FEB #4 – Peserta

Masih mau baca cerita tentang peserta ga? Setelah Jenny, Tami, Leonie, Marie, Angelina, dan Malina, masih ada enam peserta lain yang akan saya ceritain, salah satunya favorit saya: Johannes 🙂

Mulai dari temen sekamarnya Malina dulu, namanya Bella, anak perempuan berusia 8 tahun. Tubuh sangat kecil dan ringkih, duduk di kursi roda. Dia menderita beberapa macam jenis penyakit yang komplek, seperti tulang yang tidak tumbuh sempurna (terutama kaki) dan otak. Dia bisa duduk sendiri tanpa menyandar ke orang lain, tapi ga lama. Bisa jalan, kalau dibantu gendong. Kami sering membaringkan dia di tikar di taman, biar dia bisa lebih santai dari pada harus duduk di kursi roda seharian. Makan harus disuapin dengan tempo yang lumayan lama, namun makannya banyak dan lahap. Minum harus dibantu dengan sedotan. Sangat suka tersenyum, tertawa, tepuk tangan, mendengar suara dan musik. Susah sikat gigi, kalau begini biasanya kami harus nyanyi dahulu biar dia buka mulut untuk tersenyum 🙂 Dia sukaa banget narik kepala saya untuk ditaro di perutnya, saya sih suka-suka aja kalau lagi engga pake jilbab yang harus pake jarum pentul dan peniti di kepala. Saya juga ga mau bikin terluka, kan, sayangnya dia ga mengerti 😦

Pernah liat ga di komik ada adegan mata seseorang kaya bersinar bercahaya saat dia memohon sesuatu? Matanya Bella seperti itu, sangat jernih dan bersinar, lalu bergerak pelan-pelan, cantik banget! Saya suka liatin mata dia. Bella cenderung gampang capek. kadang dia hampir ketiduran saat disuapin makan siang atau malam. Karena tubuhnya kecil dan ringan, ga masalah deh mindahin dia kursi roda-kasur-kursi roda, untuk ganti popok juga mudah. Kalau tidak salah, kedua orang tuanya doktor, dari data peserta yang saya baca, keliatan sekali mereka sangat sayang ke Bella. Orangtuanya mengirimkan kami doa yang biasa mereka bacakan buat Bella sebelum tidur, dan tiap dibacakan, Bella akan tersenyum senang sekali. Saya paling sedih saat pamit dengan dia. Sebelum giliran saya pamit, kolega laki-laki pamit dengan dia, Bella duduk anteng saja di kursi rodanya dengan kepala menunduk ke bawah, saat saya yang pamit.. dia tiba-tiba mendongakkan kepalany ke arah saya, lalu bibirnya melengkung ke bawah. Waktu itu saya hampir nangis melihatnya 😥 Semoga di lain waktu bisa liburan bareng dia lagi..

Hmm kayanya semua peserta perempuan sudah saya ceritain, sekarang giliran yang laki-laki. Saya mulai saja dari Erik, anak berumur 19 tahun keturunan Afrika. Badannya besar, diperkirakan berat badannya minimal 80 kg. Kulitnya sangaaaat kering, terutama di kaki, geli deh kalo liatnya. Keringnya kering banget sampe pecah-pecah gitu 😐 Erik sangaaaaat cintaa dengan sikat/sisir rambut. Pernah dia pagi-pagi nyelonong masuk ke kamar Tami dan Jenny dan mencuri sisir Jenny, padahal sebelumnya dia mencuri sisir peserta lain dari kamar mandi, jadilah hari itu kolega pergi untuk beli tiga buah sisir khusus untuk dia. Sisir itu mainan dia banget, selalu dia bawa ke mana pun, diciumin, digigit, dijilat, dan beneran dipake nyisir rambutnya yang super pendek.

Dia tidak bisa berbicara, kecuali beberapa kalimat yang itu-itu saja, seperti:

MUSS MAL PIPI!! PIPI! PIPI WAY!

TOILETTE! TOILETTE!

FRÜÜÜHSSTÜÜCK!

ANITA! ANITA ESSEN!/ANLASSEN!/ACH LASS ES! (ga tau deh sebenernya dia ngomong apa, pokoknya kira-kira antara itu, Anita adalah judul sebuah lagu Jerman)

MIITAG(ESSEN)!

ABENDBROT!

Karena dia sering ngomong Frühstück (sarapan), Mittagessen (makan siang), dan (Abendbrot), seorang kolega bikin lagu dengan menggunakan tiga kata itu khusus buat Erik. Tiap kita nyanyi lagu itu, anteng aja tuh si Erik. Ach ja, Erik itu yang paling ribut di antara semua peserta. Sering banget teriak-teriak, saking ganggunya, dia sampe beberapa hari harus makan di luar ruang makan. Hahaha. Saking ributnya juga, Domi – teman sekamar dia kami ungsikan ke kamar lain, biar bisa tidur dengan tenang. Dia salah satu orang yang sering kabur dan merupakan eins zu eins Kadidat, kalo lagi di taman belakang sih gampang aja ngawasin dia. Biarin aja jalan sendiri, kalo udah mau keliatan kabur tinggal suruh dia berhenti dan balik. Oh ya, dia ga bisa melihat dengan jelas dan punya disorientasi yang jelek, terutama untuk tempat asing. Dia penderita hydrochepalus, gangguan mental, dan epilepsi.

Kolega ada yang pernah liburan bareng dia juga tahun lalu, dia cerita, Erik punya seorang adik berumur 15 tahun yang juga berkebutuhan khusus ;( bahkan si adik lebih parah dari dia, lebih bikin onar dan bahkan saat itu dipulangkan kembali ke rumah. Saya kira Erik sudah parah, ternyata adiknya lebih parah. Sedih dengernya, dalam keluarga ada kakak adik yang berkebutuhan khusus. Mengapa ya bisa begitu? Dia masih punya adik perempuan, kemarin saya lihat saat Erik dijemput ibunya, terlihat sehat, semoga saja. Ibunya pasti kuat sekali ya mengurus mereka 🙂

Mantan teman sekamarnya adalah Domi, dia harus pindah kamar agar terhindar dari berisiknya Erik yang kalau malam suka susah tidur dan teriak-teriak di kamar. Penderita gangguan mental, kebalikan dengan Erik, Domi adalah anak yang sangat tenang dan pendiam. Umur sama dengan Erik, 19 tahun, setinggi Erik tapi kurus. Sangat suka musik dan hapal hampir semua lagu yang kami putar, dia sering ikut nyanyi atau nari. Selalu pakai topi dan jaket, di cuaca apa pun, karena dia ga mengerti apa yang harus dia kenakan, pernah di cuaca panas sepanasnya, eh dia malah make dua jaket dan satu kaos :p Kami pernah lupa bangunin dia pagi-pagi, tiba-tiba sadar pas di meja makan dia ga ada. Bisa berkomunikasi dengan lancar, pemalu, kalau butuh apa-apa, dia akan bilang dengan suara pelan, lalu menggerutu karena tidak didengar. Menggerutu adalah salah satu hobinya, tampaknya, kalau ada yang salah (misalnya DVD macet), dia akan menggerutu dan mengumpat pelan. Yang aneh dari dia, dia suka melihat telapak tangan kirinya, lalu jari tangan kanannya menyentuhnya seakan telapak tangan kiri adalah telepon genggam. Setelah itu dia akan memasukkan tangan kirinya ke saku. Mengeluarkannya kembali, lalu menyentuhnya lagi dengan telunjuk kanan. Mungkin baginya dia sedang memegang sebuah telepon genggam, ya?

Selanjutnya ke kamar lain, ditempati oleh Morris, anak laki-laki berusia 9 tahun. Sangat hauus perhatian dan sering banget merengek pulang karena homesick. Dia paling banyak dibekelin mainan sama ortunya, tapi lebih suka nonton film kartun di iPod milik Philip yang sekamar dengan dia. Sering, atau lebih tepatnya suka ikut-ikutan anak lain. Di meja makan dia duduk di samping Leonie, pernah saat makan malam Leonie menaburkan merica di rotinya, Morris pengen juga dan menaburkan lumayan banyak. Saya dan kolega bilang untuk berhenti nambahin merica, karena dia pasti ga akan suka, dia keukeuh dan ngambek, kenyataannya.. dia ga mau nerusin makan karena kepedesan *jitak*

Ikut-ikutannya ini sering banget, makanya dia sering bilang, “Ich auch (aku juga)..” aku juga untuk setiap kasus. Bella dapet yoghurt untuk makan obat, dia akan bilang “ich auch..”. Si anu cape pengen tidur, dia akan merengek, “Ich auch..”. Meh. Sebenarnya dia sering maksud baik bantu peserta lain yang lebih kecil macam Bella, tapi jatuhnya malah kaya gangguin, karena dorong kursi roda Bella terlalu kencang. Saya jujur saya sering keuheul kalo ada dia. Kamera saya sering mau dia rebut, kalo dilarang malah ngambek. Ah pokoknya males deh, kayanya dia kebanyakan dimanja sama ortunya di rumah, jadi gede adat gitu.

Dia bisa berkomunikasi tapi ga bisa ngomong dengan lancar. Punya Talker – Talking Computer sebagai alat bantu berbicara. Sebenarnya sih saya rasa dia masih bisa bisa menyampaikan dengan baik apa yang dia mau tanpa Talker, selama liburan saja dia hanya 2-3 kali mengeluarkan Talker, itu pun lebih banyak buat main bukan beneran komunikasi. Kartu yang dipakai Angelina mirip Talker, tapi tentu saja Talker lebih modern, hanya tinggal sentuh sebuah kata bergambar, lalu di layar atas muncul tulisannya, dan dia akan berbicara juga. Praktis.

Pengguna Talker lainnya adalah Johannes, kebetulan dia juga sekamar dengn Morris, namun akan saya ceritain setelah Alex saja, tetangga kamar mereka. Philipp adalah favorit saya, dan Alex favorit kedua :p Yuk ke Alex dulu.. Tapi di postingan selanjutnya yaa.. Biar ga kepanjangan 🙂

Bis dann!

Postingan Terkait:

FEB #1 – Hallo

FEB # 2 – Apa dan Di mana

FEB #3 – Peserta

Advertisements

3 thoughts on “FEB #4 – Peserta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s