Punggung

Pernah di suatu malam ia mengendap datang ke tempatku tinggal. Waktu itu baru saja dilakukan perjalanan panjang bolak balik antar kota kami dengan kota di Barat yang jaraknya 5 jam dengan kereta super cepat. Aku sudah bilang untuk menyempatkan diri menungguku di stasiun, namun ia menolak. Masih banyak urusan yg harus aku selesaikan, katanya. Lalu dia menyebutkan sebuah nama perempuan. Anjing kesayangan perlu dibawa jalan-jalan dulu, baru aku bisa pergi, jelasnya kemudian. Belakangan berceritalah ia, anjing berbulu hitam menduduki posisi paling penting dalam hidupnya.

Semua berlangsung terlalu cepat saat itu, sampai aku tidak merasa waktu banyak terpakai, walau kenyataan sebaliknya. Die Zeit vergeht doch schell, wie man immer sagt. Sebuah pelukan terlepas dengan lambat di antara janji yang runtuh semenjak ia selesai menulis undangan untuk dirinya sendiri.

Mata cokelat muda itu menghilang, di pinggir gelap yang semakin jatuh. Meninggalkan ingatan akan punggungnya, yang kelak selalu aku lihat dari balik jendela.

Advertisements

2 thoughts on “Punggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s