Saling Mengenal

Kita pernah saling mengenal satu dengan lainnya. Sangat kenal, sampai sebuah lagu yang dibenci salah satu dari kita selalu dinyanyikan di lirik yang itu-itu saja. Saling mengenal itu baik, kalau memang kamu mempunyai hati sekuat Ksatria Baja Hitam, kalau tidak, mungkin sebaiknya dihentikan sebelum semuanya terlalu jauh. Mengapa aku bilang begitu? Karena dengan mengenal berarti harus berani meruntuhkan semua persepsi yang dibentuk lewat percakapan dan penglihatan biasa. Baguslah kalau dengan mengenal membuat semua persepsi jelek berbalik, kalau sebaliknya bagaimana?

Seperti yang terjadi oleh salah satu dari kita. Tidak ada memang yang namanya pahlawan serial kartun animasi. Tetap saja semua akan naik ke pikiran lalu ditimbang-timbang lagi dengan apa yang sudah diputuskan oleh hati. Salah satu dari kita lebih percaya pada hatinya, sedangkan salah satu lainnya sebaliknya. Salah satu dari kita percaya, tidak selamanya yang ia percayakan sedari lama harus terus dipercaya. Salah satu dari kita sampai berberapa saat kemudian tidak juga mengerti, mengapa mitos hati sekuat pahlawan berbaju baja warna hitam tidak pernah abadi.

Lalu ada lah kembali sebuah botol diingat, yang katanya ditegak salah satu dari kita di sebuah kapal berwarna biru. Entah itu berapa lama yang lalu, yang jelas efek sampingnya masih terasa. Pahit. Seharusnya waktu itu langsung diimbangin dengan empat botol air bening sebagai penawarnya. Botol itu sendiri entah di mana, di tanganmu seperti dalam carik pengenang masa lalu, mungkin. Entah lah. Dan biarkan lah.

Semua terasa berlika liku. Masuk dan keluar seenaknya. Seorang pria yang selalu duduk di ruang depan kamarku selalu dengan setia dengan bacaan di tangannya, sebuah majalah mobil atau mungkin bahan penelitiannya di kampus. Pernah ia menggenggam sebuah botol, berwarna sama dengan yang pernah ditegak salah satu dari kita, tetapi hanya warna, karena dari bentuk tidak sama. Ia pernah bercerita, jam dua malam saat kami semua sedang tertawa-tawa dalam pesta, ia tidak menyukai botol yang pernah kita berdua perdebatkan. Ia mempunyai botolnya sendiri, juga gelasnya sendiri, yang namun dia pecahkan dua menit setelah kami saling bersapaan ringan.

We had always a lot inspiration, whenever we were together. Begitu juga hari ini, kita yang dahulu saling mengenal, mulai saling mengenal lagi. Tidak banyak perubahan. Pikirnya. Lalu, mulai meloncatlah kerjap-kerjap putih di atas mata tertutup. Hal itu berarti banyak hanya. Sebagian besar membuat jarum penunjuk bergeser ke kiri. Memang sudah sebetulnya terjadi seperti yang salah satu dari kita harapkan.

Untuk lebih saling mengenal, kita perlu melakukan banyak hal bersama, hast du Lust mit mir Kaffee trinken zu gehen?

Advertisements

2 thoughts on “Saling Mengenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s