Selamat Berlibur

Lagi-lagi aku mendengar kabarmu, kali ini tanpa sengaja dan direncanakan. Aku masih duduk di sebuah bangku di ruang penuh buku, menatap samping jendela yang pemandangannya putih semua karena salju. Di ujung sana refleksi orang terlihat, mukanya sama kusutnya denganku. Di atas mejanya tergeletak barang yang sama denganku. Kami sama-sama menghabiskan liburan di tempat yang sama.

Berbeda dengan engkau. Liburan adalah berlibur. Mengangkat ransel besar dan membawanya ke mana-mana, seperti tahun-tahun ganjil yang telah lewat. Seorang sahabat iseng bertanya, dari mana kamu kumpulkan emas untuk kelak ditukar dengan roti? Sebentar, manakah yang lebih penting, sebantal roti renyah untuk menghangatkan pagi atau cairan kemasan yang membawamu ke hidup yang lain?

Pertanyaan terkadang tidak bisa dengan mudah ditemukan jawabannya, begitu juga dengan yang kamu miliki. Bertanya sajalah sebanyak-banyaknya sampai kamu kelak bosan, namun jangan harap pertanyaan itu bisa terjawab kalau kamu tidak mengajukannya ke orang yang tepat.

Apa yang sudah kamu lewatkan sudah berarti lewat, sama seperti sejarah. Kalau kamu merasa melewatkan sesuatu yang penting, salah sendiri mengapa membiarkannya terjadi. Semua pilihanmu, bukan aku, bukan juga ibumu yang cantik dengan perona bibir warna merah. Kamu menjilat salivamu sendiri. Salam sukses saja untuk perjalanan tahun ganjilmu itu. Selamat mengingatnya sendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s