-barang. Kalau bisa, aku tidak ingin ke mana-mana. Aku ingin berselimut saja di atas kasur. Aku seperti disedot dementor, lemas.

Sebagai orang dewasa, aku mengenal sekali konsep kematian. Aku tahu tidak ada orang yang bisa kembali hidup, jika jiwa sudah terpisah dengan badan, sesempurna apa pun orang tersebut. Sebuah konsep yang sudah aku lewati beberapa kali, begitu mendengar kabar sahabat, teman, Uwa, Bibi, Nenek meninggal. Tapi kamu tahu, saat yang meninggal itu adalah orang yang paling kamu cintai, dan contohnya adalah Papa, maka teori, konsep, dan apa pun kamu menyebutnya akan buyar semua. Kamu akan tetap bertanya apakah itu mati. Ke mana kah jiwa berkumpul saat kematian terjadi. Bahkan aku bertanya, apa yang sedang Papa lakukan sekarang di tempatnya sekarang ini. Apa yang terjadi jika aku mengiriminya doa-doa.

Sampai detik ini, aku masih seperti anak kecil yang dipisahkan dari orangtuanya, aku masih mencari di mana Papa dan masih menunggu Dia untuk pulang ke rumah dengan baju sholatnya berwarna biru muda, sarung, dan kopiah hitam. Aku menunggu dia untuk pulang dari mesjid. Di dalam hatiku, aku selalu bilang Papa di mesjid sedang duduk bersila menghadap kiblat dan khusu’ berdoa. Papa yang aku lihat kalau aku harus menjemputnya dari mesjid, karena mendadak ada tamu yang datang mencarinya di rumah.

Sungguh aku sangat mengerti Papa tidak benar-benar ada di mesjid. Aku juga tau Papa tidak akan pernah pulang lagi ke rumahnya. Tapi semua itu tidak bisa aku singkirkan. Aku melihatnya di mana-mana dan aku berharap yang aku lihat itu nyata. Aku membuat sebuah sangkalan. Ia tidak meninggal. Ia ada di sana. Di sana. Di sana. Dia akan pulang. Mungkin sejam lagi. Esok. Atau tiga hari lagi, jika tugasnya sudah selesai.

Tapi..

Di rumah aku menemukan sebuah surat keterangan kematian Papa di dalam map merah. Di depan rumah ada karangan bunga turut berduka cita dari Cicendo untuk dr. Anggitya. Semua orang di sekitarku berbicara tentang Dia, tentang bagaimana detik dia meninggalkan kami, tentang baiknya Dia mata mereka. Mamang dan Bibiku mengirimi aku fotoΒ  di antaranya foto Papa tersenyum di balik kain kafan. Dan di hari Idul Fitri, untuk pertama kalinya setelah seminggu di rumah, aku melihat makamnya.

Kurang apa lagi untuk percaya, Jeng? Tidak ada. Kamu tidak pernah melihat Tuhan, tapi kamu percaya Dia ada. Begitu juga tentang ini. Kamu tidak pernah melihat Papa dikubur, tapi kamu harus percaya Dia sudah tidak ada. Sebuah konsep yang lebih sederhana dari mempercayai Tuhan apa lagi bahkan bukti-bukti dan saksi-saksi sudah menghampiri kamu. Aku bahkan ingin bertanya kepada teman-teman yang tahu tentang kabar ini, apakah kamu benar percaya bahwa Papaku sudah tidak ada? Karena, aku sendiri bahkan tidak pernah mempercayainya.

Kamu tahu, banyak orang bercerita dan bertanya tentangnya dan itu tidak bisa menguatkan aku. Aku malah kembali terusik dan rasa ingin berlari ke kamar dan menahan tangis di belakang punggung keponakanku yang sedang menonton Transformer, namun itu tentu saja tidak bisa aku lakukan. Bagaimana pun aku harus tetap di sana dan mendengarkan semuanya, walau aku hanya bisa menjawab mereka dengan senyum atau anggukan.

Mereka banyak cerita tentang Papa, salah satu penceritanya adalah Mama. Dia melihat Papa duduk merunduk di atas lantai mesjid, setelah memberi sambutan di acara santunan anak Yatim Piatu, acara kesukaan Papa. Dia merunduk ke arah kanan dan Mama langsung berlari ke Dia, karena merasa ada yang salah. Dia lemas, bahkan Adikku yang segera datang bilang saat itu Papa sudah tidak ada. Dia sudah berusaha memberika nafas buatan dan memompa jantung, tapi nihil. Papa akhirnya dibawa ke rumah sakit. Di sana tidak banyak yang bisa dilakukan, dokter mengeluarkan surat keterangan kematian.

Aku tahu saat itu adalah saat yang berat untuk Dedey. Sebagai dokter, dia harus menangani Ayahnya sendiri yang dia sendiri tahu sudah tidak bisa diselamatkan. Aku bisa membayangkan bagaimana kacau hatinya, apalagi Mama bilang selama dia memompa jantung Papa, dia teriak memanggil Papa sambil menangis. Dedey mungkin benar; Papa meninggal di acara favoritnya, di depan seluruh anak Yatim Piatu yang Dia cintai. Tepat sebelum adzan Dzuhur. Tapi Dedey salah dengan bilang dia bahkan tidak berguna, karena dia tidak menyelamatkan Papa, karena itu adalah takdir dan aku yakin, Papa bangga, anaknya sendiri yang dipanggil untuk mencoba menyelamatkan nyawanya. Aku bangga padanya, begitu juga Mama, pasti bangga padanya.

Mama bilang, Papa menengok ke arah kanan saat merunduk di lantai itu. Dia tersenyum seperti kepada seseorang. Dia begitu sangat damai, sampai tidak ada seorang pun sadar nyawanya sudah dicabut. Mungkin malaikat Izrail berada di sebelah kananya saat itu dan Papa menyapanya lewat senyuman. Wallahu alam.

Kamu tahu takdir lain menghampiriku, aku ceritakan kepadamu..

Kakekku meninggal saat aku dalam perjalanan pulang ke Jerman. Aku sudah bilang kepada Beliau untuk tetap sehat agar tahun depan aku bisa tepat mengunjunginya saat aku pulang lagi, tetapi Dia lebih suka untuk bertemu anaknya, Papaku. Mungkin Papa tidak mau melihat dirinya kehilangan Abah, karena itu dia lebih suka pergi duluan. Dia tapi tidak pernah tahu, Abah tidak bisa berhenti memikirkan Papa sekali pun. Abah bahkan langsung berdiri dari tempat tidur dan mendoakan aku saat tahu yang mengunjunginya adalah aku, cucu dari Papa yang merantau paling jauh.

Maafkan aku, Abah, aku mengunjungi di detik terakhir saat aku harus pulang ke Jerman. Aku seharusnya sejak hari pertama langsung ke rumahmu dan mencium tanganmu. Begitu kurang ajar sekali aku, hanya berjarak dua rumah tapi Beliau menjadi orang terakhir yang aku kunjungi.

Kalian tahu, takdir ini mengajarku aku sesuatu.. Jangan menunda silaturahmi, terutama ke orangtua, karena kita tidak pernah tahu panjangnya umur.

Kapan terakhir kali kalian menghubungi orangtua kalian?

Kapan terakhir kali kalian mencium tangan orangtua kalian?

Semoga selalu ada kesempatan untuk itu.

Sampaikan juga salam hangatku untuk mereka, semoga selalu sehat.

Kamu tahu mengapa kita harus mempercayai takdir, yang baik dan buruk, dan mengapa ia termasuk ke dalam rukun iman? Karena tanpa iman akan sulit sekali mempercayai takdir.

Β 

Advertisements

12 thoughts on “Apa yang Takdir Ajarkan

  1. bayutrie says:

    salam kenal mbak. lagi blogwalking nemu postinganmu ini. semoga papa dan abahmu ditempatkan ditempat yang terbaik disisiNYA ya….. saya kirimkan al-fatiha buat mereka berdua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s