Love at The First Sight

Aku melihatmu dari dalam kereta yang baru memasuki stasiun. Dari dalam sana, kamu terlihat berdiri di samping lajur kereta. Di dekat bangku. Mungkin sebelumnya kamu duduk di atasnya, lalu berdiri kala kereta mulai tampak. Aku melihat matamu bertumpu pada mataku kurang dari sedetik, seiring dengan kereta yang melambat.

Di sanalah pertama kalinya aku melihatmu. Tanpa batas. Melihat mata birumu, yang kamu banggakan menjadi identitas di ruang chatting. Kita saling tersenyum, mungkin dalam hati berbisik, “Akhirnya aku bertemu denganmu.”

Matamu tak henti menuju mataku. Sengaja kamu memalingkan tubuhmu dari depan, untuk puas-puasnya mencari tahu warna mataku. “Cokelat tua,” apa kamu mendengar jawabku dalam hati?

Unsere erste Begegnung auf dem Hauptbahnhof. Sampai saat ini, stasiun kereta itu masih aku beri senyum. Aku masih melihat tangga elektronik dengan malu-malu, seakan kamu masih di depanku.

That day I knew something, it was love at the first sight. 

Advertisements

11 thoughts on “Love at The First Sight

  1. Kharis says:

    Masih Di Hamburg Ajeng? Ya samperin sajo, dari pada kebawa mimpi terus. dan belum tentu besok bisa menatap sedekat itu. Yakin cinta pandangan pertama?

    #nice_to know_you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s