Impas

impas /im·pas/ v sama besar pendapatan dng modal, tanpa laba; pulang pokok;

Pengertian impas di atas saya dapat dari website-nya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebenarnya sih pengertian yang saya pengen tidak ada hubungan sama sekali dengan ekonomi, tapi ternyata memang hanya berhubungan dengan ekonomi dan yang kita pakai sehari-hari dalam tiap kesempatan merupakan metaforanya, ya.

Saya engga akan ngomongin soal bahasa, apalagi menganalisanya. Bukan tempatnya. Saya cuma mau bilang, apa yang kita lakukan kemarin itu sudah impas. Sudah pulang pokok. Sudah beres.

Pernah di suatu waktu kita bertemu dengan canggung dan hanya berjabat tangan, karena kita memang tidak saling mengenal secara langsung. Obrolan yang membuat kita bertemu di hari itu tercipta di dunia maya, yang katanya mendekatkan yang jauh. Namun kecanggungan tidak berlangsung lama, karena masing-masing dari kita sudah mengetahui harus seperti apa membuat obrolan menarik. Semua berjalan lancar, sekarang hanya perlu menghapal setiap gerak gerik yang ternyata membuat jatuh hati, seperti halnya obrolan lewat ketikan-ketikan cepat dan emotikon-emotikon lucu.

Semua orang tahu akan siklus pertemanan dan atau yang lebih dalamnnya lagi. Begitu juga dengan kita. Setelah itu, kita lupa bagaimana menjadi canggung dan menjadi orang asing, sampai di suatu waktu salah satu dari kita menelepon dan memutuskan untuk tidak saling bertemu kembali. Sampai hari ini.

Sahabat saya yang mempunyai ide itu sebenarnya, karena saya bilang di kota itu kamu tinggal. Oh, mungkin masih tinggal, mungkin saja kamu sudah entah di belahan dunia mana. Saya baru saja mengirimu sebuah pesan singkat tiga hari sebelumnya, tapi bukan berarti itu menjadi pintu untuk terus membombardir kamu dengan pesan-pesan lainnya, karena itu perkataan sahabat saya acuhkan, walau ternyata dia tidak tinggal diam.

Singkat cerita, kita bertemu. Menyapa lewat sebuah jabat tangan. Kalau dahulu tidak akan ada yang berhenti berbicara, kali ini tidak ada yang memulai untuk berbicara. Kita dalam kecanggungan. Banyak sekali di dalam otak dan hati yang mau dikeluarkan, tapi di mulut hanya ada hal basi, “Gimana kuliah kamu?” untung saja tidak ada obrolan lebih basi tentang cuaca, tetapi pertanyaan tersebutlah yang terbaik, sangat netral tanpa perlu kehati-hatian.

Kebisuan namun tampaknya bisa kita cairkan dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Ada banyak pertanyaan di ruang 15 inchi yang tidak pernah terjawab, kini sudah dijelaskan, karena tidak mungkin orang tetap bisu setelah ditanya langsung di depannya. Di bawah kita kini tergenang air, simbol dari kecanggungan, kebisuan, kebencian, dendam, rindu, kebahagian, penasaran, dan kata sifat lainnya yang tersimpan selama beberapa tahun terakhir.

Anggap saja hari itu impas. Anggap saja hari itu menjadi bab kesimpulan dari buku kita, yang sebelumnya kita tidak pernah tuliskan.

Kita pernah bertemu dengan canggung dengan berjabat tangan, sama seperti hari itu. Kita lalu berusaha mendekat dan mendekat, sampai jarak menjadi satu-satunya rindu di antara kita. Yang berbeda adalah perpisahan. Tidak ada tangis atau hardikan untuk tidak bertemu dan umpatan selamat melanjutkan hidup, semua digantikan dengan kalimat lembut, “Senang bertemu denganmu lagi. Selamat melanjutkan hidup, semoga selalu lancar.” dan ditutup dengan pelukan. Anggap saja waktu tiga puluh menit itu merefleksikan kehidupan kita dahulu, namun dengan akhir yang jauh lebih baik.

Buku yang kita tulis sudah dalam halaman terakhir. Kita berhasil menutupnya dengan semua akhir yang lebih baik dan tidak akan membuat orang meminta kita untuk menuliskan buku kedua.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s