Sepasang Sepatu Hitam

Sepasang sepatu hitam setia menunggu di depan pintu. Di atas selembar keset hitam yang penuh debu.

Setiap pagi ia melihat sepatu lain pergi bersama Tuannya, menghilang di balik pintu keluar di ujung lain tempat ia senantiasa berada. Malam hari ia melihatnya kembali, masuk ke dalam kamar yang hangat. Ia ditinggal di luar, bersama sepatu dari Tuan-tuan yang lain.

Tidak dipakai bukan berarti dilupakan. Ia adalah sepasang sepatu yang khusus digunakan di akhir pekan, untuk menemani Tuan bekerja di bengkel pesawat di tengah padang rumput di satu kota kecil. Sering juga ia mengikutinya melihat keindahan kota dari ketinggian 200 meter dari muka bumi. Ia bisa mendengar degup jantung Tuannya yang semakin kencang, setiap kali mereka berada di atas. Hatinya turut senang, walau ia sendiri tidak bisa melihat apa-apa.

Akhir pekan adalah petualangan, walau sebelumnya ia harus diabaikan selama lima hari di depan pintu. Menunggu dan melihat sepatu lain lalu lalang. Matahari datang terlalu pagi di musim ini, dia sudah pergi saat langit sudah cerah, namun jarum jam masih rendah. Di atas selembar keset hitam di depan pintu kini hanya ada debu, menunggu untuk bertemunya kembali esok sore.

Selamat akhir pekan, siapa yang malas di musim dingin harus terbang.

Advertisements

2 thoughts on “Sepasang Sepatu Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s