Pecinta Hujan

Kamu tahu aku pecinta hujan.
Aku akan berlari ke luar rumah, jika mendengar suara rintik hujan turun. Aku akan menari di bawahnya, tidak peduli tubuhku akan menjadi basah.

Aku tahu kamu bukan pecinta hujan.
Kamu akan berlari masuk ke dalan rumah, jika sedang tidak sengaja duduk-duduk di teras. Kamu akan menggerutu melihatku menari dengan penuh senyum.

Kita berdua berbeda tentang hujan,
Namun kamu pernah berbisik padaku di bawah payung di dalam hujan, “Jika nanti aku tidak ada dan tetesan air hujan menyentuh bibirmu, itu aku sedang menyapamu.”

Malam ini, hujan sedang berkunjung ke pekarangan rumahku untuk ke 266 kalinya, semenjak kamu meninggalkanku.

Finkenwerder,  24. Juni 2014

It’s also a special post for Fatimah who still hasn’t forgotten the rain.

Advertisements

7 thoughts on “Pecinta Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s