FEB #3 – Peserta

Di hari pertama itu juga saya berusaha untuk mengingat dan belajar semuanya. Saya hapalin nama dan muka para peserta. Malamnya saya baca kembali data-data mereka untuk tau apa penyakit dan kebiasaan mereka. Saya juga meraba-raba sendiri ada berapa peserta dan di mana kamar mereka. Ternyata mereka terdiri dari 12 orang peserta, dibagi dalam enam kamar. Setelah nama-nama mereka sudah tau, saya mencocokkan kembali dengan hasil rapat semalam, baru deh nyambung apa yang kolega-kolega obrolin saat itu.

Peserta terdiri dari tujuh perempuan dan lima laki-laki. Kami memiliki 4 orang eins zu eins Kandidat. Itu adalah sebutan untuk peserta yang “hobi” kabur dan butuh pengawasan khusus dari satu orang tim. Dua dari tujuh perempuan tersebut berusia 24 dan 25 tahun. Mereka adalah sumber masalah terbesar kami. Salah satu dari mereka, sebut saja Jenny, suka dengan empat kolega laki-laki kami, karena itu dia jadi haus perhatian dari kami (terutama keempat kolega tersebut dan terutama lagi salah satu dari mereka). Umur sih boleh saja sudah dewasa, tapi kelakuannya maaakkk.. mirip remaja labil! Dikit-dikit menggerutu dan emosi, kalau dilarang sesuatu dia akan teriak-teriak dan mengancam akan bunuh diri. Setiap malam kami rapat ngomongin ancaman Jenny ini, akhirnya diputuskan, kalau dia megancam sekali lagi (berarti untuk keenam kalinya), kami akan menelepon kantor pusat dan ibunya. Mungkin dia juga dia akan dijemput lalu dipulangkan, atau dibawa ke psikiter.

Tepat saja, esoknya dia mengeluarkan acaman tersebut lagi, TL langsung menelepon kantor pusat dan juga ibunya. Bos FEB dari kantor pusat datang berkunjung, ngobrol dengan dia, lalu dengan TL, diputuskan mulai esok hari kami akan kedatangan tenaga tambahan karena Jenny mulai hari itu menjadi eins zu eins Kandidatin, dengan dia maka kami punya lima orang kandidat. Jangan sampai kami kecolongan, engga tau dia di mana lalu ditemukan tewas bunuh diri. Tim kami lalu menjadi 13 orang sampai hari terakhir.

Saya pribadi juga paling engga suka dengan Jenny. Tiap dia ngomong, rasanya saya mau jedotin kepala ke tembok dan kuping mau pecah. Dia selalu bilang, “Aku ini orang dewasa, bukan anak-anak seperti peserta lain!” kenyataannya, kelakuan dia bahkan lebih anak-anak dari peserta berumur 10 tahun. Pernah di satu sore ada dua peserta diizinkan minum secangkir cola, Jenny langsung menggerutu mengapa dia ga dapat cola, padahal cola tersebut bukan dibeli dari uang jajan pribadi mereka, lalu esok harinya dia maksa minta dibeliin dan diperbolehkan minum cola setiap hari. Yuk mari ada orang dewasa kaya gitu *puke* Dia sering minta diposisikan sebagai orang dewasa, tapi sering juga minta sebagai anak-anak yang harus diperhatiin. Jenny adalah peserta yang selalu saya hindari, baik untuk ngobrol biasa atau pun bahkan untuk saya bantu mandi dan sebagainya. Untungnya, dia juga selalu ENGGA milih saya untuk bantuin dia mandi atau keperluan lain. Walau begitu, pernah sekali waktu kepaksa nemenin dia mandi, dan dia ga berhenti ngomong. Ngomong ya, bukan komunikasi, karena dia ga dengerin apa yang saya omongin. Di akhir liburan, tim kami diminta mengisi lembaran penilaian peserta, kami menyarankan agar Jenny lebih baik ikut liburan dengan orang-orang seumurannya, karena dengan peserta lain yang lebih kecil dia juga ga bisa berinteraksi dengan baik.

Peserta lain yang seumuran dia bernama Tami, dia masih lebih dewasa dari Jenny. Awalnya saya ga suka dengan dia, karena dia ternyata agresif. Sebagai orang yang merasa dewasa, dia merasa ga butuh bantuan orang lain, pernah dia sewot sama saya karena saya mau bantuin dia keluar dari lift. Sejak itu saya males dekat-dekat dengan dia. Tapi lama kelamaan saya tau trik berinteraksi dengan dia, lalu jadilah saya mulai lebih nyaman komunikasi dengannya. Ternyata dia orang yang ramah kok, dan suka anak-anak, dia sering kali membantu kami mengawasi peserta. Walau begitu, ada saja saat di mana dia lagi susah dideketin, dan kalau sudah begini akan susah kami bantah omongannya, karena malah cenderung akan agresif. Liburan ini adalah liburan terakhir dia, karena dia merasa sudah ga cocok lagi.

Kesepuluh peserta lain cenderung “normal” saja, selayaknya anak-anak deh. Ada anak perempuan 10 tahun bernama Leonie yang pinter banget, sering mengajukan pertanyaan susah dan cita-citanya menjadi penemu. Bahkan dia sekarang sudah punya beberapa ide untuk mempermudah aktivitas rumah tangga. Awalnya saya kira dia anak yang bengal, seperti salah satu teman sekamarnya, namun seminggu terakhir saat mulai dekat dengannya saya tau dia anak yang penurut dan rajin. Dia suka sekali berhitung, sebagai bukti dia pintar, karena baginya menjadi pintar itu penting. Kalau jawaban hitungan dia meleset, dia akan nangis karena merasa bodoh. Tiga hari terakhir, kalau dia sedang kumat nakalnya dan ga bisa dibilangin, saya beri dia soal hitung-hitungan untuk mengalihkannya, lalu dia jadi manis lagi deh. *grin*

Teman sekamar dia adalah Marie. Gayanya sporty dan suka olahraga, tapi ga mengerti kapan dia harus berhenti. Cenderung bengal, susah diatur, bikin onar dan drama, di lain pihak dia juga sering membantu peserta lain. Banyak dari anggota tim yang sebenarnya kesal dengan tingkah laku dia, bahkan saat dia dijemput ibunya, ibunya kesal karena dia ga mau berhenti bergelayutan di lehernya. Dia sering ngecengin bahasa Jerman saya yang jelek, dan sok-sokan ngajarin saya. Di malam terakhir dia bikin permainan Mariska-Doesn’t-Exist, mengganggap saya ga ada/keliatan, karena saya suruh dia untuk tidur setelah satu ronde main Uno dengan Leonie. Saya ga terlalu dekat dengan dia. Dia cenderung hanya suka ke beberapa kolega tertentu, kalau saya bangunin dia pagi-pagi dia akan sewot dan bilang, “Cuma si itu yang bisa membuat saya turun dari kasur!”, kalau malam maunya pake pampers dengan orang tertentu. Saya sih cuek aja, bagus lah jadi saya ga banyak kerjaan :p Walau begitu dia sebenarnya anak yang manis dan sopan kok. Saya suka saja main dan nanggepin kelakukan dia.

Teman sekamar Leonie dan Marie adalah Angelina, anak perempuan berusia 8 tahun dengan tubuh kecil seperti anak 3 tahun. Kalau saya ga baca lagi data-data peserta, saya ga akan pernah sadar dia sebenarnya ga berusia sekecil tubuhnya. Penderita autis sejak kecil. Tidak bisa berbicara, hanya bergumam, untuk berkomunikasi dia menggunakan beberapa kartu bergambar. Kebanyakan sih untuk sarapan, misalnya dia ingin roti dengan Nutela, maka dia akan mengeluarkan dua kartu, satu bergambar roti, lainnya bergambar Nutela. Dia tidak menggunakan pampers, untuk ke toilet, dia akan mengeluarkan kartu bergambar itu. Sangat suka beres-beres. Hari terakhir saya kesaaal sekali dengan dia. Malam terakhir ternyata dia membongkar dua plastik baju kotor Leonie dan Marie lalu memasukkannya kembali ke lemari baju, padahal Sabtu pagi itu kami tidak punya banyak waktu untuk berkemas. Jadi lah saya yang kebagian ngurusin kamar dia harus menyortir ulang baju Leonie dan Marie lalu memasukan kembali ke plastik baju kotor mereka. Bikin tambah kerjaan kan? Kalau kami sedang main Uno, dia akan sibuk beresin kartu-kartu yang ada di meja. Kalau makan Smarties, dia akan memisahkan berdasarkan warnanya, baru memakannya sesuai grup warna. Tidak bisa baca, sebagai gantinya dia akan mengeluskan setiap lembaran buku ke mukanya, lalu tersenyum. Awalnya saya serem sama dia, dia punya mata sipit kecil dan bibir tipis yang lebar seperti Joker yang terlihat seram kalau dia tersenyum. Dia adalah salah satu eins zu eins Kandidatin.

Ada Malina, penderita Down Syndrom berumur 16 tahun yang punya lidah besar dan panjang banget dibanding dengan lidah pada umumnya. Sayangnya saya ga bisa tunjukin foto dia sebagai bukti. Bisa ngomong, namun cenderung malas. Kalau ngomong imut sekali. Suka nyanyi dan gayanya lucu. Butuh perintah jelas untuk melakukan sesuatu, dia akan membiarkan piring penuh makanan di depannya sebelum ada orang yang bilang “selamat makan” ke dia, atau akan tetap duduk di atas kasur, sebelum dia dibilangin untuk berbaring dan tidur. Sangat suka musik dan ini adalah senjata kami agar dia mau nurut, kami akan matiin musik dari radio ruang tv agar dia mau pergi mandi, lalu menyalakan kembali sebagai reward buatnya. Dia ga bisa mengukur kekuatan dirinya, jadi kalau main pukul-pukulan jatohnya mukul beneran. Cenderung malas, saat kami main air di taman, dia duduk saja di pojok dan menunggu orang lain datang membawakan pistol air buat dia. Saat pistol airnya jatuh satu meter di depannya, dia menggerutu sendiri berusaha mengambilnya tanpa mengubah posisi duduknya atau bangun, lebih berharap orang lain ambilin buat dia. Bisa jalan, namun untuk jarak jauh perlu kursi roda. Suka mengisap jempolnya sendiri, makanya saya paling males gandengan tangan sama dia.

Bersambung lagi ya.. 🙂

Cerita terkait:

Ferienbetruung – Pertama Kali

FEB #1 – Hallo

FEB #2 – Apa dan Di Mana

Advertisements

8 thoughts on “FEB #3 – Peserta

  1. zilko says:

    Hahaha, “rame” juga ya. Ada banyak peserta dan tiap-tiap peserta berbeda-beda gitu. Apalagi mereka berkebutuhan khusus, hehehe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s