Seberapa Besar Kamu Mencintaiku?

Bagaimana kabarmu?

Setelah pertemuan di stasiun kereta, kita semakin sering bertanya kalimat itu. Kita semakin sering membuat janji untuk bertemu. Tidak lagi di sana, namun di stasiun lain yang lebih dekat dari tempatmu. Dan lebih kecil. Walau begitu, di stasiun terbesar itu kita juga beberapa membuat janji bertemu, jika kebetulan aku datang dari luar kota.

Aku sangat menyukai kereta-kereta di tempatmu. Sungguh berbeda dengan yang ada di tempatku. Lebih nyaman dan bersih. Lebih aman dan terjamin. Aku bisa tahu kapan bisa berjumpa dengamu, dari jadwal kereta yang bisa penggunanya intip di internet. Pernah kamu tiba-tiba masuk ke dalam gerbong kereta tempat aku berada, karena malam sebelumnya diam-diam menyocokkan jadwal denganku.

Menggunakan mobil selalu saja tidak tepat jadwal. Hanya bisa dikira-kira, sehingga pernah aku harus menumpang kereta sendirian menuju tempatmu, karena kamu kira aku akan tiba sejam setelahnya. Semua bisa saja terjadi, dalam ketidakpastian ini.

Seberapa besar kamu mencintai aku? Di dalam kereta di lain waktu aku pernah bertanya. Sambil meletakan kepala di bahumu yang jangkung. Sepanjang jalan dari ujung tertimur sampai ujung barat kamu tidak sedikit pun menghadirkan jawaban. Sampai sekarang. Saat tidak lagi ada kata “kita” menggantikan aku dan kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s