Farewell Party

Genap 14 bulan sudah saya kerja sebagai social volunteer, tadi saya harus mengadakan perpisahan dengan Penghuni Kamar dan kolega. Siang tadi saya datang rapat terlambat, karena harus mengantarkan dokumen ke kantor pusat. Selesai rapat saya dikasih kado, saya pikir itu becanda saat kolega saya bilang, “Mariska, ini buat kamu. Tapi yang ini bukan, ini punya si anu.” sambil ambil satu amplop yang ukurannya lebih kecil dari yang dikasih ke saya.

Setelah dibuka, ternyata isinya album foto Penghuni Kamar. Antara pengen mewek dan ketawa liatnya. Mereka lucu-lucu bener sih.. Fotonya sih ga banyak, tapi disusun menarik. Kertasnya glossy tebel, namun hanya berisi 14 lembar. Di halaman muka terpampang jelas Kamar Pertama sedang senyum, di bawahnya tertulis, “Mischka tralala, Mischka tralala,” Itu adalah lagu yang dia bikin sendiri dan selalu dinyanyiin tiap ada saya. Iyes, dia yang tidak bisa berbicara jelas, menyebut saya dengan sebutan Mischka.

Di album foto juga ditulis kata-kata yang paling sering disebut oleh para penghuni. Misalkan di bagian Kamar Kelima, ada foto dia lagi ngurusin sampah dan foto tong sampah, di atasnya ditulis, “Nnnnneeinnn.. danke!”, karena setiap ditawarin sesuatu dia akan bilang, “Ttttiddak.. Terima kasih!”.

Sorenya kami makan kue dan minum kopi bareng di dapur. Kolega dan saya bilang kalo hari itu hari terakhir saya kerja, makanya saya bawa kue buat perpisahan. Senangnya, mereka lagi pada good mood, saat masuk dapur ternyata semua udah siap. Ada yang bikinin kopi, juga ada yang bantu nyiapin meja. Terharu.. :’)

Mereka sedih? Kolega sedih? Saya sedih? Engga juga sih. Karena mulai awal Oktober saya akan kembali kerja di sana, namun sebagai freelancer. Awalnya saya ga mau bikin perpisahan, tapi terus Nda bilang, “Terasa bedanya loh, saat lo jadi social volunteer dan freelancer. Kerasanya sama Penghuni, karena nanti kan ga dateng sering-sering. Coba deh bikin perpisahan.”

Sebenarnya pekerjaan kelak sebagai freelancer ga beda dari sebelumnya, bedanya, saya hanya akan datang kalo dipanggil dan bayarnya kelak dibayar per jam saya kerja. Bedanya lagi, seminggu saya hanya bisa kerja maksimal 20 jam dan dalam setahun hanya bisa 120 hari kerja atau 240 setengah hari kerja.

Kenapa dong saya ganti “posisi”? Karena sejak 1 Oktober status saya berganti jadi mahasiswa. Otomatis saya ga bisa lanjut jadi social volunteer. Satu-satunya cara untuk tetep kerja di sana ya jadi freelancer itu. Saya bisa loh kerja di WG atau tempat lain, baik yang satu lembaga sama yang sekarang atau beda, asalkan seperti saya bilang di atas: ga lebih dari 20 jam seminggu dan ada batas jumlah hari kerja per tahun.

Begitulah peraturan untuk mahasiswa yang bekerja sebagai freelancer, kalau lebih dari 20 jam seminggu berarti dihitungnya dia bukan mahasiswa dan penghitungan pajaknya beda. Lalu tentang jumlah hari kerja per tahun, karena saya mahasiswa yang berasal dari luar Jerman. Itu jatah saya. Kalau saya kelebihan, saya harus bayar denda 5000 euro dan dipulangkan ke negera asal dengan pengawalan dua orang dari perusahaan. Serem yes? Soal gaji juga terbatas setiap bulannya, tapi saya belom jelas betul, masih harus nanya kantor penghitungan gaji lagi.

Tanggal 3 Oktober nanti saya sudah mulai lagi kerja, saya ga akan dapet jam kerja panjang di hari kerja lagi. Itu bagiannya karyawan tetap, namun akan banyak mendapat shift sore (sampai pukul 21.30). Kemungkinan saya akan kuliah hari Selasa sampai Kamis, jadi sisanya saya bisa kerja. Kunci kantor seharusnya sudah saya balikkan hari ini, namun karena Oktober saya banyak kerjaan dan social volunteer pengganti saya baru akan mulai kerja 10 November, jadi masih saya bisa simpan sampai akhir Oktober. Password untuk penghitungan uang kas juga akan diganti di waktu yang sama, saya otomatis ga punya hak lagi untuk semua itu. Istilahnya saya sudah menjadi orang luar.

Hari ini sebenernya sedih buat saya, mungkin juga buat kolega dan Penghuni. Ga berasa banget ih udah 14 bulan saya kerja. Seharusnya saya masih kerja sampai akhir Oktober, tapi karena berubah status itu saya harus berhenti lebih cepat. Kalau tadi bener-bener perpisahan (misalnya saya harus pulang ke Indonesia), bisa dipastikan tadi saya mewek karena terlalu sedih.. :’)

Btw, bahkan di saat kontrak kerja saya sudah habis pun saya masih belom merangkumkan semua cerita tentang Penghuni Kamar.. *pecut diri sendiri*

 

Advertisements

10 thoughts on “Farewell Party

  1. zilko says:

    Yaaa, suasananya pasti mellow banget ya; walaupun masih bisa ketemu, tapi tetap aja ‘beda’, hehehe 😀

    Btw, kalau mahasiswa disana boleh kerja 20 jam per minggu ya? Disini cuma boleh maksimal 10 jam aja dong, hahaha. Kalau ngeyel trus kelebihan ya itu, bisa dideportasi.

    • mariskaajeng says:

      wot, cuma boleh 10 jam per minggu?? waduh dikit amat.. setahun boleh berapa hari kerja Ko buat mahasiswa dari luar? di sini maksimal 120 hari atau 240 half days a year.

      • zilko says:

        Kalau nggak salah sih per tahun ga ada batasnya deh, yang penting maksimal 10 jam per minggu itu nggak dilampaui; tapi pas libur musim panas (summer, jadi bulan Juni – Agustus gitu) boleh full time, hehehe 😀 Tapi ya otomatis kalo kerja gitu aturannya juga berubah sih, kayak ga boleh pake health insurance buat students (yang harganya didiskon gede) sehingga harus pake health insurance biasa, dll gitu deh, hehe… . Makanya taun lalu aku kerja part time, tapi jadi agak ribet juga ngurus asuransi ini dan lain sebagainya, huahaha 😆 .

      • mariskaajeng says:

        woooww asiknya ga ada batasan jumlah hari kerja.. iri banget. waktu selesai part time, insurance nya ganti jadi buat student lagi?

        sekarang mau kerja mikirnya banyak. ya jumlah jam per minggu (kalau lebih berarti hitungannya bukan student, dan sama juga akan ngaruh ke health insurance), jumlah penghasilan sebulan (freelancer ga boleh lebih dari 800€ per bulan), sama mikirin jam atau hari kerja sekali ambil kerjaan gara2 peraturan jumlah hari kerja selama setahun itu. ribeeeettt O.o

      • zilko says:

        Iya, soalnya begitu beres kontrak kerjanya, jadi ga bisa pakai insurance yang biasa lagi karena perusahaan insurance-nya minta bukti kontrak kerja dan working permit yang berlaku gitu. Jadi ya akun yang di perusahaan insurance biasa ini mesti ditutup, trus buka akun buat student lagi. Dan ketika baru masuk TU Delft dulu sebenarnya aku sudah bayar insurance untuk akun student selama 2 tahun (diwajibin kampus). Nah, karena kerja, akun itu aku tutup deh (biar nggak dobel, duit premi yang sudah dibayar dibalikin sih untuk masa yang dibatalkan itu). Tapi ya itu, jadi ribet deh karena setelah kontrak habis, harus buka akun student baru lagi, hahaha 😆 .

        Iya, ribet memang kalau mau part time, hehehe. Tapi kalo dipikir-pikir ya keribetan ini berbuah uang saku ekstra sih, huahaha 😆 . Walaupun di Belanda sih menurutku karena seminggu cuma boleh maksimal 10 jam doang, penghasilan ga akan lebih dari €800 deh. Tapi ya tetap lumayan sih ya, huahaha 😆 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s