Cerita Kerja: Osterferien

Sebagian besar orang pasti libur ya akhir pekan kemarin, apalagi karena Paskah. Di Indonesia biasanya libur mulai dari hari Jumat dan mulai aktifitas lagi hari Senin, sedangkan di Jerman liburnya lebih heboh lagi, mulai dari hari Jumat (Karfreitag – Good Friday) sampai hari Senin (Osternmontag – Easter Monday). Selama empat hari itu, kecuali Sabtu, toko-toko tutup, jadi pusat perbelanjaan penuh banget di hari Kamis dan Sabtu, semua siap-siap nimbun makanan di rumah.

Sebenarnya saya kebagian libur di hari Jumat dan Senin, sedangkan kolega FSJ lain Sabtu dan Minggu. Karena saya pengen minggu ini libur enam hari berturut-turut, jadi saya tukeran jadwal dengan dia. Hasilnya: saya kerja dari Sabtu sampai Senin, lalu mulai dari hari Selasa saya libur sampai hari Minggu. Asik, ya?

Sabtu di tempat kerja lumayan sepi, dari 9 penghuni hanya bersisa lima orang saja, sisanya pulang ke rumah orangtua masing-masing. Penghuni Ke-5 sudah dari beberapa hari sebelumnya bilang ke Bos kalau dia pengen tamasya naik kapal. Siang itu saya dan kolega perempuan 75% dengan dua Penghuni pergi tamasya. Pas banget nih 2:2. Yang pakai Rolli cuma satu Penghuni saja, yakni Penghuni  ke-9, jadi saya dan kolega bisa gantian dorong. Ga capai 🙂

Rute yang kami pilih sama dengan rute tamasya di cerita ini. Kami naik kapal transportasi dari Finkenwerder menuju Landungsbrücken lalu melanjutkan dengan menggunakan kapal lebih besar untuk muterin Sungai Elbe, melihat-lihat kapal kontainer.

Namun kali ini kami tidak menggunakan kapal yang sama dengan sebelumnya. Kapal yang kami naiki lebih kecil, tetapi rute perjalanannya sama dan dari perusahaan yang sama. Saat kami membeli tiket, kami diberi tiket untuk anak-anak seharga masing-masing 9 euro. Awalnya saya pikir saya dan kolega yang berasal dari Filipina ini mungkin disangka masih anak-anak oleh penjual tiket, karena badan kami yang relatif kecil, tapi kenapa Bewohner kami yang sudah bapak-bapak ini juga diberi harga yang sama ya? Ternyata setelah cerita ke Bos, harga anak-anak itu adalah harga khusus, karena kami adalah pendamping mereka yang kebutuhan khusus. Tentu saja Bewohner kami juga dapat harga khusus karena mereka berkebutuhan khusus.

Senangnya hari itu matahari masih muncul walau kadang-kadang. Sinarnya masuk pula ke dalam tepat di tempat kami duduk. Jendelanya juga lebih luaaasss jadi bisa leluasa liat pemandangan. Yang lebih menyenangkan, di kapal juga disediakan beragam roti isi ikan! Jadi saya bisa ikutan makan siang juga, ga cuma makan kue seperti yang sebelumnya.

Di Landungsbrücken juga kemarin ga ada perbaikan apa-apa, kami pun ga usah repot mendorong kursi roda naik-naik ke atas dermaga karena harus jalan memutar. Di sana Penghuni ke-5 sempat belanja, beli 2 mug buat dia dan Ibunya, juga beli barang kecil lain. Dia memang suka banget belanja kalau lagi jalan-jalan, abis deh tuh uang 20 euro langsung. Dari Finkenwerder kami berangkat sekitar pukul 12. Kami kembali lagi pukul 16, namun mampir sebentar di toko roti untuk minum kopi dan makan kue, sampai di WG kembali sebelum pukul 17.

Ohiya, kenapa dari lima Penghuni yang ada cuma dua yang ikut? Penghuni Ke-3 masih sakit, jadi dia tetap di rumah bersama Bos, apa lagi Bos memanggilkan dokter untuk dia. Penghuni Ke-6 menolak ikut dengan alasan di luar dingin. Penghuni Ke-2 ga mau ikut dengan alasan ga pengen keluar, namun saat kami pulang, dia berkali-kali nanya ke saya kenapa dia ga ikut tamsya tadi *kebiasaan deh!*

Seharusnya hari Sabtu ini kami pergi ke Neu Muster (sekitar 2 jam dengan mobil dari Hamburg) ke rumah orangtuanya Penghuni Ke-6. Beliau mengundang kami untuk makan kue dan minum kopi bareng, namun karena cuaca yang ga bagus, jadi kami terpaksa membatalkannya.

Hari Minggu siang lebih sepi lagi loh tempat kerja saya. Hanya ada tiga penghuni! Penghuni Ke-2 akhirnya Minggu siang pulang ke rumah orangtuanya dijemput taksi langganan. Penghuni Ke-5 juga pulang ke rumah ibunya yang letaknya di apartamen di atas kami. Sebenarnya yang kerja hari Minggu ada dua orang, namun Kolega Pria 75% dari rumahnya langsung pergi menjemput Penghuni Pertama di rumah orangtuanya yang jaraknya dari Hamburg juga sekitar dua jam dengan mobil.

Karena ketiga Penghuni yang di rumah berkursi roda dan yang kerja cuma dua orang, jadi kami ga bisa ke mana-mana. Seharian di rumah saja. Karena punya banyak banget apel, kami berencanan mau buat Apfelküchen, tapi ga jadi karena kami ga punya telor. Telor-telornya sudah dibuat telor rebus dan diwarnai sehari sebelumnya. Akhirnya kami membuat salat buah saja.

Saya sempat main golf di WII sama Penghuni Ke-9, itu juga ga lama karena dia bosen kayanya. Sisa waktu saya pakai leha-leha di sofa, nge-net, ngobrol sama kolega, dan ga tau deh apa lagi.

Sekitar pukul 17.30 Kolega Pria 75% datang bersama Penghuni Pertama. Baru deh rumah kaya ada kehidupan. Ada yang bikin rusuh soalnya! 😀 Pukul 19 si Kolega Pria itu sudah menyuruh saya dan Kolega lain untuk pulang karena sudah ga ada yang dikerjakan. Pulang sejam lebih cepat deh. Kami mampir dulu untuk makan di Altona 🙂

Hari Senin saya kebagian tugas jagain Penghuni Pertama, karena Kolega Pria 75% sudah kebagian giliran di hari sebelumnya. Yang menyebalkan dari jadi Betreuer dia saat liburan adalah dia ga pergi kerja dan kami harus lebih lama bersama dia dan harus berusaha untuk membuat dia ga ada di rumah selama mungkin.

Pukul 10.15 saat saya datang, dia sudah melonjak-lonjak kegirangan karena saya bilang kami akan pergi ke Altona. Jarak dari Finkenwerder ke Altona adalah sekitar 30 menit dengan bus, di sana kami akan makan siang lalu pulang, cukup lama sebagai jalan membunuh waktu, bukan?

Bus kami berangkat pukul 11 kurang 1 menit. Sampai di Bahnhof Altona sekitar pukul 11.30. Restoran Asia yang menjadi tujuan kami kira-kira buka masih 30 menit lagi, sedangkan jarak tempuh ke sana hanya 10 menit dengan jalan kaki. Lagi-lagi untuk membunuh waktu, saya ajak Penghuni Pertama untuk muter-muter dengan bilang sedang dalam perjalan ke restoran biasa tempat kami makan. Berasa jadi supir taksi deh saya, mengajak penumpang menyusuri jalan memutar yang lebih jauh padahal ada jalan singkat. 😆

Sampai di restorannya bener saja, masih kosong! Pelayannya sampai harus nanya dulu loh ke dapur sudah siap atau belum. Alhmadulillah Penghuni Pertama hari itu lagi good mood banget, doi nurut dan ga rewel. Sempet sih doi lari ke depan kasir dan dapur untuk nanya kok makannya belom jadi juga, awkward moment banget deh, semua karyawan restoran ngeliatin kami dengan aneh >_<

Setelah makan dia saya kasih reward segelas cola. Sebelumnya dia harus nunggu sekitar 10 menit dari setelah habis makan. Saya sempat merasa bersalah dengan dia hari itu. Makanan saya ga habis karena saya ga terlalu suka, lalu saya kasih dia setengah, dia yang orangnya kompulsif jelas pengen ngabisin walau udah keliatan banget kekenyangan, untungnya dia ga nolak saat saya narik piring yang masih sedikit terisi itu. Pas di rumah, dia saya kasih makan lagi, karena saya kira kegiatan rutin dia harus dilakukan, padahal menurut kolega, dia biasanya ga ngasih Penghuni Pertama makan siang lagi kalau di luar sudah makan. Huhu, maaf ya.. Setelah itu dia ga saya kasih makan lagi deh sampai waktu makan malam, biarin perutnya istirahat dulu.

Saat mendekati waktu makan malam, para Penghuni pulang di antar oleh orangtua masing-masing. Pertama yang datang adalah Penghuni Ke-8 yang diantar Ibunya. Mereka datang sekitar pukul 16.30. Dia mengeluh sakit punggung lalu diajak main Dance-dance Revolution di WII sama Kolega.

Pukul 18 datanglah Penghuni Ke-2 diantar kedua orangtuanya. Mereka langsung masuk kamar, lalu pulang setelah sekitar 30 menit di sana. Oh iya, hari Kamis sebelumnya dia ulang tahun loh, orangtua, kakak, kakak ipar, dan ketiga keponakan perempuannya datang untuk minum kopi bareng. Si Ibu membuatkan Mandarine Quark Kuchen yang enaaak banget! Mereka ramah-ramah loh, persis seperti tipikal orang-orang Eropa bawah yang salah satu Kolega saya ceritakan. Selama merayakan ulangtahunnya kami ga berhenti tertawa-tertawa. Menyenangkan deh!

Setelah Penghuni Ke-2, datanglah Penghuni ke-4 ga lama kemuadian, diantar Ibu dan Kakak laki-lakinya. Si Ibu sudah mempersiapkan beberapa potong roti dengan beragam olesan untuknya dan dengan penuh perhatian membuatkan teh hangat. Mereka lalu pulang setelahnya.

Hari itu saya sebenarnya kerja sampai pukul 20.00, namun karena bus saya datangnya pukul 19.11 dan selanjutnya pukul 20.20, saya terpaksa pulang sangat kecepatan. Kalau hari Minggu atau hari libur memang ga ada bus antar Harburg dan Finkenwerder, saya harus memutar lewat Neuwiedenthal, nah busnya itu jaraaang banget, minimal ya sejam sekali.

Satu-satunya orang yang kecewa karena saya pulang kecepetan adalah Penghuni Ke-2, karena saya sudah janji akan bantuin dia mandi kalau dia sudah pulang lagi. Saya bilang saya pengen banget bantuin dia mandi, tapi waktu ga memungkinkan, saya ga mau harus pulang telat cuma karena nunggu bus. Dia sampe ngomong sendiri karena kecewa, “Ga bisa hari ini, lain kali kalau Mariska datang lagi.” Dan sayangnya, saya baru bisa datang lagi seminggu kemudian 😦

How was your last weekend all? It was nice, or? And, happy long weekend! 😉

Advertisements

6 thoughts on “Cerita Kerja: Osterferien

  1. zilko says:

    Wuah enak bener liburannya dari Selasa sampe Minggu! huahaha 😆

    Disini juga gitu tuh long weekend Paskahnya, dari Jumat sampai Senin (Seninnya disebut Tweede Paasdag (hari Paskah kedua), haha :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s