Sebuah Pelukan

Aku tidak akan bertanya bagaimana kabarmu, karena kamu pasti akan bercerita tentang sibuknya kamu menyeimbangkan hari untuk kerja, praktek di sekolah dasar, dan kuliah. Lalu kamu akan bilang kita tidak bisa sering bertemu, karena keterbatasan waktu tersebut.

Untungnya, zaman sudah modern, ada teknologi yang membuat kita setiap malam masih bisa saling bertatapan lewat layar sebesar 11 inchi. Senyummu yang berangsur hilang dari ingatan bisa aku gambar lagi dan semua kembali jelas. Teknologi ini masih dipungkiri oleh anak 10 tahun yang aku temui di tempat aku bekerja, setelah ia menontonnya di sebuah film kemarin sore.

Terkadang lewat percakapan di dunia virtual itu kamu memainkan gitar, membunuh kebosanan dengan membuat melodi-melodi yang kamu pilih secara hati-hati. Aku selalu senang menjadi penonton tunggal pertunjukanmu tersebut, dan layaknya penonton yang pulang dengan puas setelah melihat konser penyanyi kesayangannya, aku pun begitu: pergi tidur dengan hati senang, setelah menikmati melodi indah dari orang yang aku sayangi.

Setiap kita berpamitan meninggalkan ruang maya itu, ada bagian diriku ingin berlari menujumu dan menghadiahkan diri sendiri sebuah pelukan darimu. Begitu juga malam ini, aku rindu sebuah pelukan seperti yang terakhir kali kita terima di stasiun kereta kota kelahiranmu.

Masih ingat dengan sebuah puisi tentang sebuah pelukan yang pernah aku hadiahkan untukmu?

Advertisements

3 thoughts on “Sebuah Pelukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s