Permainan

Aku tidak peduli menyebut nama lain saat sedang di dalam dirimu. Kita berdua tahu, tidak ada masing-masing dari kita yang sebenarnya menyelami diri untuk menetap di dalamnya. Kita hanya bermain di permukaan hati, menyapu lembut semua daerah dengan indra perasa di ujung jari jemari.

Seandainya kamu pun menyebut nama berinisial yang sama, aku tidak peduli. Permainan kita jauh lebih dangkal dibanding apa yang terjadi di antara kalian berdua. Tidak hanya itu, sangat jauh lebih dangkal dibanding apa yang aku terima berbelasan bulan lalu.

Kamu meletakan dia di atas segalanya. Ah baiklah, satu tingkat di bawah binatang kesayangan berkaki empat. Kamu tidak meletakkanku di mana pun, begitu juga sebaliknya. Sempat aku bertanya, apa yang membuat dia bertahan denganmu? Kamu bahkan tidak bisa membiarkan omongan manjadi kenyataan. Payah.

Lima huruf tersebut mungkin yang menjadi pembeda. Karena itu malam tadi semua hanya lewat begitu saja, tanpa kesan, kecuali kesadaran: memang seharusnya tidak ada yang diubah, hari ini adalah ujung gunung tertinggi yang kita berhasil taklukan.

Selamat malam. Kesendirian ternyata bisa menyenangkan. Besok malam kekasihmu datang kembali dan aku tetap menyandera waktu untuk kita sesapi saat lenggang.

***

Untuk kamu pusat segala tulisan, malam tadi aku menghadirkan kamu di pinggir temaran cahaya bulan yang belum pernah kamu kunjungi. Kamu boleh mampir untuk benar-benar menggantikan wanginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s