Rasa

Pernahkah kamu merasa bahkan tidak tahu apa yang seharusnya kamu rasakan saat ini? Saat usaha yang dilakukan ternyata bukan jodohnya. Saat yang lebih baik sudah muncul di sebelahnya.

Pagi ini aku tidak melakukan rutinitas seperti biasa, karena seorang teman mengundang makan di rumahnya. Sampai tengah malam kemarin aku masih sibuk mengurusi dapur, agar terlihat cantik apa yang aku kerjakan. Aku melihat dia mengendap-endap munuju dapur, mengintip siapa yang tengah malam masih masak dan baunya menguasai isi rumah. Dia tidak sadar bahkan sebuah jendela besar di dalam dapur bisa merefleksikan bayangannya.

Aku kembali tertidur, katanya. Bagus, karena aku tidak mau mengganggu siapa pun dengan suara dan bau-bauan, bahkan aku tidak ingin seorang pun sadar apa yang sedang aku lakukan. Pasti saja kamu bisa kembali tertidur, karena malam telah larut dan tubuh sudah letih.

Pagi ini semua bangun tidur dengan perasaan bahagia. Akhir pekan sudah tiba! Walau langit berkelanjutan menurunkan hujan dari kemarin, namun suasana ini memang pantas untuk digunakan tidur panjang. Hari Sabtu biasanya adalah hari wajib berkelana ke luar kota untuk tinggal semalam di sana, namun kali ini bisa dibatalkan dan lebih baik digunakan untuk memeluk teman tidur sampai matahari semakin meninggi.

Rambutnya merah, tingginya tidak cukup besar denganku, tetapi walau begitu ada yang berbeda dan tidak bisa aku jelaskan. Seseorang harus mengetahui sebuah perkara dahulu, lewat membaca, mendengar, dan merasakan, sebelum bisa bercerita kembali tentang hal tersebut. Sebelum dia bisa mengerti dan menjelaskan kembali. Itu yang aku belum bisa, karena aku tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah buku tebal dan langsung ditarik ke beberapa halaman terakhir, tempat kesimpulan dituliskan.

Maka bab kesimpulan menjadi sebuah hal termudah untuk mengetahui isi sebuah buku. Dibaca jangan terlalu cepat, dan jangan pernah memasukan isi pikiran kamu sendiri, karena sebuah buku ditulis untuk dibaca dan jika tidak suka atau ingin berkomentar, kamu tidak bisa melakukannya dengan langsung mencoret kertas itu.

Aku sudah semakin absurd, karena sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang harus rasakan. Dari semua kejadian enam bulan terakhir, dan ditutup dengan kesimpulan yang terlihat pagi hari ini, pantaskah jika aku seharusnya merasa sedih? Kata seharusnya aku garisbawahi, tulis miring, dan tebal. Haruskah? Karena hati itu luas, dan di sana aku juga merasa normal. Biasa saja. Di sana juga ada lahan untuk merasakan lega, jadi bukan begitu rupa masa depan aku. Dia akan lebih cakap dan cakep. Sebagian lagi juga ada rasa sakit. Di sebelah kanan, bukan lagi di tengah. Tidak untuk dilupakan, aku juga merasa ada kebahagiaan. Waktu enam bulan terakhir itu bukan habis sia-sia, karena sebuah simpul sudah semakin erat. Aku rasa.

Omong-omong soal sakit. Tidak ada yang melebihi sakitnya saat botol saos sambal meledak dan seperempat isinya memasuki mataku dan mengotori langit-langit kamar. München adalah sebuah kota terjauh dari kota metropolitan di utara Jerman dan sebuah telepon genggam menjadi pengantar kabar. Itu baru sakit. Sebuah lobang di tengah dada bahkan tiba-tiba tercipta hanya dengan sebuah sentilan pelan tanpa tenaga.

Itu adalah sakit yang tidak bisa ditandingi dengan apa pun. Katanya, jangan mengukur sakit, karena apa yang kamu rasakan dari setiap orang dan situasi berbeda. Sakit yang itu mungkin tidak tertandingi karena tingkat kesensitifanmu saat itu berbeda. Kamu lebih merasakannya bergetar saat itu, jika mau dibandingkan dengan yang ini. Bukan begitu?

Dan memang begitu.

Bahkan di kereta dalam tanah kamu masih harus menutupinya dengan gelak tawa. Tanpa sadar dirimu terlempar ke bangku samping dan ada yang menetes dari samping pelipis.

Saat ini aku belajar hal baru. Siapa pun orangnya, kata sehr gerne bukan sebuah janji yang harus dipegang. Dia bisa dilupakan, seiiring dengan banyaknya surat elektronik yang masuk tiap hari. Dia bisa terus turun dan turun, saat piring makan kamu harus ditambah, karena akan ada yang selalu mengunjungimu setiap minggu.

Selamat mengetahui hal yang sesungguhnya. Sekali lagi, setelah semua ini, kamu akan semakin sadar, masa depanmu rupanya jauh lebih cakap dan cakep. Dia sedang belajar dan atau bekerja, karena masa depan adalah yang kamu usahakan hari ini.

Schönes Wochenende. Ich lass dich nie bekochen.

Advertisements

4 thoughts on “Rasa

  1. sharot says:

    Apakh ini cerpen???? Bahasanya bagus, …. tpi otak saya tak mampu menggapai isinya….saya suka cerpn, novel, tapi tak semua cerpen, novl mampu saya cerna….tp saya suka gaya bahasanya….keep writing….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s