Tuan Don Juan

Lelaki di seberangku sedang sibuk menatap keluar jendela. Mungkin dia sedang memperhatikan salju yang dua hari ini mencair karena hujan dan membuat jalanan di kampus kami becek. Ia menopangkan kepalanya di atas kedua kepalan tangannya yang menyanggah kokoh dagunya. Bibirnya menyunggingkan sedikit senyum.

Dengan baju hangat merah itu dia tampak berbeda dibandingkan dengan fotonya yang selama ini aku lihat. Dia terlihat “biasa” saja. Jangan lupa tambahkan tanda petik, karena biasa yang dia miliki belum tentu dimiliki orang lain. Dan biasa saja maksudku karena di foto dia tampak seperti.. Apa ya.. Don Juan? Iya itu mungkin kata yang tepat. Di hadapanku kali ini, di saat pertama kalinya aku melihat dia langsung, hey.. menarik. Tidak seseram yang sebelumnya aku kira.

Sesekali dia terbatuk. Bahkan tadi sempat membersihkan hidungnya dengan tisu yang kemudian dia buang di tempat sampah dekatnya. Jangan mendekat ke sana, kalau tidak mau tertular. Ia mengubah posisi kepalanya. Kembali melongok buku bersampul hijau putih yang sedari tadi dia bolak-balik. Kali ini singgungan senyumnya hilang, berganti kerutan di dahinya. Tuan Don Juan ini mencoba keras kembali masuk ke dalam bacaannya.

Aku sungguh tidak mengenal dia, kecuali dari cerita-cerita sahabatku yang mengenalnya. Foto-foto dia pun sahabatku itu yang menunjukkan. Begitu aku melihatnya siang tadi, aku langsung tahu dia itu lah yang selama ini dimaksud sahabatku.

Sekarang aku sibuk memperhatikan dia yang sibuk membagi perhatian antara pemandangan luar jendela dan buku. Aku melupakan beberapa detik bahan presentasi yang harus aku kuasi secepatnya. Eh, tidak beberapa detik, melainkan beberapa menit.

Kamu salah jika mengira aku tertarik dengan Tuan Don Juan di depan ini. Tidak. Aku hanya tertarik untuk memperhatikan semua gerak-geriknya saja, merekamnya, lalu membayangkan ia sebagai ia yang lain. Ia yang sama dengannya, berbicara fasih bahasa aku. Mengenal tanah kelahiranku, walau mempunyai kebudayaan berbeda.

Ya ia, yang selalu menjadi topik pembicaraanku dan pusat semua tulisanku. Aku tidak akan bertanya kabarnya kali ini. Bukan karena tidak tertarik, namun karena jawaban bisa terasa seperti pukulan untukku. Mungkin ia pun sekarang sedang berada di perpustakaan di kampusnya, membaca sebuah buku tentang negara Asia Tenggara, melempar pandangan keluar jendela, sebelum kembali membiarkan pikirannya disesapi ideologi-ideologi dari penulis buku.

Selamat bulan Desember, Tuan Don Juan. Kita tidak saling mengenal, namun, semoga cepat sembuh.

 

 

Perpustakaan AAI (Asien Afrika Institute) Uni Hamburg, 10. 12. 2012

Dan selamat hampir tutup tahun untuk kamu, doamu manjur, aku bahagia tahun ini. Selamat bercerita pada angin, aku akan mendengarkannya kembali kapan-kapan.

Advertisements

2 thoughts on “Tuan Don Juan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s