Bahasa Isyarat

Seperti janji postingan sebelumnya, kali ini saya mau coba cerita sedikit tentang bahasa isyarat. Semester ini kampus menyelenggarakan kuliah umum berjudul Language in the World, dalam pertemuan kedua membahas tentang bahasa isyarat dihubungkan dengan linguistik. Jangan pusing ya kalau di tulisan ini banyak istilah linguistik. Oh iya, kuliah umum ini bisa ikutin oleh mahasiswa jurusan mana pun di Uni Hamburg.

Setahun lalu saya pernah dapat seminar sehari tentang Deutsch Gebärdensprache (DGS) atau German Sign Language, pemberi seminar adalah dua mahasiswa institut DGS dari Universitas Hamburg, kami diajarin cara menggunakan DGS. Mereka juga menjelaskan, struktur bahasa Jerman akan berubah jika diterjemahkan ke dalam DSG, misalkan “aku tinggal di Hamburg” menjadi “Aku Hamburg tinggal” (dalam Bahasa Jerman penggunaan predikat/verba selalu di tempat kedua), dalam kata lain: DGS tidak mengenal sintaksis (bidang linguistik yang mengurusi susunan kata dalam kalimat. Misalkan dalam Bahasa Indonesia Subjek Predikat Objek (SPO)-).

Pemberi kuliah kemarin adalah Profesor Rathmann dari institut DGS Universitas Hamburg. Di depan kelas, dia ga berbicara sepatah kata pun, namun memeragakan DGS selama 1,5 jam penuh. Di depannya duduk dua orang yang bergantian menerjemahkan gerakan dia. Awalnya saya mengira si profesor hanya ingin memeragakan saja, namun saat sesi tanya-jawab berlangsung, penerjemah juga harus menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan mahasiswa ke dalam DGS. Menurut Wikipedia, Beliau adalah profesor tunarungu pertama di Jerman. Hebat ya?

Profesor Rathmann membagi kuliahnya ke dalam lima bagian, bagian pertama penjelaskan sedikit tentang sejarah bahasa isyarat. Pencetus pertamanya adalah seorang linguis Amerika bernama Stokoe pada tahun 1960, tahun 1970 diterbitkan untuk pertama kali kamus bahasa isyarat. Yang kita omongin ini adalah American Sign Language (ASL) ya, sama seperti bahasa suara, bahasa isyarat di tiap negara juga berbeda-beda.

Setelah ASL, mulailah dikembangkan SL di daerah lain, tahun 1980an bahasa isyarat masuk ke Eropa. Di Jerman sendiri, dikembangkan pertamakalinya di Universitas Hamburg dengan didirakannya Zentrum für Deutsche Gebärdensprache und Kommunikation Gehörloser (Center of DGS and Communication for The Deaf) pada tahun 1987 oleh Prillwitz, tahun 1993 ditetapkan menjadi institut di bawah jurusan linguistik. Sampai sekarang di sana masih dikumpulkan korpus (language database) untuk kelak dibuat kamus elektronik bahasa isyarat, juga untuk kepentingan penelitian lain.

Bahasan kedua adalah fonologi atau satuan terkecil dalam bahasa suara, sedangkan untuk tulisan disebut morfem. Menurut Prof. Rathmann, ada empat parameter dalam SL:

1. Bentuk tangan

2. Orientasi

3. Lokasi

4. Gerakan

Ga harus semuanya parameter ada di dalam kata dalam bahasa isyarat kok, contoh dari parameter minimal adalah untuk dua kata berbeda mempunyai nomer 1 sampai 3 sama, namun gerakannya berbeda.

Dalam kehidupan sehari-hari, pernah ga kita salah ngomong untuk kata yang mirip? Hal seperti itu mungkin juga terjadi dalam penggunaan bahasa isyarat contohnya saat penggunaannya lupa mengubah atau salah memakai salah satu dari empat parameter di atas. Kalau sudah begini, makna dari kata dalam SL akan berubah, atau bisa jadi jadi ga bermakna.

Kalau tertarik, silahkan baca SLIPA: An IPA for Sign Language. Untuk fonetik bahasa suara: (IPA: International Phonetic Alphabet).

Bahasan Ketiga adalah tentang arbitrarity. Perhatikan bentuk ASL untuk kata kerja menangis di bawah ini:

Perhatikan juga foto di bawah ini bentuk DGS untuk ayah (Vater) dan ibu (Mutter).

Gambar DGS menangis mirip gak seperti air mata turun kalau kita sedang menangis? Ini disebut dengan ikonik, bahasa isyarat diambil dari peniruan objeknya. Sedangkan pada foto DGS ayah  dan ibu bukan merupakan ikonik dari ayah maupun ibu. Tidak mewakili keduanya, bukan? Jadi, bahasa isyarat bukan berarti gerakan tangan selalu bersifat sama dan mewakili objeknya, namun bisa saja mempunya gerakan yang sama sekali berbeda.

Yang menarik, ikonik ini berlalu untuk mereka yang sudah mempunyai pengalaman sebelumnya dengan objek tersebut. Tau ga bentuk ASL untuk susu? Kalau menebak: gerakan tangan seperti memeras susu sapi. Iya benar! Bagi kita itu ikonik ya, dengan melihat bentuk dan gerakan tangannya saja kita sudah mengerti. Namun tidak bagi anak-anak yang belum pernah melihat proses pemerasan susu sapi sebelumnya, mereka tau makna dari gerakan itu karena melihat orangtuanya, di sinilah proses penyerapan bahasa isyarat terjadi.

Seperti sudah disebut sebelumnya, bahasa isyarat di tiap negara atau bahasa suara berbeda. Pengguna ASL tidak mengerti DGS atau BSL, namun kalau dia pergi ke India, tahu bahwa wanita di sana menggunakan tindik di hidung, maka dia tidak akan kesulitan untuk menerjemahkan wanita dalam Indian Sign Language.

Jadi, bahasa isyarat bisa berbentuk seperti apa saja, tidak selalu harus mirip atau mewakili objeknya, tiap negara atau daerah juga sah saja mau berbeda atau sama. Bahasa isyarat merupakan gerakan (gesture) yang dikonvesionalkan, awalnya memang merupakan ikonik tinggi, namun melalu proses konvensi ini bisa saja berubah.

Bahasan keempat dan kelima adalah morfologi dan proyek. Sayangnya tentang morfologi saya tidak terlalu memperhatikan, catatan yang saya tulis juga tidak memuaskan, jadi ga bisa saya ceritakan. Sedangkan untuk bahaan kelima adalah proyek-proyek yang sedang dikerjakan institut DSG di kampus, salah satunya (seperti disebut sebelumnya) membuat kamus elektronik untuk bahasa isyarat.

Profesor Rathmann kemarin berhasil menyihir hampir 150 mahasiswa yang hadir di kelasnya. Semua dengan khidmat menyimak kuliahnya, ga ada yang kedengeran ngobrol. Buat kami yang belom pernah mengenal bahasa isyarat, ini memang merupakan materi yang sangat menarik sekali, terlihat juga dari antusiasme banyaknya mahasiswa yang nanya. Baru kali ini saya melihat kuliah umum seperti itu, bahkan di luar kelas pun masih ada yang ngobrolin. Tampaknya semua benar-benar pulang membawa wawasan baru.

Oh iya, di kampus kami ramah sekali dengan mahasiswa berkebutuhan khusus. Bahkan mereka yang pendengarannya kurang bisa kuliah bareng bersama kami di kelas dengan membawa dua orang penerjemah bahasa isyarat. Jeleknya bagi kami, kadang memperhatikan penerjemah lebih seru dibanding materi kuliahnya. Hihihi 😛

***

Sambil menulis postingan ini saya googling ketersediaan kamus on-line atau penjelasan dan peragaan bahasa isyarat bahasa Indonesia, hasilnya mengecewakan. Saya ga nemu. Bahkan bahsa isyarat India pun ada website nya dan dia cantik sekali dengan video pemeraga di tengahnya. Iri. Banget.

Sebenarnya saya sudah pernah terpikir untuk belajar DGS, setelah kuliah umum ini jadi semakin pengen belajar. Sejujurnya pengen belajar hanya karena kelak saat saya punya anak, saya ajarkan bahasa isyarat sedini mungkin agar bisa berkomunikasi lebih cepat dengan dia sebelum dia bisa lancar berbicara, namun melihat kenyataan kurangnya ini itu tentang bahasa isyarat Indonesia, saya jadi tergelitik juga untuk memajukannya. Memang sih bahasa isyarat Indonesia diadaptasikan dari ASL, tapi pasti ada ilmu linguistik dari DGS yang kelak bisa saya terapkan untuk memajukannya.

Pfuah! Sekarang sih berapi-api ya, lihat aja nanti apa saya masih tetap di jalan ini apa terus lupa. Semoga terus ya 🙂

Selamat hari senin teman-teman, semoga jadi awal minggu yang menyenangkan! Adios amigos!

Advertisements

9 thoughts on “Bahasa Isyarat

  1. Farah D. R says:

    Kajian bahasa isyarat Indonesia sudah banyak dilakukan. Bahkan banyak mengambil studi di Hongkong untuk mempelajari bahasa isyarat. Memang belum ada publikasi resmi dari bahasa isyarat Indonesia, tetapi kajiannya sudah banyak dilakukan bahkan dipelajari di universitas, salah satunya di Universitas Indonesia dan tentunya peminatnya banyak sekali. Bahasa isyarat Indonesia juga banyak ragamnya, tidak hanya berpatok pada satu bahasa isyarat, seperti bahasa isyarat Yogyakarta yang tidak persis sama dengan bahasa isyarat Jakarta. Mungkin Mbak bisa usul ke pusat bahasa di Indonesia agar dibuatkan website yang Mbak maksud. Lagipula menyebarluaskan bahasa isyarat di Indonesia biasanya dilakukan dengan interaksi antarkomunitas. Oleh karena itu, Indonesia tidak ketinggalan dengan bangsa lain, termasuk dalam penggunaan bahasa isyarat untuk tunarungu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s