How Close is Too Close?

Semester lalu saya kebagian  presentasi dengan tema Proxemiks untuk mata kuliah Sprache der Raum (Ruang Bahasa). Istilah ini diperkenalkan oleh antropologis bernama Edward  T. Hall pada tahun 1966. Hall menjelaskan, setiap manusia mempunyai ruang interpersonal saat berinteraksi dengan manusia lain. Ruang interpersonal atau jarak interaksi atau ruang sosial ini berbeda untuk tiap orang, namun secara umum Hall membaginya ke dalam empat bagian utama (saya ambil dari Wikipedia ya):

  • Jarak intim ketika berpelukan, berpegangan atau berbisik
    • Bentuk dekat – kurang dari 15 cm
    • Bentuk jauh – 15 sampai 45 cm
  • Jarak personal ketika berinteraksi antar teman akrab
    • Bentuk dekat – 45 sampai 75 cm
    • Bentuk jauh – 75 sampai 120 cm
  • Jarak sosial ketika bertemu dengan kenalan
    • Bentuk dekat – 1.2 sampai 2.1 m
    • Bentuk jauh – 2.1 sampai 3.6 m
  • Jarak publik ketika berhubungan dengan masyarakat
    • Bentuk dekat – 3.6 sampai 7.5 m
    • Bentuk jauh – 7.5 m lebih

Jarak-jarak tersebut secara tidak sadar kita gunakan saat bersosial. Dengan orang yang baru saja dikenal, biasanya kita akan berdiri atau duduk sekitar 1-2 meter dari mereka. Saat berkenalan juga hanya menyebut nama atau juga ditambah dengan jabat tangan.

Lalu ketika sudah akrab dan menjadi teman dekat, saat bertemu tidak lagi hanya bersalaman, namun saling rangkul atau peluk dan (mungkin) cium pipi kanan-kiri dengan cepat. Cium pipi ini lebih sering dilakukan oleh sesama perempuan, berarti ruang personal antar perempuan itu lebih dekat ketimbang antar lelaki? Ya benar, kecuali pria-pria di negara Arab (mungkin juga negara lain), mereka saling cium pipi karena faktor kebudayaan.

Sesuai namanya, jarak intim muncul kalau kita sudah sangat dekat dengan orang lain, misalnya saja keluarga atau pasangan. Dengan pasangan, kita masih saja sangat nyaman berjarak seminimal mungkin sampai bersentuhan kulit. Dengan Ibu, kita nyaman-nyaman saja diusap kepala, bagaimana kalau yang melakukannya adalah orang asing?

Nah dari sana ketahuan kan apa saja faktor yang membuat beda ruang personal seseorang? Budaya dan jenis kelamin sudah jelas ya. Faktor lainnya adalah kepribadian seseorang (introvert atau extrovert), umur, pekerjaan, situasi, dan agama.

Ada situasi tertentu yang membuat kita harus mengabaikan ruang personal, seperti berada di lift atau kendaraan umum yang harus berdesak-desakan. Kita merasa kurang nyaman karena terlalu dekat dengan orang asing. Atau karena kita dokter gigi, maka kita harus mau memegang mulut orang asing yang kita sebut dengan pasien (begitu juga sebaliknya). Itulah kira-kira yang dibicarakan oleh proxemik tentang ruang personal.

Beberapa hari lalu saat saya di jalan entah mau ke mana, saya berada dalam situasi menarik. Waktu itu saya masuk ke dalam gerbong kereta paling depan di stasiun Alsterdorf. Di dalam  gerbong ada 40 bangku. Bangkunya itu dibagi ke dalam 10 set, tiap set ada 4 bangku yang masing-masing dua bangkunya berhadap-hadapan. Bingung deh saya jelasinnya, seperti di gambar ini kira-kira:

Photo: hamburgergeschichten.wordpress.com

Saat saya masuk, ada 9 penumpang di dalamnya. Setiap set tempat duduk terisi masing-masing satu orang. Uniknya, mereka semua duduk di bangku samping jendela, kecuali satu orang pria berumur di atas 50 tahun (dia masuk bareng dengan saya, langsung menempati set kosong). Mereka juga duduk menghadap arah kereta, kecuali set samping saya, dia duduk di samping jendela namun berbalik arah kereta. Mungkin orang merasa kurang aman ya kalau duduk di pinggir, makanya mereka duduk di pojok sebagai tindakan “mengamankan diri”.

Saat saya masuk, saya adalah penumpang ke 11, karena ga ada set yang kosong lagi, saya duduk bareng dengan pria berumur 25 tahunan. Secara refleks, saya tidak duduk tepat di samping atau di depannya, namun diagonal dari dia. Berhadapan tapi bersebelahan. Saya sedang membuat jarak dengan dia, itu adalah ruang personal aman saya dengan orang asing di dalam kendaraan umum.

Hampir semua penumpang kereta itu punya sesuatu di tangannya. Ada dua orang yang asik membaca buku, satu orang bertelepon, satu orang hanya mendengarkan musik, tiga orang mendengarkan musik sambil menggunakan telepon genggam, dan tiga lainnya tidak sedang membaca buku atau menggunakan telepon genggam. Barang yang sedang mereka genggam tersebut juga menandakan ruang personal. Mereka sedang berbicara dengan sekelilingnya, bahwa mereka sedang melakukan sesuatu dan jangan diganggu. Diagonal saya juga sibuk pegang hape, sambil kepalanya ia miringkan ke arah jendela agar menjauh dari sekililing (saya).

Di stasiun berikutnya (Lattenkamp) masuk lima orang penumpang. Dua dari mereka berdiri di depan pintu (turun di stasiun berikutnya – Hudtwalckerstraße), seorang duduk diagonal dengan orang lain (seperti saya), dan dua orang lainnya memilih untuk duduk tepat berhadapan dengan penumpang lain di samping jendela. Menariknya, salah satu dari mereka yang memilih duduk berhadapan ini kelak pindah ke set kosong di Hudtwalckerstraße, karena berubah menjadi kosong sejak penumpang sebelumnya kosong.

Mungkin bagi para penumpang kereta, duduk berhadapan mempunyai jarak yang lebih lebar, karena di hadapan mereka masih ada ruang kosong sekitar setengah meter, bandingkan jika harus duduk tepat di samping penumpang lain yang mungkin hanya berjarak kurang dari 10 sentimeter. Di stasiun ketiga (Kellinghusenstrasse), ada perempuan masuk dan duduk berhadapan dengan seorang pria di samping jendela. Perempuan ini menyerongkan badannya sedikit ke arah sampingnya yang masih kosong dan sibuk melihat telepon genggam, lagi-lagi untuk mengamankan ruang personal dari sosialnya (dalam hal ini penumpang pria di depannya).

Di stasiun yang sama, bangku di samping saya diduduki oleh seorang perempuan. Bangku tepat di depan saya masih kosong, laki-laki di depan kami masih duduk sendiri. Hall juga memasukan jenis kelamin dalam salah satu faktor pembuat ruang personal. Perempuan di samping saya entah memang lebih suka duduk di samping jendela, atau merasa lebih nyaman jika mempunyai jarak beberapa sentimeter saja dengan perempuan ketimbang dengan lawan jenis.

Teman kelas saya pernah membuat percobaan kecil di dalam kereta. Saat ia masuk ke dalam kereta, ia duduk di samping penumpang (saya lupa laki-laki atau perempuan), padahal bangku lain masih banyak yang kosong. Penumpang itu langsung nengok ke arah dia dengan muka bertanya-tanya. Pernah mengalami kejadian serupa bukan? Rasanya seperti daerah kekuasaan kita ditempati orang lain ya?

Teori Proxemik ini sebenarnya berawal dari pengamatan terhadap hewan yang memiliki daerah teritorial masing-masing. Setiap hewan akan marah jika daerah teritorialnya diusik, begitu juga dengan manusia. Penumpang yang tempat duduk di sampingnya itu diduduki teman saya pasti merasa sedang dilecehkan teritorialnya. Mengerti Proxemik, selain membuat kita mengerti ruang personal diri sendiri, juga membuat kita lebih menghormati ruang personal orang lain.

Coba masukan kata Proxemics deh di youtube, banyak percobaan serupa untuk mengetahui ruang personal seseorang. Nah, karena sudah mengerti dikit, yuk jangan sampai kita mencedarai ruang personal orang lain. Lalu, bagi kalian sedekat apakah terlalu dekat? How close is too close?

Advertisements

18 thoughts on “How Close is Too Close?

  1. mamayara says:

    bener tuh… ternyata bisa jadi kajian ilmiah juga ya.. 🙄 🙂
    saya pernah di sebuah resto seorang pria langsung duduk disamping saya, (teman dari teman saya), sayanya yang langsung pindah.. betul-betul nggak nyaman… abis bukannya duduk di samping teman saya gitu..

    teman saya bilang si pria tersinggung, tapi mau gimana lagi ??

    • mariskaajeng says:

      wah menarik, kejadian serupa (bertempat di restauran) juga ada loh video percobaannya di youtube. Kalo aja semua orang mengerti, pasti dia ga akan tersinggung, justru seharusnya malah ga enak karena sudah ganggu kenyamanan orang lain 🙂

      Makasih ya sudah baca 🙂

  2. Fascha says:

    Wuah kamu teliti sekali ama keadaan sekitar , tapi disini juga hampir sama, kecuali mereka naik kereta serombongan, palingan duduk empat bangku (dua bangku berhadapan gitu) dimonopoli sendiri, tas ato barang- barangnya diletakkan di bangku bukannya di bawah. Tapi kalo ada yang mau duduk sih gak sampe ngeliat orangnya gitu juga sih, tapi lebih ke cueeeek!

    • mariskaajeng says:

      haha iya jadi merhatiin sekitar gara2 kuliah ini. nah tas ditaro di samping di bangku yang kosong itu juga sebagai penanda teritorial Cha dan pembuat jarak personal, cuma ya namanya juga di tempat umum, kalau ada orang mau duduk ya harus ngasih 🙂

      • Fascha says:

        betul sekali, malah beberapa hari kemarin duduk berhadapan ama cewek, cewek itu langsung aja nangkringin kakinya di bangku sebelahku, pas ada org mau duduk dia sih langsung turunin kakinya ya, tapi orang yang mau duduk itu pergi lagi gak jadi duduk sambil pasang muka masam ke cewek itu 😛

      • Fascha says:

        ya sebetulnya ada sih stiker gak boleh naikkin kaki gitu, tapi namanya orang, petugas kan juga gak mobile tiap saat 😦

  3. zilko says:

    Setujuu!! Aku pernah ikut satu seminar kecil mengenai ini. Memang setiap orang, berdasarkan latar belakang budayanya, memiliki jarak personal masing-masing.

    Kadang ada kasus ketika baru ketemu satu orang (belum kenal sebelumnya), salah satu first impression-nya, rasanya, juga ditentukan oleh apakah si orang baru ini “melanggar” jarak interaksinya. Jika iya, biasanya jadi ada impresi negatif dan kurang senang gitu, hahaha. Misalnya si A nyaman untuk berjarak 1 meter dengan orang yg baru ia kenal. Tetapi B, yg baru ia kenal, berinteraksi dengan jarak 60 cm. Alhasil si A jadi merasa kurang suka dengan si B, hahaha 😆 .

  4. kayka says:

    pernah mengalami sendiri naik bis penumpangnya gak sampai jari sebelah tangan kog penumpang yg baru naik ini malah duduk disebelah saya. bener2 gak nyaman krn saya suka memilih duduk didekat jendela. ada rasa dikurung atau terkurung kurleb begitu.

    salam kenal 🙂
    /kayka

  5. hasian cinduth says:

    ketika bertemu orang2 baru/asing, secara ga sadar aku juga memberikan jarak terhadap orang tersebut…dan kalau seseorang yang tidak aku sukai duduk sangat dekat denganku, aku langsung refleks menjauh… hehehe. Tapi aku ga pernah tau ternyata ini sudah diteliti juga ya. Nice share kak mariska 🙂

  6. Ani says:

    qiqi…kalau orang bule diliatin aja bakal merasa diajak berantem..
    apalagi mendadak duduk disamping, udah serasa dideketin copet…haha (kecuali yg duduk cakep/artis kali..), artikel menarik. lam kenal…mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s