Merayu

Kalau keset bisa merayumu dengan cara menunggumu di depan pintu, maka aku punya seni lain dalam melakukannya. Aku memang tidak sesabar itu untuk disandingkan dengan keset yang selalu ada kapan pun kamu butuh, walau kamu tidak menyadarinya, namun rayuan dengan gayaku ini tetap di luar kesadaran kamu.

Menulis memang sudah lama aku tekuni. Bahkan saat masih di sekolah tingkat pertama, seorang sahabat memintaku untuk menuliskan cerita tentang dia dan lawan jenis yang dia suka. Cerita fiktif belaka, karena memang kenyataan bertolak belakang dengan cerita pesanannya. Lalu delapan bulan terakhir ini aku pun mulai menulis tentang kamu, dimulai sejak telepon terakhir kamu malam itu.

Katakan, ke mana kamu akan pergi sekarang untuk tahu tentang aku? Katakan, berapa kali kamu menekan tastur untuk menanyakan kabarku setelah kamu mendaratkan diri di sini dan membaca deretan kata-kata yang aku tulis?

Kamu pernah merayuku dalam ruangan tertutup dengan ribuan pintu di sekelilingnya. Pernah juga dengan menghadirkan pijitan lembut di pundak sepulangnya kita dari kerajaan Babylonia, atau lewat gula-gula yang dilemparkan orang-orang pengisi pawai di depan rumah Ibumu, kamu ingat saat-saat itu? Kali ini, aku merayumu balik, dengan tulisan yang sedang kamu baca. Merayumu dengan barisan huruf. Selamat membaca, mudah-mudahan rayuan kali ini bisa memikatmu. Kembali.

 

“Oh tak akan ada lagi ku menunggumu di depan pintu. Dan tak ada lagi tutur manis merayumu.” 
Tulus – Sewindu

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s