Surat Untuk Papah

Assalamu alaikum Papah,

Aku sudah di rumah loh, Pah, dari hari senin malam. Bukan minggu malam seperti Papah kira sebelumnya. Aku keluar di bandara sekitar jam setengah 12 malam atau lebih, dijemput Kakak dan Aa. Mereka mempunyai trik dalam menjemput aku, Kakak menunggu di sayap kiri dan Aa di sayap kanan, karena ada dua pintu keluar. Aku bertemu dengan Kakak pertama kali. Awalnya kami bingung mau berbicara apa, terutama tentang kamu. Aku terlebih lagi, sangat tahu aku tidak bisa  menhan air mata kalau harus memulai menanyakan hal tentang Papah, untungnya Kakak mulai duluan, ¨Tahu dari mana soal Papah?¨

Aku tahu dari teman Kakak. Dia menuliskan pesan bela sungkawa di media sosial, padahal Mbak sudah mewanti-wanti semua keluarga untuk tidak menulis apa-apa di sana, mereka ingin menutupi berita ini terlebih dahulu dari aku. Mereka tidak ingin aku kepikiran soal ini selama perjalanan pulang. Menarik sekali memang, pagi sebelum berangkat malah Papah pergi, tanpa menunggui aku. Padahal kepulanganku adalah keinginan Papah sejak sebulan lalu.

Awalnya aku tidak menanggapi serius tentang ini. Aku masih menyangkal, walau di seberang sana Kakak sudah bercerita tentang Papah dengan nada suara yang bergetar. Aku masih sempat menulis sepucuk tulisan tentangmu di sini, tanpa menangis ricuh. Aku masih bisa mandi, karena memang harus, tetapi aku tidak bisa lanjut membereskan kamar dan mengepel lantai. Aku pulang dengan membiarkan kamarku tidak bersih dengan sempurna. Tidak hanya itu, sebelumnya bahkan aku membiarkan sahabatku untuk mengerjakan pindah data laptop untukku. Aku hancur, Pah, karena Papah tidak bisa menjemputku di bandara dan tidak menungguku di rumah.

Hari pertama di rumah cukup berat untukku. Beberapa orang datang mengucapkan bela sungkawa. Mamah harus menceritakan kembali detail cerita sebelum Papah pergi. Tamu-tamu itu lalu bercerita tentang baiknya Papah, tentang silaturahmi yang harus kami jaga walau tanpa kamu. Salah satu adik Papah juga datang, bercerita lagi hal yang sama. Dia salah satu saksi yang melihatmu lama-lama tersungkur saat duduk setelah memberikan sambutan di acara santunan yatim dan piatu di mesjid. Dia bercerita begitu detail, sampai membuatku lebih suka berlari ke kamar dan bersembunyi di punggung keponakanku yang paling kecil.

Bersembunyi memang mungkin yang aku lakukan. Aku bersembunyi dari melihatmu tersungkur, dibawa ke rumah sakit, dibaringkan dalam kain kafan di rumah dan dimakamkan, bahkan dari kewajiban menyambut tamu-tamu yang tidak henti datang di dua hari pertama. Aku bersembunyi atau lebih tepatnya disembunyikan, karena mungkin aku  tidak sanggup untuk semua itu. Aku bahkan sekarang sedang bersembunyi dari melihat makammu. Bukannya aku tidak ingin berkunjung, tetapi cepat atau lambat tidak akan membuat perubahan, bukan? Karena sejatinya doa untukmu bisa dilafalkan di mana saja, bahkan dari kereta Hamburg ke Berlin dan dalam pesawat Berlin – Doha – Jakarta. Memang tidak akan pernah cukup, tapi jangan kuatir, akan ada banyak doa lainnya untukmu, Papah, dan untuk Mamah akan selalu kuat.

Papah, maafkan aku tidak menghubungi sebelumnya. Aku kira sebelum aku berangkat sudah cukup, tetapi ternyata aku terlambat. Maaf aku akhir-akhir kemarin kurang berdoa untuk kamu, malah untuk diri sendiri dan orang lain. Sungguh aku rindu bertemu kamu, sudah setahun sejak aku terakhir pulang dijemput Papah di bandara dan disuguhi nasi bakar yang rasanya nikmat sekali. Siapa yang akan bersepada malam untuk membelikan aku bubur di Pasar Anyar? Dengan siapa aku harus melihat hujan meteor tanggal 11 Agustus nanti, Papah? Teman baikku bilang, setiap tanggal itu ada hujan meteor Perseids dan aku ingin kembali melihatnya denganmu seperti saat aku masih kecil dahulu. Melihat gerhana bulan dari atas genteng rumah Uwa atau mesjid samping rumah. Oh iya Pah, apa Papah sudah bertemu Uwa? Sampaikan salam kangenku untuknya.

Pass auf dich auf, Papah. Beberapa hari lagi akan ada Idul Fitri pertama tanpamu, entah bagaimana rasanya itu. Dan tahun lalu adalah Idul Fitri versi lengkap pertama dan terakhir (selama aku merantau). Sampai berjumpa lagi, Papah.

Aku yang merindukanmu,
Ajeng

Advertisements

4 thoughts on “Surat Untuk Papah

  1. rianamaku says:

    Ajeng..
    Turut berbela sungkawa, aku tahu ini adalah cobaan yang berat namun kamu harus tetap tabah dan tegar ajeng.
    Doakan yang terbaik untuk ayahmu agar amal ibadahnya diterima di sisi Allah…
    yang tabah ya dear..
    ( peluuuuk… )

  2. Vinda Filazara says:

    Detik, menit, jam, hari dan tanggalnya sudah tercatat pasti di agenda-Nya.
    Semoga Ramadhan mengiringi beliau dengan penuh keberkahan. Semoga Allah menempatkan beliau ke dalam golongan umat Rasulullah yang mulia.
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin.
    Yang sabar Mbak Ajeng ..

  3. kayka says:

    innalillahi wa innailaihi rojiun
    turut berduka cita atas berpulangnya ayahanda ajeng.
    semoga diterima segala amal2 baik beliau dan diampuni kesalahan2nya.
    dan semoga keluarga yg ditinggalkan diberi kekuatan, amin.

    salam
    /kayka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s