Cerita Kerja: Dokter Gigi

Dari minggu lalu rekan kerja sudah minta saya pergi ke dokter gigi mengantarkan Penghuni Ke-2 yang giginya (kalo ga salah) patah. Dari beberapa hari sebelumnya dia excitebanget soal ini, nanyain melulu kapan kami akan pergi ke sana bareng. Pas hari H, dia malah main drama, “Aku ga mau ke dokter gigi! Aku mau kerja aja!”

Walau sudah dijanjikan saya akan memesan taksi untuk mengantarnya kerja setelah dari dokter gigi, tapi tetep loh dia angot-angotan. Setelah mandek akhirnya dia mau juga tuh pergi, eh baru 200 meter keluar rumah, sudah mandek lagi, maunya pergi kerja aja ga pake ke dokter gigi. Terpaksa saya harus mengancam dia berkali-kali, “Ayo jalan sekarang, atau nanti aku telepon tempat kerja kamu dan bilang kamu ga jadi pergi. Pengen di rumah aja.”

Tepat pukul 10.30 waktu sini kami sampai, pas banget sesuai janji. Setelah menunggu hampir 30 menit, namnya dipanggil juga, eh bukannya langsung ke ruangan dokter, doi malah mandek lagi, “Aku takut. Aku ga mau ke dokter gigi. Aku mau pergi kerja aja.” Untungnya di sana ga ada orang lain selain kami, jadi ga ada yang nonton, cuma karyawan di sana aja yang penasaran liat kami. Bayangin dong, perempuan berumur sekitar 45 tahun kelakuannya seperti anak berumur 9 tahun. 😆

Di ruang praktek juga kami perlu membujuk dia juga biar tenang dan mau meneruskan perawatan. Katanya takutlah, pengen kerja aja lah, ini lah, dan itu lah. Ga sampai sejam perawaran selesai, dan dia langsung nanya kapan bisa datang lagi. Lah..

Selama di dokter gigi (doi ganteng dan masih muda loh! :p), dia ga berhenti ngomong tuh soal pengen kerja, dan pengen minum kopi dan makan siang di sana. Pokoknya semuanya tentang kerja, kopi, dan makan siang. Di perjalanan pulang juga sama, bahkan dia sempet mandek juga loh berhenti di pinggir jalan dengan masih mengeluarkan pertanyaan itu. Aneh ya, bukannya buru-buru pulang biar saya bisa nelepon taksi, eh malah pake acara ngambek dulu.

Sayangnya siang tadi kami ga bisa langsung dapat taksi. Taksi langganan kami sedang mengantarkan penumpang lain dan baru datang sejam kemudian. Rasanya lega banget pas dia pergi, saya ga perlu mendengarkan lagi rengerkannya tentang pergi kerja. Btw, paginya saya sempat menelepon tempat kerja, terus mereka bilang, “Baiklah, jadi dia datang untuk makan siang, kan? Alles klar.” Meh, enaknya, kerja cuma buat makan siang bareng doang. Saya juga mau dong.

Hari ini ga tau deh dia kenapa banyak banget bikin drama, sore saat pergi minum kopi bareng juga sama aja begitu. Bulan Mei mendatang kami semua akan pergi liburan bersama ke Laut Baltik, saya dan satu kolega perempuan kebagian tinggal satu rumah dengan dia dan Penghuni Ke-3, kebayang ga sih selama seminggu penuh saya harus menghadapi dramanya dia? Doakan saya selamar, Pemirsah!

***

Oh iya, saya baru ingat soal tebak-tebakan yang pernah saya tanyain di postingan Seminar Minggu Keempat Hari Pertama. Saya dulu pernah kuliah Sastra Jerman dan juga.. penyiaran, namun itu beda loh ya dengan jurnalistik. Lebih spesifik ke media massa televisi dan radio. Jadi yang bohong adalah saya pernah kuliah jurnalistik.

Selamat untuk yang benar, hadiah permen bisa diambil di apartemen saya :p

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Kerja: Dokter Gigi

    • mariskaajeng says:

      malahan dia suka banget ke dokter gigi, Mel. kalo dia ga mau sikat gigi dan ditakutin giginya akan sakit dan harus ke dokter, malah kesenengan dia :p emang kemaren lagi banyak bikin drama aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s